Sejarah tidak selalu bertahan lewat buku pelajaran, arsip negara, atau monumen. Dalam banyak kasus, ingatan justru hidup di ruang-ruang keseharian seperti rumah, kebun, dapur, serta cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Salah satu jejak semacam itu berada di Bandung, di sebuah rumah kawasan Cipaganti yang kini dikenal sebagai restoran Dahapati.
Di lokasi tersebut, tersimpan kisah hubungan Indonesia dan Thailand yang muncul jauh sebelum hubungan diplomatik modern. Cerita itu terkait Pangeran Paribatra Sukhumbandhu (Parabatri II), bangsawan Thailand yang diasingkan ke Hindia Belanda pada 1932. Kisah pengasingannya dipandang bukan semata cerita jatuhnya seorang pangeran dari kekuasaan, melainkan juga kisah kemanusiaan di Asia Tenggara: tentang perubahan politik yang memaksa seseorang meninggalkan tanah air, serta tentang masyarakat lokal yang menerima orang asing sebagai bagian dari kehidupan bersama.
Bandung pada masa kolonial digambarkan bukan hanya sebagai kota wisata atau pusat arsitektur Eropa, tetapi juga ruang pertemuan berbagai bangsa dan latar belakang. Di kota ini, Pangeran Paribatra menjalani hidup dalam pengasingan—jauh dari istana, namun tetap bermartabat. Ia disebut berinteraksi dengan lingkungan sekitar, menanam anggrek, membangun rumah, dan hidup berdampingan dengan masyarakat setempat.
Jejak hubungan itu juga berlanjut melalui Kraba Nirwongse, pengawal perempuan yang datang ke Bandung saat masih sangat muda. Kraba kemudian memilih menetap, menikah dengan orang Sunda, dan membangun keluarga di Indonesia. Pilihan tersebut disebut sebagai keputusan hidup, bukan keputusan politik, namun dinilai menjadi simbol persahabatan lintas budaya yang bertahan lama.
Restoran Dahapati, yang berdiri di salah satu rumah peninggalan Pangeran Paribatra, dipandang sebagai penanda bahwa sejarah dapat berubah bentuk tanpa kehilangan makna. Meski demikian, kisah ini disebut masih kurang dikenal luas, baik di Indonesia maupun di Thailand. Padahal, narasi tersebut dinilai berpotensi menjadi cerita sejarah bersama yang dapat mendekatkan dua bangsa melalui pendekatan budaya dan seni.
Atas dasar itu, muncul harapan agar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia serta Pemerintah Thailand mempertimbangkan produksi film sejarah bersama yang mengangkat kisah Pangeran Paribatra dan warisan yang ditinggalkannya di Bandung. Film dinilai memiliki kekuatan untuk menjembatani sejarah dengan publik lintas generasi, tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga menumbuhkan empati.
Melalui film, masyarakat Indonesia diharapkan dapat melihat Thailand bukan semata sebagai mitra diplomatik, melainkan sebagai bagian dari sejarah yang pernah hadir di tanah ini. Sebaliknya, masyarakat Thailand dapat melihat Indonesia sebagai tempat yang pernah menjadi rumah aman dan bermartabat bagi seorang bangsawan Siam beserta pengiringnya.
Gagasan film bersama itu juga dipandang dapat memperkaya narasi Asia Tenggara dari sudut pandang kawasan sendiri, bukan melalui kacamata kolonial atau kekuatan besar dunia. Kerja sama perfilman Indonesia–Thailand disebut bukan sekadar proyek kreatif, melainkan upaya merawat ingatan bersama, sekaligus menegaskan bahwa hubungan antarbangsa tidak hanya dibangun lewat perjanjian resmi, tetapi juga oleh kisah-kisah keseharian yang sarat makna kemanusiaan.

