SEMARANG — Kedai kopi Kofi Djohar membuka gerai di kawasan Pasar Johar, Semarang, sejak 7 Januari 2026. Berbeda dari kedai kopi pada umumnya yang kerap memilih lokasi strategis di pusat keramaian kota, Kofi Djohar justru menghadirkan pengalaman ngopi di tengah aktivitas pasar yang telah lama menjadi pusat perdagangan penting sejak masa Hindia Belanda.
Di Pasar Johar, pengunjung dapat merasakan suasana khas pasar dengan lalu lalang orang yang ramai, ditemani aroma seduhan kopi bergaya Hainan. Konsep ini mengacu pada teknik sangrai dan seduh yang dibawa imigran Hainan dari China ke Asia Tenggara pada awal abad ke-20, lalu berpadu dengan budaya China di Semarang yang telah mengakar.
Pemilik Kedai Kofi Djohar, Zipo Istifar, mengatakan konsep kedainya disesuaikan dengan karakter budaya pasar, kaki lima, serta kultur kopi yang ingin ditampilkan. “Roasting-nya gaya Hainan, peranakan China, sehingga segala macam konsepnya saya sesuaikan sama treatment-nya. Benar-benar budaya yang menggambarkan pasar dan kaki lima serta kultur kopinya,” ujarnya saat diwawancarai pada Jumat (23/1/2026).
Zipo, yang berusia 35 tahun, menuturkan gagasan membuka kedai di pasar tidak semata-mata berangkat dari pertimbangan bisnis. Ia ingin menghadirkan ruang obrolan dan kebiasaan ngopi sebagai upaya kecil membangkitkan tradisi pasar yang menurutnya mulai ditinggalkan. “Memang plan saya itu ingin buka di pasar-pasar. Pasar ini kan udah dilupain orang. Mungkin dianggap konservatif, dan hanya sebagai tempat perdagangan, kami punya nilai lain melihat pasar ini. Satu poinnya juga, siapa tahu bisa membangkitkan pasar yang sudah mati,” katanya.
Menyesuaikan operasional Pasar Johar, Kofi Djohar buka setiap hari pukul 07.00 hingga 17.00. Jam buka ini berbeda dari banyak coffee shop yang umumnya beroperasi hingga malam.
Dari sisi menu, Kofi Djohar menawarkan kopi khas Hainan seperti Kopi O biasa dan Kopi O Butter, serta Kopi Susu Klasik. Selain itu tersedia milk tea dan kudapan toast rasa srikaya. Zipo menyebut menu andalan kedainya adalah kopi hitam Kopi O dan Kopi Susu Klasik, namun ia melihat selera pengunjung cenderung mengarah pada varian Kopi Susu Klasik yang butter. “Kami memiliki menu signature-nya kopi hitam yaitu Kopi O, dan Kopi Susu Klasik, namun semenjak buka warga Semarang ternyata lebih suka Kopi Susu Klasik yang Butter,” ujarnya.
Menurut Zipo, dalam dua pekan pertama sejak dibuka, respons warga Semarang terbilang positif. Ia menyebut rata-rata penjualan mencapai lebih dari 150 cup per hari. Di sisi lain, ia menilai tren ngopi yang masif di media sosial turut memengaruhi ketertarikan pengunjung, meski kedainya tetap berfokus membangun identitas dan pengalaman ngopi di lingkungan pasar.

