BERITA TERKINI
Yayasan Biijana Gandeng KWT Krenen untuk Pasok Bahan Baku Dapur MBG di Gunungkidul

Yayasan Biijana Gandeng KWT Krenen untuk Pasok Bahan Baku Dapur MBG di Gunungkidul

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola Yayasan Biijana Paksi Sitengsu membuka peluang kerja sama bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) di Padukuhan Krenen, Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul. Selain berfokus pada pemenuhan gizi, program ini diharapkan turut menggerakkan ekonomi petani perempuan melalui penyerapan hasil pertanian sebagai bahan baku dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Koordinator KWT Padukuhan Krenen, Anjar Sumarmi, mengatakan kelompoknya masih menghadapi sejumlah kendala dalam mengembangkan pertanian hortikultura. Tantangan tersebut mencakup keterbatasan tenaga fisik hingga persoalan pemasaran.

Menurut Sumarmi, sebagian pekerjaan pengolahan lahan kerap terkendala karena mayoritas anggota KWT adalah perempuan. Salah satu contoh yang ia sebutkan adalah saat membuat bedengan. Kondisi itu membuat kebutuhan akan dukungan biaya dan peralatan menjadi penting, sementara pengelolaan yang dilakukan secara swadaya dinilai belum mencukupi.

“Kalau swadaya, tenaga kami kaum perempuan kurang kuat untuk itu. Jadi kami butuh modal dan alat seperti traktor supaya pengerjaan bedengan lebih cepat dan irit biaya,” kata Sumarmi, Jumat, 1 Mei 2026.

Selain produksi, pemasaran juga disebut menjadi hambatan. Selama ini, penjualan hasil pertanian masih mengandalkan masyarakat sekitar. Ia mengakui kerja sama dengan pihak luar masih terbatas sehingga kebutuhan terkait biaya, pelatihan, peralatan, hingga pemasaran masih menjadi tantangan bagi KWT untuk berkembang.

Sumarmi berharap peluang kerja sama dengan dapur MBG dapat membawa dampak positif, termasuk memperkuat kekompakan anggota dan menjaga semangat pemberdayaan masyarakat di sekitar.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Yayasan Biijana Paksi Sitengsu, R. Teddy Anggoro, menyatakan kehadiran dapur MBG dirancang untuk memberikan kepastian pasar bagi hasil produksi KWT sekaligus mendorong peningkatan perekonomian masyarakat.

Teddy juga menyebut keterbatasan biaya untuk pendampingan dan pelatihan dapat dibantu melalui SPPG yang telah didirikan. Ia mengatakan SPPG memiliki call center yang dapat dimanfaatkan untuk pendampingan.

“Kemarin kita sudah menggandeng petani Punk Gunungkidul, sekarang kami merambah menggandeng KWT dan bahkan nanti akan ke depannya ibu-ibu PKK. Harapannya dengan dengan adanya dapur ini benar-benar menyentuh kepada lembaga-lembaga masyarakat yang ada di wilayah,” ujar Teddy.

Ia menambahkan, selain menyerap produk pertanian petani lokal, dapur MBG juga akan memberikan dukungan dan fasilitasi melalui jejaring agar produksi pertanian—khususnya di Gunungkidul dan umumnya di Daerah Istimewa Yogyakarta—dapat memenuhi kebutuhan dapur pemenuhan gizi. Dengan demikian, petani lokal diharapkan tidak hanya menjadi penonton dalam program MBG.

Teddy menegaskan dapur yang dibangun yayasan tidak ditujukan untuk dikuasai distributor atau pemasok tertentu. Menurutnya, dapur dirancang agar dampak ekonomi dirasakan masyarakat setempat melalui sinergi dengan perangkat desa dan lembaga-lembaga desa, sejalan dengan konsep lumbung Mataram.

Yayasan Biijana Paksi Sitengsu menempatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat sebagai salah satu tujuan utama pendirian SPPG. Melalui keterlibatan petani lokal, termasuk KWT, yayasan berharap pelaksanaan program MBG dapat berjalan baik sekaligus mendorong kontribusi produksi daerah bagi pemenuhan kebutuhan gizi.