Lagu “The Promise of 18” karya Jaysonlei kembali menjadi sorotan setelah ramai digunakan sebagai musik latar konten nostalgia masa sekolah di media sosial. Sekitar tiga bulan sejak dirilis, lagu ini banyak dipakai pengguna untuk mengiringi unggahan foto dan video tentang masa SMA, reuni kelas, hingga momen bersama teman.
Berdasarkan data yang tercatat, “The Promise of 18” telah melampaui 720.000 penggunaan di TikTok. Di platform streaming, lagu ini disebut telah mencapai lebih dari 1,5 juta pendengaran di Spotify serta 1,8 juta penayangan di YouTube. Penyebarannya di media sosial meningkat setelah perilisan, sehingga lagu tersebut kembali mendapat perhatian di kalangan audiens.
Dirilis pada 2 Juli, “The Promise of 18” ditulis dan dibawakan oleh Jaysonlei. Video musiknya menampilkan Negav dan CoolKid, dengan sejumlah adegan yang menggambarkan situasi percintaan remaja secara ringan dan menggemaskan.
Secara cerita, lagu ini mengisahkan dua sahabat muda yang berjanji untuk selalu bersama saat masih bersekolah, lalu berpisah dan bertemu kembali ketika dewasa. Sejumlah elemen visual dan suasana yang lekat dengan masa sekolah—seperti bel sekolah, halaman sekolah, bunga flamboyan merah, serta janji pada usia 18 tahun—membangkitkan nuansa masa muda yang penuh mimpi, sekaligus menyisakan penyesalan.
Di media sosial, lagu ini tidak hanya hadir dalam konten kenangan SMA dan video reuni, tetapi juga dipakai untuk unggahan bertema personal. Sejumlah pengguna memasukkannya ke dalam video yang menjelaskan arti nama mereka, kisah di balik pemberian nama, atau pesan keluarga saat menamai anak.
Respons warganet turut memperkuat penyebaran lagu tersebut. Beberapa komentar menyatakan terkejut ketika menyadari lagu itu digunakan secara luas, sementara lainnya mengaku memutarnya berulang kali karena merasa terhubung dengan kenangan masa muda. Ada pula yang menilai nuansa musiknya terasa “sedih tetapi ceria dan lucu.”
Sebelum “The Promise of 18” viral, Jaysonlei tercatat berpartisipasi dalam musim kedua “Brother Says Hi” pada 2025 dan tampil dalam sejumlah pertunjukan seperti “Sooner or Later” serta “50 Missed Calls.” Ia kemudian kembali melalui “Star River Says Hi” pada 2026, dengan eksplorasi gaya R&B dan penekanan pada kemampuan menulis lagu.
Jika sebelumnya Jaysonlei menarik perhatian melalui potongan vokal yang tersebar luas dari “Sooner or Later,” “The Promise of 18” menonjol lewat pendekatan berbeda. Lagu solo ini mengandalkan cerita yang utuh sehingga pendengar dapat mengaitkannya dengan pengalaman pribadi, alih-alih bergantung pada cuplikan penampilan dari acara reality.
Di tengah meluasnya penggunaan lagu tersebut di berbagai platform, Jaysonlei membawakan “The Promise of 18” secara langsung di Sao Concert pada 10 Oktober. Momentum ini sekaligus membuka peluang bagi penonton untuk mengenal lebih jauh karya-karya yang ia tulis dan bawakan sendiri.
Jaysonlei juga pernah menyampaikan pandangannya bahwa setiap orang memiliki janji yang belum terpenuhi yang dibuat pada usia 18 tahun. Menurutnya, yang penting bukan semata seberapa banyak janji yang ditepati, melainkan terus melanjutkan jalan yang telah dipilih. Ia berharap lagu ini membantu pendengar mengingat momen-momen terbaik masa muda mereka.
Kasus “The Promise of 18” menunjukkan bagaimana sebuah lagu dapat kembali mencuri perhatian setelah dirilis ketika masuk ke dalam arus konten buatan pengguna. Dalam tren ini, kenangan sekolah—melalui gambar dan cerita personal—menjadi salah satu cara audiens menerima sekaligus membagikan musik di media sosial.