Ada jenis tren yang tidak lahir dari sensasi, melainkan dari rasa tertegun. Itulah yang terjadi ketika kisah “kuliner Indonesia yang lahir dari kemiskinan” ramai dicari.
Di tengah banjir konten makanan yang sering memuja kemewahan, tema ini seperti membalik cermin. Ia mengajak publik menatap asal-usul yang pahit, namun membentuk daya hidup.
Berita tentang lima kuliner itu menyentuh titik yang jarang dibicarakan. Makanan bukan hanya soal rasa, melainkan jejak sejarah, ketimpangan, dan cara bertahan.
Ketika sate kere, tengkleng, kerak telor, ampo, dan tiwul disebut sebagai “lahir dari kemiskinan”, yang viral bukan sekadar daftarnya. Yang viral adalah maknanya.
Isu ini menjadi tren karena ia dekat dengan pengalaman kolektif. Banyak keluarga Indonesia punya cerita tentang masa sulit, substitusi pangan, dan kreativitas dapur.
Ia juga menjadi tren karena memicu percakapan identitas. Kuliner yang kini diburu wisatawan ternyata berasal dari keterpaksaan, bukan perayaan.
Dan ia menjadi tren karena mengandung paradoks. Yang dulu dianggap “makanan orang miskin” kini bisa menjadi “kuliner legendaris” yang dibanggakan.
-000-
Mengapa Kisah Ini Mengikat Perhatian Publik
Alasan pertama, narasinya manusiawi. Ia menghubungkan makanan dengan rasa lapar, keterbatasan, dan martabat yang dipertahankan lewat cara paling sederhana.
Dalam banyak rumah tangga, makanan adalah bahasa pertama tentang aman dan tidak aman. Karena itu, kisah pangan selalu cepat menyentuh emosi.
Alasan kedua, ia relevan dengan kondisi kini. Ketika biaya hidup dibicarakan, publik mudah terhubung dengan cerita substitusi bahan dan “mengakali” dapur.
Berita ini tidak menggurui. Ia bercerita. Namun justru karena itu, ia membuka ruang refleksi tentang kerentanan yang bisa datang kapan saja.
Alasan ketiga, ia memberi rasa bangga yang tidak kosong. Kebanggaan yang muncul bukan dari kemewahan, melainkan dari ketangguhan dan kecerdikan.
Di era ketika kebanggaan sering diproduksi lewat citra, kisah ini memberi kebanggaan yang berakar. Akar itu bernama pengalaman sejarah.
-000-
Lima Kuliner, Lima Jejak Bertahan Hidup
Berita menyebut sate kere sebagai simbol kesenjangan pada masa penjajahan Belanda. Daging sapi menjadi kemewahan, sementara rakyat mencari pengganti.
Jeroan, gajih, hingga tempe gembus dipakai untuk meniru bentuk hidangan yang dinikmati kalangan berada. Nama “kere” menandai status yang telanjang.
Namun waktu mengubah posisi. Sate kere kini diburu wisatawan di Solo, dan kisahnya ikut “terjual” sebagai pengalaman budaya.
Tengkleng, masih dari Solo, digambarkan lahir dari kelangkaan. Bagian kambing yang tersisa dimasak agar tak ada yang terbuang.
Tulang, kepala, kaki, dan jeroan menjadi pusat hidangan. Kuahnya kaya rempah, seolah menegaskan bahwa kekurangan tidak harus hambar.
Kerak telor disebut lahir dari kreativitas Betawi pada masa kolonial. Telur relatif mahal, lalu dicampur beras ketan agar lebih mengenyangkan.
Kelapa sangrai, ebi, garam, dan merica melengkapi rasa. Dari strategi ekonomis, ia menjelma ikon yang hadir dalam festival budaya.
Ampo, camilan khas Tuban, bahkan dibuat dari tanah liat yang diolah khusus. Berita mengaitkannya dengan kelaparan pada masa kolonial.
