Pemupukan kerap menjadi penentu keberhasilan kebun sayur rumahan maupun budidaya skala lebih besar. Piramida Projects membagikan sejumlah pendekatan yang mereka terapkan untuk menjaga produktivitas tanaman sekaligus mempertahankan kualitas rasa panen. CEO Piramida Project, Taufik Azhari, menekankan bahwa kunci utamanya bukan sekadar menambah nutrisi, melainkan menjaga kesehatan tanah dan ekosistem kebun secara menyeluruh.
Berikut tujuh praktik pemupukan yang disampaikan Taufik berdasarkan pengalaman di kebunnya.
1. Beralih ke pupuk organik dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia
Taufik mengatakan Piramida Projects memilih kembali menggunakan pupuk organik setelah sempat mencoba pupuk kimia. Menurutnya, pupuk kimia memang memberi dampak cepat, tetapi berisiko menurunkan kualitas tanah dan memengaruhi rasa hasil panen dalam jangka panjang. “Dulu kami pernah pakai kimia-kimia kayak misalnya pupuk kimia dan lain-lain. Ternyata pas kita aplikasikan pupuk itu rasanya berubah. Beda,” ujarnya kepada reporter Liputan6.com pada Selasa, 13 Januari 2026.
Ia menjelaskan pupuk kimia memiliki basis “panas” yang dapat merusak struktur tanah. Dalam beberapa siklus panen, tanah bisa menjadi keras bahkan retak-retak. Kondisi media tanam yang menurun itu dapat mengganggu penyerapan nutrisi, yang kemudian berimbas pada kualitas rasa panen. Sebaliknya, pupuk organik dinilai membantu tanah tetap gembur dan subur sehingga dapat digunakan berulang tanpa penurunan kualitas yang cepat.
Untuk pemula, ia menyarankan memulai dengan kompos atau pupuk organik cair (POC) yang tersedia di toko pertanian, atau membuat pupuk organik sendiri. Piramida Projects sendiri menggunakan formulasi pupuk organik yang dikembangkan bersama pengelola mikroba di Yogyakarta.
2. Menyesuaikan nutrisi dengan fase vegetatif dan generatif
Taufik menekankan pentingnya membedakan kebutuhan nutrisi tanaman pada fase vegetatif dan generatif. Fase vegetatif adalah masa pertumbuhan daun, batang, dan akar yang membutuhkan nitrogen lebih tinggi. Sementara fase generatif—saat tanaman mulai berbunga dan berbuah—membutuhkan fosfor dan kalium lebih tinggi untuk mendukung pembentukan bunga dan buah.
Ia memberi contoh pada tanaman tomat. “Kalau di tomat ini kan ini dia masih masa pertumbuhan daun. Jadi kita memberikan pupuknya yang daun supaya daunnya cepat besar, pertumbuhannya cepat. Ketika dia sudah mulai untuk berbunga, itu kita mulai menggunakan pupuk yang buah,” katanya.
3. Memanfaatkan air kolam lele sebagai pupuk cair alami
Dalam sistem integrated farming yang mereka jalankan, air kolam ikan—khususnya lele—dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi tanaman. Menurut Taufik, air kolam lele kaya nutrisi karena mengandung amonia yang berasal dari kotoran ikan dan sisa pakan yang terurai. “Air lele itu kaya nutrisi karena adanya amonia dari lele yang diolah sendiri oleh mereka secara alami, yang itu bagus untuk tanaman,” ujarnya.
Ia menilai air kolam memberi nutrisi yang lebih kompleks dan mudah diserap, sekaligus membawa mikroorganisme yang mendukung kesuburan tanah. Praktik ini disebut dapat membantu menghemat biaya pupuk dan menjaga hasil panen tetap segar dengan rasa yang lebih natural.
4. Mengolah kompos dari alas kandang ayam dengan sistem “cekerator”
Piramida Projects juga memanfaatkan alas kandang ayam sebagai bahan kompos melalui metode yang mereka sebut “cekerator”. Intinya, alas kandang berupa daun kering atau sekam padi dibiarkan diolah secara alami oleh aktivitas ayam yang menggaruk dan mengaduk material tersebut bersama kotorannya.
