BERITA TERKINI
Webinar UICI Soroti Dampak Kopi terhadap Lingkungan dan Keadilan Petani

Webinar UICI Soroti Dampak Kopi terhadap Lingkungan dan Keadilan Petani

Di balik popularitas kopi sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari, tersimpan persoalan yang kerap luput dari perhatian, mulai dari dampak lingkungan hingga ketimpangan yang dialami petani. Isu tersebut dibahas dalam UICI Webinar Series Volume 7 bertajuk “Sisi Lain Segelas Kopi: Melampaui Keindahan Latte Art, Merawat Nafas Bumi” yang digelar Universitas Insan Cita Indonesia (UICI), Jumat (23/1/2026).

Webinar yang diselenggarakan Program Studi Teknologi Industri Pertanian UICI itu menghadirkan M. Fariz Afif Hasibuan, S.P., M.Si., dosen dan peneliti kopi, sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, Fariz mengajak peserta memandang kopi secara lebih utuh—bukan sekadar minuman atau simbol estetika, melainkan hasil relasi panjang antara manusia dan bumi.

“Kopi bukan hanya soal rasa dan estetika. Ia adalah hubungan antara manusia dan alam. Cara kita memproduksi dan mengonsumsinya akan menentukan apakah kopi menjadi bagian dari solusi, atau justru masalah bagi bumi,” ujar Fariz.

Fariz memaparkan bahwa industri kopi global menghadapi tantangan serius akibat perubahan iklim, deforestasi, dan degradasi lingkungan. Kenaikan suhu dan cuaca ekstrem disebut berdampak langsung pada penurunan kualitas serta hasil panen kopi. Bahkan, sejumlah wilayah penghasil kopi mulai kehilangan kesesuaian lahannya.

Di sisi lain, ia menyoroti ketimpangan dalam rantai pasok yang membuat petani kopi berada pada posisi paling rentan. Menurut Fariz, banyak petani hanya memperoleh keuntungan kecil, sementara risiko produksi dan dampak lingkungan justru lebih banyak ditanggung di hulu.

“Keindahan latte art sering membuat kita lupa bahwa ada proses panjang sebelum kopi sampai ke cangkir—mulai dari kebun, panen, pascapanen, hingga distribusi—yang semuanya memiliki jejak lingkungan,” jelasnya.

Dalam konsep “nafas bumi”, Fariz menjelaskan bahwa bumi ‘bernapas’ melalui tanah, air, hutan, dan ekosistem yang sehat. Kopi, kata dia, sangat bergantung pada sistem tersebut. Tanah yang sehat dapat menghasilkan kopi berkualitas, sementara pengelolaan air yang buruk dan deforestasi dinilai mempercepat kerusakan lingkungan.

Fariz juga menyinggung persoalan limbah kopi, baik dari sampah sekali pakai seperti gelas dan sedotan, maupun ampas kopi yang sering berakhir sebagai limbah. Padahal, ampas kopi dapat dimanfaatkan kembali menjadi kompos, pupuk, scrub, hingga media tanam.

“Jika limbah kopi dikelola dengan baik, kopi justru bisa menjadi bagian dari ekonomi sirkular yang ramah lingkungan,” katanya.

Dalam sesi tersebut, Fariz memaparkan sejumlah praktik kopi berkelanjutan yang dapat diterapkan dari hulu hingga hilir. Di tingkat produksi, ia menyebut budidaya kopi di bawah naungan pohon (shade-grown coffee), pengurangan penggunaan pestisida, serta perlindungan hutan sebagai langkah penting untuk menjaga biodiversitas dan ekosistem.

Dari sisi perdagangan, Fariz menekankan pentingnya prinsip perdagangan adil (fair trade) agar petani memperoleh kompensasi yang layak. Ia juga menyebut sertifikasi kopi berkelanjutan seperti Organic, Fair Trade, UTZ, Rainforest Alliance, Bird Friendly, dan 4C dapat meningkatkan akses pasar sekaligus pendapatan petani, terutama untuk pasar global yang mensyaratkan standar keberlanjutan.

“Keberlanjutan kopi bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga isu keadilan sosial dan ekonomi,” tegas Fariz.

Menutup paparannya, Fariz mengajak konsumen berperan aktif melalui kebiasaan sederhana, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membawa tumbler, memilih kopi lokal, mengonsumsi kopi secara bijak agar tidak terbuang, serta mengelola ampas kopi dengan lebih bertanggung jawab.

“Hari ini kita belajar bahwa kopi bukan sekadar minuman. Mulai sekarang, mari nikmati kopi bukan hanya dengan lidah, tetapi juga dengan kesadaran. Karena menjaga kopi berarti menjaga nafas bumi,” pungkasnya.

Webinar tersebut menjadi ruang refleksi bahwa secangkir kopi yang dinikmati sehari-hari menyimpan tanggung jawab besar terhadap lingkungan dan masa depan pertanian berkelanjutan.