Sistem tanam paksa membuat sebagian warga sulit memperoleh beras dan bahan pangan lain. Dalam kondisi itu, ampo menjadi cara bertahan.
Tiwul lahir ketika beras langka. Singkong dikeringkan menjadi gaplek, lalu diolah menjadi pangan pengganti yang mengisi perut.
Selama bertahun-tahun, tiwul kerap dianggap simbol kemiskinan. Kini ia dicari sebagai kuliner tradisional dan pengingat ketangguhan.
-000-
Yang Sesungguhnya Kita Makan: Memori, Kelas, dan Harga Diri
Lima kuliner itu memperlihatkan satu pola. Ketika akses pangan dibatasi, masyarakat tidak sekadar “memasak”, tetapi merundingkan martabat.
Di balik pilihan bahan, ada struktur sosial. Siapa yang bisa membeli daging, siapa yang hanya kebagian sisa, dan siapa yang harus mengubah definisi lauk.
Sate kere menampilkan ketimpangan secara gamblang. Ia lahir dari keinginan untuk ikut merasakan, namun dengan sumber daya yang berbeda.
Tengkleng menampilkan prinsip anti pemborosan yang lahir bukan dari kampanye, melainkan dari kebutuhan. Ketika bahan sedikit, semuanya harus bernilai.
Kerak telor menunjukkan strategi memperluas porsi dan rasa. Ia mengajarkan bahwa “mahal” tidak selalu berarti “lebih baik”, melainkan “lebih sulit diakses”.
Ampo memunculkan pertanyaan paling kontemplatif. Sejauh apa manusia bisa bertahan ketika pangan menjadi langka, dan apa yang dianggap “makanan” berubah.
Tiwul memperlihatkan stigma. Pangan pengganti sering dicap rendah, padahal ia menyelamatkan hidup. Stigma itu bisa bertahan lebih lama dari krisis.
-000-
Keterkaitan dengan Isu Besar Indonesia: Ketahanan Pangan dan Ketimpangan
Tren ini tidak berdiri sendiri. Ia bertemu dengan percakapan besar tentang ketahanan pangan, akses gizi, dan ketimpangan yang masih menjadi pekerjaan rumah.
Ketahanan pangan bukan hanya produksi. Ia juga soal distribusi, keterjangkauan, dan kemampuan rumah tangga memperoleh makanan bergizi secara stabil.
Lima kisah itu menegaskan satu hal. Ketika sistem tidak melindungi, keluarga mengandalkan kreativitas. Namun kreativitas tidak boleh jadi alasan abai.
Di Indonesia, pangan sering dibahas sebagai angka. Padahal, ia juga pengalaman sehari-hari, termasuk pengalaman malu ketika hanya mampu makan “pengganti”.
Karena itu, viralnya kisah ini bisa dibaca sebagai sinyal. Publik ingin narasi yang jujur tentang hubungan makanan dengan keadilan sosial.
-000-
Riset yang Membantu Membaca Fenomena Ini Secara Konseptual
Dalam kajian ilmu sosial, makanan kerap dipahami sebagai penanda kelas. Preferensi dan akses membentuk identitas, sekaligus memperlihatkan ketimpangan.
Pierre Bourdieu, misalnya, membahas bagaimana selera terkait dengan posisi sosial. Makanan tidak netral, karena dibentuk oleh sumber daya dan pengakuan.
Kerangka lain datang dari studi tentang ketahanan pangan rumah tangga. Literatur kebijakan publik menekankan pilar ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan stabilitas.
Kisah tiwul dan kerak telor dapat dibaca sebagai adaptasi akses. Ketika bahan utama mahal atau langka, keluarga mengubah komposisi untuk bertahan.
Di sisi lain, studi tentang “cuisine of poverty” dalam antropologi menunjukkan bahwa hidangan dari keterbatasan sering menjadi warisan budaya.
Warisan itu bisa naik kelas ketika kota bertumbuh dan pariwisata berkembang. Namun, kenaikan kelas kuliner tidak otomatis menghapus kemiskinan yang melahirkannya.
