Isu yang Membuat Benhil Kembali Jadi Perbincangan
Ramadhan di Jakarta punya banyak penanda, tetapi Benhil adalah salah satu yang paling mudah memantik rasa ingin tahu.
Nama kawasan ini kembali naik di Google Trend karena satu hal sederhana namun kuat: keramaian berburu takjil yang berulang, setia, dan selalu terasa baru.
Di Bendungan Hilir, Tanah Abang, menjelang berbuka, jalan dan gang permukiman berubah menjadi arus manusia yang mencari rasa, harga, dan momen.
Tradisi “war takjil” di Benhil bukan sekadar belanja makanan.
Ia adalah ritual sosial yang menumpuk emosi: lapar yang ditahan, waktu yang dikejar, dan kegembiraan kecil ketika menemukan menu favorit.
-000-
Pada Bazar Takjil Ramadhan 2026, sekitar 50 pedagang menggelar lapak.
Ketua RW 01 Benhil, Prety Abas, mengatakan jumlah pedagang kurang lebih 50 orang dan lokasi tidak berubah.
Mayoritas pedagang adalah warga RW 01, sementara sebagian lain berasal dari luar RW.
Untuk warga RW 01, biaya sewa lapak disebut Rp 350.000.
Untuk warga di luar RW 01, biaya sewa disebut Rp 3,5 juta selama Ramadhan.
Angka-angka ini, walau terdengar administratif, ikut membentuk percakapan publik.
Di balik aroma gorengan dan es buah, orang membaca sesuatu yang lebih luas: siapa yang diuntungkan, siapa yang diberi ruang, dan bagaimana kota dikelola.
-000-
Mengapa Isu Ini Menjadi Tren: Tiga Alasan
Pertama, Benhil sudah lama menjadi rujukan kolektif warga Jakarta untuk urusan takjil.
Ketika Ramadhan tiba, ingatan itu aktif kembali, lalu menyebar melalui obrolan, unggahan, dan rekomendasi dari mulut ke mulut.
Keramaian yang konsisten membuat orang merasa ada kepastian tradisi di tengah kota yang cepat berubah.
-000-
Kedua, lokasinya strategis.
Bazar berada di depan Balai Warga RW 01 Benhil, tepat di seberang Polisi Subsektor Benhil, Polsek Tanah Abang.
Jaraknya disebut tidak sampai 500 meter dari pintu masuk kawasan perkantoran di Jalan Jenderal Sudirman.
Artinya, Benhil berada di simpul pertemuan pekerja, warga, dan pelintas.
Di kota besar, kedekatan dengan pusat mobilitas adalah bahan bakar utama sebuah tren.
-000-
Ketiga, Benhil menawarkan cerita yang mudah dibayangkan.
Ada jam buka yang jelas, ada saran waktu datang, ada menu yang disebut laris, ada kisah stok yang hampir selalu habis.
Kisah-kisah ini membuat orang merasa hadir, bahkan sebelum benar-benar datang.
Tren lahir ketika informasi bertemu emosi, lalu menemukan bentuknya dalam pengalaman yang bisa diulang.
-000-
Suasana Lapangan: Keramaian yang Terukur oleh Waktu
Prety menyebut bazar buka setiap hari selama Ramadhan, pukul 14.00 sampai 19.00 WIB.
Jam ini penting, karena Ramadhan adalah kalender yang menuntut disiplin.
Orang mengatur langkahnya berdasarkan azan, kemacetan, dan sisa tenaga setelah bekerja.
-000-
Ada saran yang terdengar sederhana, tetapi terasa jujur: jangan datang mendekati waktu berbuka.
Menjelang maghrib, bazar penuh, sulit bergerak, dan beberapa menu bisa habis.
Prety menyarankan datang sekitar pukul 16.00 WIB agar lebih leluasa memilih.
Di sini, waktu bukan hanya angka, melainkan strategi.
-000-
Menu, Harga, dan Daya Tarik yang Membumi
Daftar menu di Benhil menggambarkan keragaman selera yang hidup berdampingan.
Ada jajanan pasar, kolak pisang, aneka gorengan, dan es buah.
Ada juga makanan berat: nasi padang, gudeg, bubur kampiun, siomay, roti kukus, hingga chicken steak.
Semua hadir dalam satu koridor yang sama, seperti peta kecil Indonesia di aspal Jakarta.
-000-
Prety menyebut beberapa menu yang biasanya paling laris dan cepat habis.
Di antaranya pisang hijau, ayam goreng kalasan, Istana Bubur, dan pempek.
Menu populer menjadi semacam kompas sosial.
Orang mengikuti antrean bukan hanya karena lapar, tetapi karena percaya pada penilaian kerumunan.
-000-
Harga takjil di Benhil disebut berkisar Rp 5.000 per buah.
