Pemerintah Vietnam melalui Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata tengah menyelesaikan draf proyek promosi dan pengembangan pariwisata kuliner Vietnam untuk periode 2026-2035. Draf tersebut akan diajukan kepada Perdana Menteri, dengan kuliner ditetapkan sebagai salah satu elemen inti dalam membangun merek pariwisata nasional.
Dalam sebuah lokakarya, Wakil Direktur Administrasi Pariwisata Nasional Vietnam Nguyen Thi Hoa Mai menyampaikan bahwa kuliner memiliki peran strategis dalam menarik wisatawan mancanegara. Ia menyebut lebih dari 80% wisatawan internasional memilih menikmati makanan lokal saat berwisata, dengan sekitar 25%–35% pengeluaran perjalanan dialokasikan untuk makanan dan minuman.
Menurut Hoa Mai, kontribusi kuliner tidak hanya terlihat dari pendapatan sektor pariwisata, tetapi juga dari efek pengganda terhadap ekonomi kreatif, ekonomi kehidupan malam, serta penguatan keterhubungan antarwilayah. Ia menambahkan, banyak negara memanfaatkan kuliner untuk membangun merek, bukan sekadar mempromosikan hidangan, melainkan dengan menghadirkan cerita sejarah, budaya, pengetahuan lokal, adat istiadat, dan gaya hidup melalui setiap sajian.
Proyek yang sedang disusun itu menargetkan Vietnam dapat masuk dalam lima destinasi kuliner paling menarik di Asia pada 2035.
Dalam forum yang sama, Wakil Direktur Institut Kebudayaan, Seni, Olahraga, dan Pariwisata Vietnam, Dr. Hoang Thi Binh, menilai Vietnam memiliki kekayaan kuliner yang terbentuk selama ribuan tahun sejarah. Ragamnya mencakup hidangan dari 54 kelompok etnis, mulai dari masakan kerajaan dan rakyat hingga makanan jalanan dan berbagai makanan khas daerah.
Ia juga mencatat sejumlah restoran Vietnam telah terpilih oleh Michelin Guide. Di beberapa daerah, pengembangan tur dan festival makanan turut mendorong kuliner menjadi keunggulan kompetitif bagi pariwisata.
Meski demikian, para ahli menilai potensi tersebut belum dimanfaatkan sepenuhnya. Produk wisata kuliner dinilai masih kurang memiliki pendekatan sistematis, sementara keterhubungan antara budaya, pariwisata, pertanian, dan industri kreatif belum kuat. Keterbatasan juga terlihat pada digitalisasi, pengembangan basis data, standardisasi produk, serta promosi merek nasional.
Sejumlah delegasi dalam lokakarya mengusulkan pembangunan ekosistem wisata kuliner yang terkoordinasi, pengembangan basis data dan peta kuliner nasional, serta penguatan peran pengrajin, koki, pelaku usaha, dan masyarakat. Langkah-langkah itu diharapkan dapat menjadikan kuliner sebagai produk wisata yang khas sekaligus meningkatkan daya saing pariwisata Vietnam.