-000-
Rujukan Global: Ketika Makanan Krisis Menjadi Kebanggaan
Fenomena serupa pernah terjadi di banyak tempat. Di Eropa, beberapa hidangan lahir dari kebutuhan memanfaatkan sisa, lalu menjadi tradisi yang dihormati.
Di Italia, cucina povera dikenal sebagai tradisi masak dari dapur sederhana. Banyak hidangan menonjolkan bahan murah, musiman, dan teknik hemat.
Di Amerika Serikat, sejumlah “soul food” berakar dari sejarah perbudakan dan keterbatasan akses. Makanan menjadi ruang bertahan, sekaligus ruang identitas.
Perbandingan ini membantu melihat Indonesia secara lebih jernih. Kita tidak sendirian dalam mengubah kesulitan menjadi kebudayaan.
Namun perbandingan itu juga memberi peringatan. Romantisasi bisa terjadi, ketika penderitaan masa lalu dipoles menjadi estetika, tanpa empati pada yang masih kekurangan.
-000-
Risiko Romantisasi dan Tanggung Jawab Bercerita
Menjadikan “kuliner lahir dari kemiskinan” sebagai konten bisa menghangatkan. Tetapi ia juga berisiko mengubah kemiskinan menjadi gimmick yang lucu-lucuan.
Nama “kere” misalnya, bisa dibaca sebagai humor. Padahal ia berasal dari struktur sosial yang membuat sebagian orang tidak punya pilihan selain mengganti daging.
Ampo bisa diperlakukan sebagai keunikan ekstrem. Padahal ia dihubungkan dengan kelaparan, sebuah pengalaman yang menyakitkan dan merendahkan manusia.
Karena itu, cara bercerita penting. Kita perlu menempatkan hidangan sebagai pintu masuk memahami sejarah, bukan sebagai dekorasi nostalgia.
-000-
Bagaimana Sebaiknya Isu Ini Ditanggapi
Pertama, jadikan tren ini kesempatan belajar sejarah sosial. Kuliner dapat dipakai untuk membicarakan kolonialisme, kelangkaan, dan ketimpangan secara lebih membumi.
Kedua, dorong literasi pangan. Publik bisa diajak memahami bahwa substitusi bahan adalah strategi bertahan, tetapi gizi dan akses tetap harus menjadi prioritas kebijakan.
Ketiga, hormati para pembuatnya. Jika kuliner ini dipromosikan sebagai warisan, maka pelaku kecil dan perajin tradisional perlu dihargai secara adil.
Keempat, hindari romantisasi kemiskinan. Mengagumi ketangguhan tidak sama dengan menormalkan penderitaan. Kita bisa memuji kreativitas tanpa melupakan sebabnya.
Kelima, rawat narasi dengan empati. Saat menikmati tengkleng atau tiwul, ingat bahwa di belakangnya ada cerita tentang bertahan, bukan sekadar “unik dan enak”.
-000-
Penutup: Dari Dapur Sederhana, Kita Belajar Menjadi Bangsa
Tren ini mengingatkan bahwa bangsa dibentuk juga oleh panci yang mendidih pelan. Oleh keputusan kecil di dapur ketika bahan tidak lengkap.
Lima kuliner itu adalah arsip hidup. Ia menyimpan pelajaran tentang kreativitas, ketahanan, dan cara manusia menjaga keluarganya tetap makan.
Jika kita ingin memuliakan warisan ini, kita perlu lebih dari sekadar mencicipi. Kita perlu memastikan tidak ada warga yang dipaksa “kreatif” karena lapar.
Pada akhirnya, makanan mengajari kita tentang arah. Bahwa kemajuan bukan ketika kuliner miskin menjadi mahal, melainkan ketika kemiskinan tidak lagi memaksa orang bertahan.
“Kita tidak selalu bisa memilih keadaan yang datang, tetapi kita bisa memilih cara memaknainya, lalu bekerja agar keadaan itu tidak terulang.”