Untuk makanan berat, kisaran disebut sampai Rp 25.000 per porsi.
Rentang ini membuat bazar terasa terjangkau bagi banyak orang, tanpa menghapus ruang bagi pilihan yang lebih mengenyangkan.
Di Ramadhan, nilai uang sering diukur ulang lewat rasa cukup.
-000-
Ekonomi Mikro: Lapak, Sewa, dan Kesempatan
Di balik keramaian, ada ekonomi mikro yang bekerja dengan ritme harian.
Lapak bukan hanya meja jualan, melainkan akses pada arus pembeli yang sudah terbentuk bertahun-tahun.
Karena itu, isu biaya sewa menjadi sensitif sekaligus penting.
-000-
Data yang disebut dalam berita menunjukkan pembedaan biaya sewa.
Warga RW 01 Benhil dikenakan Rp 350.000.
Warga di luar RW dikenakan Rp 3,5 juta selama Ramadhan.
Perbedaan ini dapat dibaca sebagai kebijakan yang memberi prioritas pada warga setempat.
Namun, ia juga mengundang pertanyaan tentang akses yang adil bagi pedagang lain.
-000-
Di titik ini, Benhil menjadi cermin perdebatan klasik perkotaan.
Ruang publik terbatas, tetapi kebutuhan mencari nafkah tidak pernah berhenti.
Komunitas ingin terlindungi, sementara kota menuntut keterbukaan.
Ramadhan membuat pertentangan itu terasa lebih halus, tetapi tetap ada.
-000-
Pembayaran QRIS: Tradisi yang Bertemu Modernitas
Tahun ini, bazar Benhil bekerja sama dengan BRI.
Semua pedagang menerima pembayaran tunai serta QRIS.
Perubahan ini terlihat teknis, tetapi dampaknya luas.
Ia mengubah cara orang mengantre, menghitung, dan memutuskan membeli.
-000-
QRIS menghadirkan kemudahan, terutama di keramaian menjelang berbuka.
Transaksi bisa lebih cepat, tanpa repot uang kembalian.
Di sisi lain, ia juga menuntut adaptasi pedagang dan pembeli.
Ramadhan, yang sering dianggap masa tradisional, ternyata juga menjadi pintu masuk kebiasaan ekonomi digital.
-000-
Kisah Stok yang Habis: Disiplin Produksi dan Ketidakpastian
Sariyah, salah satu pedagang, mengaku menyiapkan total 1.000 gorengan setiap hari.
Ia menyebut ada sekitar 50 macam gorengan, dan kadang habis semua.
Angka ini memberi gambaran tentang skala kerja yang sering tak terlihat.
Di balik satu kantong takjil, ada waktu, minyak, tenaga, dan risiko.
-000-
Di lapak lain, karyawan Istana Bubur bernama Al menyiapkan sekitar 500 porsi bubur manis.
Ia mengatakan hampir selalu ludes terjual sebelum berbuka.
Al bercerita, pada puasa pertama, dagangan habis saat maghrib.
Kemudian, hari berikutnya lebih cepat habis.
Permintaan yang naik turun membuat pedagang terus menebak, sambil berharap tidak rugi.
-000-
Kaitannya dengan Isu Besar Indonesia: Kota, UMKM, dan Kohesi Sosial
Benhil bukan hanya soal takjil.
Ia terhubung dengan isu besar Indonesia tentang penguatan ekonomi rakyat, terutama usaha kecil yang bertahan dari musim ke musim.
Di Ramadhan, UMKM kuliner mendapatkan panggung yang sangat nyata.
Namun, panggung membutuhkan tata kelola agar tidak berubah menjadi rebutan ruang.
-000-
Isu lain adalah pengelolaan ruang kota.
Jakarta selalu bernegosiasi antara mobilitas, ketertiban, dan penghidupan.
Bazar yang ramai menunjukkan kebutuhan ruang interaksi yang aman dan tertata.
Di saat yang sama, ia menguji kemampuan komunitas dan aparat setempat mengelola arus manusia.
-000-
Benhil juga menyentuh kohesi sosial.
Ramadhan mempertemukan orang yang berbeda latar di satu antrean yang sama.
Di situ ada kesabaran, ada saling mendahulukan, ada pula gesekan kecil.
Kota yang sehat bukan kota tanpa konflik, melainkan kota yang punya mekanisme damai untuk merawat perbedaan.
-000-
Riset yang Relevan: Mengapa Bazar Ramadhan Selalu Menarik?
Dalam kajian perilaku konsumen, pembelian makanan sering dipengaruhi konteks sosial dan situasional.
Di Ramadhan, konteks itu menguat karena waktu makan dibatasi, lalu dilepas serentak saat berbuka.
Fenomena ini menjelaskan mengapa keramaian menjelang maghrib terasa seperti gelombang.
