Survei: Wisata Kuliner Masuk Tiga Besar Aktivitas Favorit Saat Libur Nataru

Survei: Wisata Kuliner Masuk Tiga Besar Aktivitas Favorit Saat Libur Nataru

Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) kerap dimanfaatkan masyarakat untuk beragam aktivitas hiburan. Selain berwisata ke alam, wisata kuliner juga menjadi pilihan banyak orang ketika berkunjung ke berbagai daerah.

Dalam survei Travel Trends yang dilakukan Jakpat, wisata kuliner menempati tiga besar aktivitas favorit masyarakat saat menghabiskan libur Nataru 2023. Temuan serupa juga muncul dalam survei Vakansi Akhir Tahun 2022 yang dibuat DataIndonesia.id, yang menempatkan wisata kuliner dalam tiga besar aktivitas paling banyak dilakukan pada libur Nataru 2023.

Kunjungan restoran diperkirakan meningkat

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Eddy Sutanto mengatakan, setiap periode libur Nataru, restoran dan kafe umumnya mengalami kenaikan jumlah kunjungan. Lonjakan tersebut terutama dirasakan oleh tempat makan yang menawarkan pengalaman bersantap berbeda.

Menurut Eddy, tren kenaikan kunjungan saat libur Nataru dapat mencapai sekitar 10% hingga 20% dibanding hari biasa. Ia berharap periode libur akhir tahun menjadi momentum perbaikan bagi industri restoran dan kafe, yang dinilainya belum pulih sepenuhnya meski kebijakan mobilitas masyarakat telah dilonggarkan.

“Mudah-mudahan ini jadi momen perbaikan. Ada beberapa restoran yang sejak weekend lalu sudah mulai ramai. Harapannya, saat libur Nataru kenaikannya mencapai 10 persen-20 persen,” ujar Eddy kepada Hypeabis.id beberapa waktu lalu.

Konsumen lebih selektif

Meski jumlah kunjungan secara umum diperkirakan naik, Eddy menilai konsumen cenderung lebih selektif dalam memilih restoran. Masyarakat disebut lebih memilih tempat makan dengan branding kuat dan nama yang sudah dikenal, yang kerap dijadikan patokan kualitas makanan, terutama pada momen spesial seperti akhir tahun.

Eddy juga menyinggung upaya sebagian restoran menawarkan menu baru untuk menarik perhatian. Namun, strategi ini dinilai membutuhkan usaha dan promosi lebih kuat karena konsumen belum tentu ingin mencoba hal baru pada momen tertentu. Dibanding mengambil risiko dengan menu baru, sebagian orang cenderung memilih menu yang sudah dikenal dan dianggap aman dari sisi rasa.

Musik sebagai penambah daya tarik

Selain menu, suasana juga menjadi faktor yang dapat memengaruhi keputusan berkunjung. Eddy menilai musik bisa membantu meningkatkan daya tarik restoran. Namun, ia menekankan bahwa musik yang dihadirkan perlu memiliki nilai tambah, misalnya berasal dari musisi ternama. Jika sekadar ada, musik dinilai hanya menjadi pelengkap suasana dan tidak terlalu berdampak pada kenaikan kunjungan.

Tantangan pemulihan industri

Di tengah pelonggaran mobilitas, Eddy menilai bisnis restoran belum pulih sepenuhnya. Ia mengatakan, pada November lalu masih banyak restoran dan kafe yang kesulitan mendatangkan konsumen, dan kondisi tersebut terjadi di berbagai segmen, mulai dari kelas bawah, menengah, hingga atas.

Ia menilai faktor ekonomi dan daya beli masyarakat menjadi tantangan utama, terlebih dengan kekhawatiran publik terhadap kemungkinan resesi pada tahun berikutnya yang mendorong orang lebih berhati-hati membelanjakan uang.

Di sisi lain, pelonggaran mobilitas disebut menjadi “pisau bermata dua”. Masyarakat memang lebih leluasa beraktivitas, tetapi sebagian juga memanfaatkannya untuk bepergian ke luar negeri, termasuk saat libur Nataru.

Selain itu, Eddy melihat adanya pergeseran kebiasaan, di mana sebagian orang lebih memilih memasak di rumah. Ia menilai kemudahan akses informasi, termasuk dari platform seperti YouTube, turut membuat aktivitas memasak menjadi lebih mudah dilakukan.

“Mungkin bukan tidak beli (di restoran, Red), tetapi mereka punya kebiasaan baru untuk lebih memilih memasak di rumah. Ada shifting ke arah situ. Sebab, sudah ada YouTube dll yang membuat semuanya lebih mudah,” ujarnya.

Meski demikian, Eddy menyatakan tetap optimistis industri restoran akan bertahan dan bertumbuh. Menurutnya, pengalaman makan di restoran berbeda dengan makan di rumah, termasuk dari sisi suasana, fasilitas, dan pengalaman yang tidak selalu bisa didapat ketika bersantap di rumah atau melalui pembelian online.