Da Nang mulai membawa kekayaan kuliner dan produk khas lokalnya ke ruang digital melalui kerja sama dengan sejumlah platform layanan berbasis aplikasi. Langkah ini diarahkan untuk memperluas pasar bagi pelaku usaha, mempromosikan budaya, serta meningkatkan pengalaman wisatawan seiring transformasi digital.
Kuliner selama ini menjadi salah satu daya tarik pariwisata Da Nang. Hidangan seperti mi Quang, Cao Lau, lumpia isi daging babi, bihun dengan saus ikan fermentasi, banh xeo (panekuk gurih Vietnam), dan makanan tradisional lainnya tidak hanya memenuhi kebutuhan pengunjung, tetapi juga memuat cerita tentang budaya, masyarakat, dan wilayah asalnya.
Seiring teknologi digital memengaruhi perilaku konsumen, pemindahan nilai-nilai kuliner ke platform online dinilai membuka peluang baru bagi industri pariwisata dan ekonomi lokal.
Pada Agustus tahun ini, Da Nang bersama Grab Vietnam meluncurkan platform perdagangan “OCOP - Da Nang Specialties” di aplikasi Grab. Inisiatif ini disebut sebagai implementasi konkret dari perjanjian kerja sama pengembangan ekonomi digital yang ditandatangani pada September 2025. Program tersebut ditujukan untuk mendukung produsen OCOP, pedagang kecil, dan rumah tangga usaha dalam memperluas pasar konsumennya.
Melalui platform belanja online, warga lokal dan wisatawan dapat mempelajari asal-usul, karakteristik, serta kisah di balik produk lokal, lalu memesan langsung melalui perangkat seluler. Integrasi informasi produk dengan layanan pengiriman dinilai dapat memperpendek jarak produsen dan konsumen sekaligus memperluas jangkauan pelanggan melampaui saluran distribusi tradisional.
Grab Vietnam menyampaikan bahwa pada fase awal, program ini mendukung standardisasi data digital untuk lebih dari 80 produsen dan bisnis OCOP (One Commune One Product), terutama pemilik produk bintang 4 dan 5, serta 14 titik dan toko yang menampilkan dan menjual produk OCOP di Da Nang.
Mulai September 2026, cakupan partisipasi direncanakan diperluas untuk mencakup produk-produk yang tersisa. Program ini menargetkan kenaikan pendapatan penjualan produk OCOP setidaknya 10% pada 2026 dan mempertahankan pertumbuhan dua digit mulai 2027 dan seterusnya.
Secara paralel, Da Nang juga menjalankan model “Transformasi Digital Pasar Con” untuk mendorong pasar makanan tradisional tersebut beradaptasi dengan lingkungan digital. Grab bekerja sama dengan Dewan Pengelola Pasar Con untuk membimbing pedagang membuka gerai di GrabFood dan GrabMart, mengelola pesanan, menerapkan pembayaran nontunai, serta mengikuti program promosi online.
Program itu tidak hanya berfokus pada pembukaan kios digital, tetapi juga pada penguatan keterampilan pelaku usaha. Materinya mencakup penyusunan informasi produk, penetapan harga jual, pengaturan jumlah kemasan, pengelolaan pesanan, hingga penerapan promosi. Keterampilan tersebut ditujukan bagi pedagang kecil yang terbiasa berjualan langsung dan memiliki akses terbatas terhadap teknologi.
Selain kolaborasi dengan Grab, Da Nang juga menjajaki pembentukan ekosistem makanan digital dengan melibatkan ShopeeFood. Tujuannya adalah menghubungkan bisnis makanan dengan promosi pariwisata dan pengalaman budaya lokal.
Dalam pertemuan pada 7 Oktober, Wakil Ketua Komite Rakyat Kota Da Nang Nguyen Thi Anh Thi menyetujui prinsip kerja sama dengan Foody Joint Stock Company (ShopeeFood) untuk meneliti dan mengembangkan ekosistem makanan digital. Perusahaan mengusulkan sembilan bidang kerja sama untuk periode 2027–2030, dengan fokus pada pembangunan peta makanan digital Da Nang yang memperkenalkan hidangan, pelaku usaha, pasar tradisional, kawasan kuliner, dan lokasi pengalaman khas.
Peta makanan digital tersebut diharapkan mengintegrasikan kode QR, informasi destinasi, saran rencana perjalanan, dan penawaran khusus. Dengan sistem itu, wisatawan dapat memilih makanan secara lebih proaktif, menemukan lokasi yang sesuai, serta mengaitkan pengalaman kuliner dengan kegiatan wisata dan hiburan lainnya.
ShopeeFood juga mengusulkan dukungan bagi bisnis untuk mendigitalisasi gambar dan menu, menerapkan alat manajemen penjualan dan sistem pembayaran nontunai, serta menyelenggarakan pelatihan keterampilan digital dan peningkatan kualitas layanan.
Di sisi lain, Da Nang juga meneliti implementasi program “Pasar Kuliner Da Nang” di 10 pasar tradisional yang menggabungkan digitalisasi kios, pengendalian keamanan pangan, serta penguatan keterhubungan produk OCOP dan makanan khas lokal dalam rantai pasok kuliner. Ada pula gagasan pembentukan “Kartu Kuliner Da Nang” yang mengaitkan pengalaman menikmati makanan dengan program dan kegiatan promosi pariwisata.
Menurut peta jalan yang diusulkan, pada 2027 akan dipilih produk dan lokasi percontohan. Pada 2028–2029, model yang dinilai efektif akan dievaluasi, disesuaikan, dan direplikasi. Pada 2030, program direncanakan dirangkum dan dilanjutkan dengan usulan arah kerja sama berikutnya.
Sejumlah ahli pariwisata menilai Da Nang memiliki potensi mengembangkan beragam rute pengalaman kuliner, didukung ragam ruang kuliner dari kawasan pesisir hingga kota kuno Hoi An, serta desa terpencil dan wilayah pegunungan. Jika terhubung efektif dengan platform digital, potensi tersebut dinilai dapat berkontribusi pada peningkatan pendapatan melalui perpanjangan durasi kunjungan, kenaikan pengeluaran wisatawan, dan penguatan citra destinasi.