“Kotoran diolah secara alami oleh ayamnya tanpa tangan kita yang kami sebut cekerator,” kata Taufik. Ia menyebut, dalam 3–4 bulan material tersebut dapat berubah menjadi kompos. Dalam satu periode sekitar tiga bulan, kompos yang dihasilkan bisa mencapai dua karung dan digunakan untuk kebutuhan kebun beberapa bulan berikutnya.
5. Meracik pupuk organik cair sendiri dengan mikroba unggul
Setelah mencoba berbagai produk komersial, Piramida Projects mengembangkan formulasi pupuk organik cair sendiri. Menurut Taufik, pemilihan mikroba menjadi faktor penting. “Mikroba itu juga banyak jenisnya, Mas. Jadi mikroba yang kami gunakan di produk kami itu memang betul-betul sudah diadu di beberapa jenis mikroba. Dan itulah yang paling bertahan, terkuat itu yang kami ambil setelah uji lab,” ujarnya.
Sebelumnya, mereka menggunakan EM4 yang memerlukan aktivasi dengan molase. Namun, proses tersebut dinilai kurang praktis, terutama bagi pemula. Karena itu, mereka bekerja sama dengan pengelola mikroba di Yogyakarta untuk membuat pengurai yang disebut lebih kuat dan dapat langsung aktif.
6. Mengatur frekuensi dan dosis: sedikit tapi rutin
Taufik menilai kesalahan yang sering terjadi adalah memberi pupuk dalam jumlah besar sekaligus. Ia menyarankan pendekatan “sedikit tapi sering” agar nutrisi terserap bertahap sesuai kebutuhan tanaman, sekaligus mengurangi pemborosan dan risiko tanaman stres.
Ia mencontohkan penggunaan pupuk organik cair yang mereka pakai. “Untuk satu pupuk itu saja itu bisa bertahan 3 bulan, Mas, karena penggunaannya sangat minim. Kayak misalnya seminggu sekali kita menggunakan pupuk itu hanya 5 mili untuk 1 liter air,” kata Taufik.
Untuk kebun rumahan tanpa sistem terintegrasi, ia menyebut POC bisa diberikan sekali seminggu, sedangkan kompos dapat diberikan sebulan sekali atau saat awal tanam. Dengan dosis kecil, satu liter POC disebut dapat bertahan hingga tiga bulan untuk kebun berukuran sedang.
7. Menjaga “kesehatan ekosistem” agar tanaman tidak stres
Selain urusan nutrisi, Piramida Projects menekankan perawatan kebun sebagai ekosistem. Menurut Taufik, tanaman yang stres cenderung menghasilkan buah atau sayur dengan kualitas rasa yang tidak optimal. “Tanaman yang stres akan menghasilkan buah atau sayur yang rasanya tidak optimal,” ujarnya.
Ia menyebut beberapa faktor yang dapat memicu stres pada tanaman, seperti kekurangan atau kelebihan air, serangan hama dan penyakit, nutrisi tidak seimbang, suhu ekstrem, serta tanah yang terlalu padat atau keras. Dalam kondisi stres, energi tanaman lebih banyak dipakai untuk bertahan hidup, bukan untuk membentuk daun atau buah yang berkualitas.
Untuk mencegahnya, Taufik menyarankan observasi harian singkat untuk melihat tanda-tanda seperti daun menguning, layu, atau pertumbuhan terhambat. Selain itu, penyiraman perlu konsisten—tidak membiarkan tanah kering total atau tergenang—serta pengendalian hama dilakukan dengan cara organik, misalnya menggunakan larutan bawang putih, cabai, atau daun pepaya. Ia juga menekankan pentingnya jadwal perawatan yang teratur agar tanaman tidak mengalami perubahan mendadak.
Rangkaian praktik tersebut, menurut Taufik, bertumpu pada satu prinsip: menjaga tanah dan ekosistem tetap sehat agar produktivitas meningkat dan kualitas rasa panen tetap terjaga.

