BOGOR — Persoalan energi tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) atau naiknya ongkos transportasi. Dampaknya merembet ke kebutuhan rumah tangga lain, mulai dari biaya listrik, harga gas, hingga harga sembilan bahan pokok dan bumbu dapur. Kondisi ini membuat banyak ibu rumah tangga harus mencari cara agar kegiatan memasak tetap berjalan.
Sejumlah strategi penghematan sudah umum dilakukan, seperti berburu sembako murah di toko grosir atau memilih produk subsidi. Untuk lauk dan bumbu dapur, sebagian warga menyiasatinya dengan berbelanja lebih siang di pasar tradisional agar mendapat harga obral menjelang tutup. Namun, pengeluaran untuk gas atau minyak tanah dinilai membutuhkan upaya lebih.
Di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, seorang warga bernama Mammi Donna (49) memilih kembali menggunakan tungku tradisional (hawuk) berbahan tanah liat atau kaleng. Tungku itu digunakan untuk memasak dengan bahan bakar dari serpihan kayu, kertas atau kardus bekas, serta botol plastik air mineral. Bahan-bahan tersebut dikumpulkan dari lingkungan sekitar rumah, sehingga memerlukan waktu dan tenaga tambahan.
“Kalau soal belanja dapur sama gas bukan sekarang aja hemat sebelum perang di Iran. Sudah setahun belakangan Kita masak pakai tungku yang apinya dari serpihan kayu dan botol plastik air mineral,” ujar Mammi Donna.
Ia menyadari penggunaan “sampah” sebagai bahan bakar kerap memunculkan penolakan karena dianggap tidak higienis. Namun, ia menegaskan sampah yang dimaksud berasal dari rumah sendiri, sementara yang diperoleh dari luar akan disortir terlebih dahulu.
Menurut Mammi Donna, serpihan kayu biasanya berasal dari barang-barang kecil seperti bekas sumpit, tusuk sate, pensil patah, atau ranting yang jatuh di sekitar rumah. Kadang, warga juga membawa pulang potongan kayu, bambu, atau triplex yang ditemukan di perjalanan. Ia menilai kayu menjadi bahan bakar yang paling ideal karena bau asapnya masih dapat ditoleransi dan sisa abunya tidak banyak.
Selain kayu, kertas dan kardus juga dimanfaatkan. Ia menyebut kertas berasal dari buku yang sudah tidak terpakai atau kertas tugas yang salah cetak, sedangkan kardus dari bungkus paket atau goodiebag lama. Bahan-bahan ini dianggap lebih bersih dan mudah didapat.
Jenis sampah yang menurutnya lebih merepotkan untuk dikumpulkan adalah botol plastik bekas air mineral atau minuman ringan. Botol-botol itu kadang dibawa pulang oleh anak-anak dari sekolah atau kampus. Sesekali, ia juga mencarinya di sekitar taman perumahan, warung, atau menemukannya di jalan. Setelah terkumpul, botol-botol tersebut dicuci seperlunya.
Mammi Donna menyebut plastik termasuk material yang cepat terbakar dan dapat menjaga nyala api lebih stabil, terutama setelah meleleh. Meski demikian, ia mengaku tidak merekomendasikan penggunaan plastik karena asapnya dapat menjadi tebal dan meninggalkan dampak di sekitar rumah.
“Tapi Saya enggak rekomendasikan plastik ya. Soalnya biar apinya stabil tapi asapnya kadang-kadang lumayan tebal. Jemuran juga suka rada item kena asapnya, makanya tetangga pernah protes dah,” katanya.

