BERITA TERKINI
Tren 'Toddler Takeover' Ramai di Media Sosial, Akun Brand Unggah Selfie Balita dengan Caption Acak

Tren 'Toddler Takeover' Ramai di Media Sosial, Akun Brand Unggah Selfie Balita dengan Caption Acak

Linimasa media sosial belakangan ramai oleh unggahan foto balita yang tampak seperti mengambil swafoto menggunakan ponsel milik pengelola akun perusahaan. Fenomena ini dikenal dengan sebutan Toddler Takeover.

Unggahan yang beredar umumnya menampilkan wajah anak dari jarak dekat, dengan sudut pengambilan gambar yang terlihat kurang rapi. Di latar belakang, kerap tampak elemen yang mengarah pada identitas merek, seperti logo, produk, gerai, atau ciri visual tertentu.

Konsepnya dibuat menyerupai kejadian spontan: seorang balita digambarkan berhasil membuka aplikasi kamera, lalu tanpa sengaja memotret dirinya sendiri dan mengunggahnya ke akun resmi perusahaan. Dalam banyak kasus, unggahan ini tidak disertai penjelasan maupun promosi langsung.

Sejumlah perusahaan dari berbagai sektor ikut mengadopsi tren tersebut. Di Indonesia, MRT Jakarta dan Blibli termasuk yang mengikuti format ini. MRT Jakarta mengunggah foto bayi yang tampak berswafoto di depan stasiun MRT dengan keterangan berupa rangkaian huruf acak “dhbegdhkwhsjss”. Sementara Blibli memposting beberapa foto swafoto balita di depan Blibli Store dalam format carousel, disertai caption berisi beragam emoji.

Tren serupa juga dilakukan maskapai bertarif rendah asal Malaysia, AirAsia. Maskapai tersebut mengunggah foto balita yang seolah mengambil selfie di dalam kabin pesawat, dengan sandaran kursi merah khas AirAsia terlihat di belakangnya.

Diduga bermula dari unggahan di negara Arab

Asal-usul Toddler Takeover belum dapat dipastikan sepenuhnya. Namun tren ini diyakini berkembang setelah sejumlah merek di negara Arab mengunggah selfie balita tanpa konteks atau penjelasan.

Salah satu yang kerap disebut adalah akun merek fesyen Sahaba Abaya. Akun tersebut diduga sempat mengunggah selfie anak pemilik usaha dengan keterangan berupa rangkaian karakter acak. Alih-alih dihapus, unggahan itu dibiarkan tetap tayang dan menarik perhatian pengguna media sosial, lalu ditiru oleh merek lain.

Format tersebut kemudian meluas ke kawasan Teluk dan diikuti sejumlah organisasi, antara lain Uber UAE, Visit Abu Dhabi, serta Kementerian Energi dan Infrastruktur Uni Emirat Arab. Khaleej Times melaporkan tren ini berkembang menjadi momen pemasaran viral.

Meski demikian, belum ada konfirmasi bahwa unggahan awal Sahaba Abaya benar-benar terjadi tanpa sengaja. Sebagian pengguna menduga rangkaian unggahan semacam itu merupakan strategi pemasaran gerilya yang sengaja dirancang untuk memicu rasa penasaran dan percakapan organik.

Tren ini dinilai bekerja karena tampil berbeda di tengah linimasa yang dipenuhi konten iklan dengan visual rapi. Unggahan yang terkesan natural atau seperti “ketidaksengajaan” membuat pengguna berhenti menggulir layar, memberi komentar, lalu membagikan konten tersebut. Interaksi yang ramai tetap memberi eksposur bagi merek, meski tanpa menawarkan produk, potongan harga, atau kampanye tertentu secara langsung.