Marriott International memaparkan proyeksi tren industri makanan dan minuman (food and beverage/F&B) di kawasan Asia Pasifik melalui laporan Future of Food 2027. Laporan yang dirilis pada 12 Oktober 2026 itu menyoroti meningkatnya minat terhadap masakan lokal, seiring perubahan cara orang menikmati pengalaman bersantap yang kian fleksibel dan menekankan interaksi sosial.
Laporan tersebut merangkum wawasan dari para koki, pakar industri perhotelan, influencer regional, serta properti Marriott International di Asia Pasifik, tidak termasuk Tiongkok. Temuannya menunjukkan pengalaman kuliner kini tidak hanya menitikberatkan rasa dan kualitas makanan, tetapi juga keaslian hidangan, cerita di balik bahan pangan, serta keterkaitannya dengan budaya dan destinasi setempat.
Dalam survei yang dilakukan, 95% properti mengidentifikasi permintaan terhadap hidangan khas lokal yang autentik sebagai salah satu tren terbesar di pasar mereka. Data ini mengindikasikan semakin besarnya ketertarikan wisatawan pada pengalaman bersantap yang mencerminkan karakter daerah yang dikunjungi.
Vice President of Food & Beverage Marriott International Asia Pacific excluding China, Petr Raba, menyebut industri kuliner bergerak menuju pengalaman yang lebih personal, hangat, dan berakar pada budaya lokal. Menurutnya, hotel tidak hanya menjadi tempat menginap, tetapi juga berperan memperkenalkan budaya melalui penggunaan bahan pangan lokal dan konsep bersantap yang mencerminkan identitas destinasi.
Pergeseran konsep restoran
Marriott mencatat pola bersantap turut berubah, dengan ruang-ruang yang lebih kasual dan interaktif semakin diminati. Lounge, bar, konter, hingga area terbuka disebut menjadi pilihan pengunjung selain restoran berkonsep formal.
Hampir separuh properti yang disurvei melaporkan adanya peningkatan permintaan terhadap pengalaman bersantap kasual. Sejumlah restoran juga mulai mengutamakan ruang yang lebih intim, dengan kapasitas sekitar 40 hingga 60 tempat duduk.
Vietnam menjadi salah satu pasar yang menunjukkan perubahan tersebut. Sebanyak 71% properti yang disurvei di negara itu melaporkan peningkatan permintaan terhadap pengalaman bersantap di bar dan lounge.
Di sisi operasional, teknologi kecerdasan buatan (AI) dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pengembangan menu dan pemasaran hingga pengelolaan staf serta analisis kebutuhan tamu. Di Thailand, seluruh restoran dan bar yang disurvei dilaporkan telah menggunakan AI dalam operasional mereka.
Masakan lokal sebagai daya tarik
Laporan Future of Food 2027 menempatkan kekuatan lokalitas sebagai salah satu sorotan utama. Hotel dan restoran disebut semakin mengembangkan menu berdasarkan bahan pangan, tradisi, serta cerita yang melekat pada daerah masing-masing.
Selama setahun terakhir, empat dari lima properti yang disurvei telah memperkenalkan bahan makanan lokal baru ke dalam menu mereka. Pemanfaatan bahan lokal juga dilaporkan berkembang dalam penyajian minuman.
Di Indonesia, permintaan terhadap masakan khas lokal tercatat 67%. Sementara di India, angkanya mencapai 71%. Tren ini dinilai memperlihatkan bahwa makanan tradisional dan bahan pangan daerah dapat menjadi pembeda bagi hotel maupun restoran dalam menarik minat wisatawan.
Durasi fine dining makin singkat
Perubahan juga terjadi pada konsep fine dining. Jika sebelumnya pengalaman bersantap mewah identik dengan rangkaian panjang lebih dari 10 hidangan yang dapat berlangsung hingga empat jam, kini sejumlah restoran mulai menawarkan menu yang lebih ringkas dengan durasi lebih singkat.
Sebanyak 58% properti yang disurvei melaporkan durasi rata-rata pengalaman fine dining berada di kisaran 1,5 hingga dua jam. Di Singapura, 85% restoran yang disurvei menyebut durasi rata-rata bersantap mewah sekitar 1,5 jam. Restoran merespons tren ini dengan menyederhanakan menu, memperbanyak pilihan à la carte, serta menitikberatkan pengalaman pada momen istimewa dan kualitas hidangan.
Fokus pada kesehatan dan minuman nonalkohol
Selain lokalitas, aspek kesehatan juga menguat dalam perkembangan industri kuliner. Sebanyak 97% properti Marriott International yang disurvei di Asia Pasifik, tidak termasuk Tiongkok, dilaporkan telah menyediakan hidangan yang dikaitkan dengan kesehatan dan umur panjang. Konsep tersebut tidak hanya hadir di restoran, tetapi juga mulai merambah pilihan makanan di minibar dan layanan hotel berorientasi kesehatan.
Tren plant-forward dining turut disebut berkembang. Marriott berencana memperkenalkan Program APEC Plant-Forward pada 2027 untuk memperluas penerapan konsep bersantap berbasis nabati dalam operasionalnya.
Di sisi lain, minuman nonalkohol kian mendapat tempat. Sebanyak 42% restoran dan bar Marriott yang disurvei melaporkan peningkatan penjualan minuman nonalkohol, termasuk minuman bebas alkohol yang diracik khusus dan dipadukan dengan hidangan.
Melalui laporan ini, Marriott memperkirakan industri F&B pada 2027 akan semakin mengutamakan keaslian, identitas lokal, kesehatan, dan pengalaman personal. Hotel dan restoran yang mampu mengangkat budaya serta bahan pangan setempat, sekaligus memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan layanan, dinilai memiliki peluang lebih besar menarik minat wisatawan. Bagi Indonesia, tren tersebut dinilai membuka ruang agar kuliner lokal semakin menonjol melalui pengembangan menu tradisional dan pengalaman bersantap yang mengangkat cerita serta karakter setiap daerah.