-000-
Riset tentang ekonomi perkotaan juga kerap menempatkan pasar temporer sebagai ruang penting.
Pasar seperti ini menyediakan akses cepat bagi pedagang kecil, sekaligus memberi pilihan harga bagi warga.
Namun, literatur tata kelola kota mengingatkan bahwa pasar temporer butuh aturan jelas.
Tanpa itu, ia rawan menimbulkan masalah kepadatan, sampah, dan ketidaksetaraan akses.
-000-
Adopsi pembayaran digital seperti QRIS dapat dibaca melalui riset transformasi digital UMKM.
Secara konseptual, pembayaran nontunai menurunkan friksi transaksi.
Ketika friksi turun, peluang pembelian impulsif naik, terutama dalam situasi ramai dan terburu waktu.
Di bazar takjil, logika itu terasa sangat konkret.
-000-
Referensi Serupa di Luar Negeri: Pasar Musiman dan Tradisi Makanan
Di banyak negara, pasar musiman yang ramai menjelang perayaan keagamaan bukan hal asing.
Di sejumlah kota di Malaysia, misalnya, bazar Ramadhan dikenal sebagai magnet kuliner musiman.
Di sana, keramaian, antrean, dan perburuan menu populer juga menjadi bagian dari pengalaman.
Kesamaannya terletak pada pertemuan antara tradisi, ekonomi kecil, dan budaya makan.
-000-
Di Turki, suasana Ramadhan juga sering ditandai dengan keramaian makanan di ruang publik.
Di beberapa kota, orang mencari kudapan dan hidangan untuk berbuka dalam atmosfer komunal.
Meski bentuk pasarnya berbeda, pola emosinya mirip: menunggu, memilih, dan pulang membawa rasa.
-000-
Contoh lain adalah pasar malam di berbagai kota besar dunia.
Pasar malam kerap menjadi ruang pertemuan lintas kelas, sekaligus arena ekonomi informal.
Pelajarannya sederhana: ketika makanan bertemu kerumunan, kota harus siap dengan pengaturan.
Jika tidak, yang tersisa hanya macet, sampah, dan keluhan.
-000-
Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi
Pertama, tata kelola harus menjaga keseimbangan antara prioritas warga setempat dan akses yang wajar bagi pedagang lain.
Data biaya sewa yang berbeda sudah jelas disebut.
Yang dibutuhkan adalah komunikasi yang transparan agar publik memahami logikanya, serta mekanisme yang mencegah kecemburuan.
-000-
Kedua, pengaturan keramaian perlu dipikirkan sebagai bagian dari keselamatan.
Jam operasional sudah ada, dan saran waktu datang sudah disampaikan.
Namun, arus manusia di titik padat tetap memerlukan penataan jalur, titik antre, dan ruang bergerak.
Tujuannya bukan membatasi tradisi, melainkan melindungi semua orang di dalamnya.
-000-
Ketiga, kebersihan dan pengelolaan sisa makanan harus menjadi agenda utama.
Keramaian kuliner selalu berbanding lurus dengan timbulan sampah.
Jika Ramadhan dimaknai sebagai latihan menahan diri, maka menahan diri dari meninggalkan sampah juga bagian dari ibadah sosial.
-000-
Keempat, adopsi QRIS perlu diiringi literasi sederhana.
Jika semua pedagang menerima QRIS, maka pembeli juga perlu merasa aman dan paham langkahnya.
Di sisi pedagang, dukungan teknis penting agar transaksi tidak tersendat saat puncak keramaian.
Modernitas seharusnya mengurangi stres, bukan menambahnya.
-000-
Penutup: Benhil dan Makna Berbuka di Kota Besar
Benhil mengajarkan bahwa kota bukan hanya gedung dan jadwal kerja.
Kota adalah pertemuan manusia yang sama-sama lapar, sama-sama ingin pulang, dan sama-sama berharap hari ini terasa lebih ringan.
Di bazar takjil, orang membeli makanan.
Namun, diam-diam mereka juga membeli rasa kebersamaan, walau hanya beberapa menit sebelum maghrib.
-000-
Ketika sebuah kawasan menjadi tren, itu berarti ia menyentuh sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar viral.
Ia menyentuh ingatan kolektif, kebutuhan ekonomi, dan cara kita merawat ruang bersama.
Benhil adalah pengingat bahwa tradisi bisa tetap hidup, selama kota memberi tempat dan warganya menjaga adab.
-000-
Seperti kutipan yang sering diulang dalam berbagai bentuk, maknanya tetap sama: “Kita tidak hidup dari apa yang kita dapat, tetapi dari apa yang kita berikan.”
Di Benhil, memberi bisa sesederhana tertib antre, membuang sampah pada tempatnya, dan menghormati kerja keras para pedagang.

