Delapan Langkah Membuat Bisnis Restoran Lebih Ramah Lingkungan

Delapan Langkah Membuat Bisnis Restoran Lebih Ramah Lingkungan

Bisnis restoran menjadi salah satu sektor usaha yang mudah ditemui di berbagai daerah. Namun, sektor ini juga disebut sebagai salah satu penyumbang sampah plastik terbesar di Indonesia, terutama dari berbagai kemasan dan perlengkapan sekali pakai.

Founder Loka Padang, Irene Umar, menyebut 1 dari 7 sampah plastik yang tertimbun merupakan kemasan saus sachet yang banyak digunakan industri makanan cepat saji. Selain itu, sampah plastik dari restoran juga dapat berasal dari sedotan, pembungkus makanan, dan berbagai jenis kemasan lainnya.

Sejumlah langkah sederhana dapat dilakukan pelaku usaha untuk mengurangi dampak lingkungan dari operasional restoran. Berikut delapan langkah yang dapat diterapkan.

1. Mengurangi pemakaian air

Restoran membutuhkan air untuk berbagai aktivitas, mulai dari kamar mandi hingga mencuci peralatan makan. Salah satu cara menghemat air adalah menggunakan selang atau keran bertekanan rendah di area pencucian piring agar konsumsi air berkurang.

Penggunaan toilet hemat air juga dapat membantu mengurangi pemakaian air setiap kali flush. Selain itu, penyediaan air putih untuk pelanggan dapat diberikan hanya saat diminta untuk mengurangi air minum yang terbuang.

Dalam contoh yang disebutkan, The Balances MB, B.R. Guest Restaurant di New York, Amerika Serikat, diklaim menghemat lima juta galon air dengan memasang alat pembatas penggunaan air.

2. Mengatur penggunaan bahan makanan

Pembelian bahan makanan setiap hari berpotensi meningkatkan jejak karbon karena membutuhkan pengantaran atau mobilitas kendaraan yang lebih sering. Dua pendekatan yang dapat dipertimbangkan adalah beralih ke bahan makanan lokal dan melakukan pembelian dalam jumlah lebih besar.

3. Membeli bahan makanan lokal

Penggunaan bahan makanan dari pemasok yang lebih dekat dapat memperpendek jarak tempuh distribusi sehingga emisi dari transportasi berkurang. Alternatif lain adalah menanam sebagian bahan makanan sendiri.

Jika tidak memiliki lahan, kebun dapat dibuat di rooftop. Sisa makanan dari restoran juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk kompos.

4. Melakukan pembelian dalam jumlah banyak

Pembelian bahan makanan dalam jumlah besar dapat mengurangi frekuensi pengiriman harian, yang dinilai berdampak lebih baik bagi lingkungan. Untuk mengelola stok, metode first in first out dapat digunakan, yaitu memakai bahan yang lebih dahulu masuk ke kulkas atau freezer sebelum menggunakan stok yang baru.

5. Menggunakan alat makan yang lebih ramah lingkungan

Sedotan plastik dan tisu merupakan dua barang yang umum digunakan di restoran. Salah satu langkah yang disarankan adalah tidak langsung memberikan sedotan dan tisu kepada pelanggan, kecuali jika diminta.

Jika sedotan dibutuhkan, restoran dapat menyediakan sedotan yang dapat dicuci dan digunakan kembali, misalnya berbahan keramik atau aluminium. Untuk tisu, dapat diganti dengan lap yang bisa dicuci, termasuk di area toilet, dengan memastikan ketersediaan lap bersih secara berkala.

Jika penggunaan alat makan sekali pakai tidak dapat dihindari, pilihan lain adalah memakai bahan yang lebih ramah lingkungan seperti biodegradable atau compostable, yang disebut umumnya terbuat dari bambu atau plastik jagung.

6. Mengoptimalkan interior restoran

Penggunaan pendingin ruangan (AC) sepanjang hari dapat meningkatkan konsumsi listrik dan biaya operasional. Penataan interior dapat membantu mengurangi ketergantungan pada AC, misalnya dengan memasang jendela lebar agar sirkulasi udara alami lebih optimal.

7. Memanfaatkan software untuk mengurangi penggunaan kertas

Operasional restoran kerap menggunakan sumber daya sekali pakai, termasuk kertas untuk menu dan struk. Untuk mengurangi penggunaan kertas, restoran dapat memakai e-menu dan mengirim struk melalui email atau WhatsApp.

Selain mengurangi limbah kertas, penggunaan software juga disebut dapat membantu proses operasional harian.

8. Menggunakan peralatan hemat energi

Restoran umumnya mengandalkan banyak perangkat elektronik. Penggantian perangkat lama dengan peralatan hemat energi dapat menjadi salah satu langkah penghematan listrik, yang dalam artikel disebut biasanya ditandai label “Energy Star”.

  • Menggunakan bohlam hemat energi seperti LED, halogen, dan CFL.
  • Memakai lampu sensor gerak di kamar mandi agar lampu tidak menyala terus-menerus.
  • Rutin membersihkan kondensor kulkas karena debu yang menumpuk membuat kulkas bekerja lebih keras dan meningkatkan konsumsi listrik.

Artikel tersebut juga menekankan bahwa keputusan pelanggan tidak hanya dipengaruhi harga dan kualitas, tetapi juga tujuan serta nilai sebuah brand. Seiring meningkatnya kesadaran lingkungan, pelaku UMKM dinilai perlu menyesuaikan langkah operasional agar lebih selaras dengan prinsip ramah lingkungan.

Mewujudkan restoran yang lebih ramah lingkungan disebut menantang, tetapi dapat dimulai dari perubahan sederhana dalam penggunaan air, energi, bahan makanan, hingga pengurangan produk sekali pakai.