Bagi sebagian orang, minum kopi telah menjadi bagian dari gaya hidup. Tradisi ngopi kerap dianggap berkiblat ke Amerika atau Australia. Namun jauh sebelum itu, kawasan Timur Tengah sudah memiliki budaya minum kopi yang bertahan hingga kini, salah satunya di Turki.
Di Turki, metode penyeduhan kopi dikenal unik. Jika pada umumnya kopi diseduh menggunakan air panas, Turkish Coffee justru dipanaskan dengan media pasir yang sangat panas. Masyarakat Turki meyakini panas dari pasir dapat menghasilkan pemanasan yang lebih konsisten dibandingkan pemanasan langsung dari api.
“Turki merupakan salah satu negara Timur Tengah yang memiliki metode seduh tertua dalam sejarah penyeduhan kopi yang menggunakan pasir panas,” ujar Moh Hasan, Food Beverage Manager Hotel Premier Place, kepada Basra, (24/10).
Peran Ibrik atau Cezva dalam Penyeduhan
Hasan menjelaskan, ciri khas metode seduh kopi ala Turki terletak pada penggunaan pot tembaga bernama cezva atau ibrik. Alat ini berukuran kecil dengan dasar yang lebar, mulut yang sempit, serta pegangan yang lebar.
Cara Membuat Kopi Turki dengan Pasir Panas
Dalam proses pembuatannya, kopi dituangkan melalui corong ibrik dan diberi air, lalu diaduk menggunakan sendok logam. Setelah itu, ibrik diletakkan di pasir panas sedalam beberapa sentimeter hingga proses pemanasan berlangsung.
Disajikan untuk Pengalaman Ngopi yang Berbeda
Hasan menuturkan, pihaknya menghadirkan kopi Turki untuk memberikan pengalaman ngopi yang berbeda bagi tamu hotel. Ia juga menyatakan keyakinannya bahwa menu tersebut dapat bertahan lama dan berpotensi menjadi minuman andalan di tempatnya.
Pengunjung hotel dapat memesan kopi ala Turki dengan pilihan jenis kopi Turki atau Arab. Menurut Hasan, perbedaan paling mencolok di antara keduanya terdapat pada rasa.
- Bubuk kopi Turki memiliki rasa rempah-rempah yang kuat.
- Bubuk kopi Arab merupakan campuran rempah dan jahe.
Hasan menyebut, secangkir Turkish Coffee ditawarkan seharga Rp 50.000 dan sudah termasuk martabak atau kebab.

