Acara Future Menus 2026 yang digelar Unilever Food Solutions (UFS) di Kota Ho Chi Minh pada 3 Juni memperkenalkan empat tren yang diperkirakan akan memengaruhi pasar kuliner global dalam waktu dekat. Dari empat tren tersebut, “akar kuliner” disebut sebagai tren dengan potensi pertumbuhan terkuat di Vietnam, berdasarkan penilaian 87% koki.
Tren akar kuliner menekankan nilai otentik masakan lokal. Di tengah perubahan preferensi konsumen, pengalaman bersantap tidak lagi sekadar soal rasa, tetapi juga tentang memahami kisah budaya di balik hidangan. Dalam konteks ini, bahan-bahan asli dan keahlian tradisional kembali mendapat perhatian dan menjadi pijakan bagi kreasi kuliner kontemporer.
Laporan UFS dan Ipsos mencatat, 82% penikmat kuliner ingin mencicipi hidangan yang mencerminkan identitas daerah. Perwakilan UFS Vietnam menyatakan konsumen kini tidak hanya mencari makanan yang lezat, tetapi juga tertarik pada asal bahan, orang yang menyiapkan makanan, serta narasi budaya yang menyertainya. Survei yang sama menemukan 57% responden bersedia membayar lebih untuk hidangan berbahan lokal, sementara 56% menyebut mereka memprioritaskan dukungan terhadap produk lokal.
Pham Thi Quynh Thi, Manajer Konsultan Strategy3 di Ipsos Vietnam, menilai kebangkitan kuliner lokal membuka peluang signifikan bagi industri makanan dan minuman domestik. Ia menyebut sejumlah bahan dan hidangan khas Vietnam yang sebelumnya hanya dikenal di daerah asal kini semakin dicari penikmat kuliner. Menurutnya, ketertarikan itu tidak semata untuk menikmati makanan, tetapi juga sebagai cara terhubung dengan nilai-nilai budaya setempat.
Selain akar kuliner, Future Menus 2026 juga menyoroti tiga tren lain yang diprediksi membentuk “peta kuliner masa depan”. Pertama, streetfood couture, yang menggambarkan pergeseran makanan jalanan dari pengalaman kasual menjadi lebih berkelas melalui teknik, bahan, dan presentasi. Kedua, kuliner tanpa batas, yang berfokus pada penciptaan ulang budaya melalui cita rasa dengan memadukan bahan dan teknik untuk menghadirkan pengalaman baru yang mudah diakses. Ketiga, menu yang dirancang oleh pelanggan atau menu yang dipersonalisasi, ketika pelanggan ingin lebih terlibat dalam membentuk pengalaman bersantap sesuai kebutuhan dan gaya pribadi.
Di tengah meningkatnya minat konsumen terhadap identitas dan pengalaman budaya, kebangkitan kembali nilai-nilai kuliner lokal dinilai tidak hanya membuka peluang bagi industri makanan dan minuman, tetapi juga membantu menghadirkan kisah-kisah regional Vietnam kepada khalayak domestik maupun internasional.

