Tradisi bubak kawah masih dijumpai dalam rangkaian pernikahan adat Jawa di Desa Tambar, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang. Tradisi ini dilakukan sebagai simbol rasa syukur bagi keluarga yang впервые kali menikahkan anaknya.
Dalam pelaksanaannya, bubak kawah berupa berbagai perabot rumah tangga yang digantungkan pada sebatang bambu. Perabot tersebut kemudian dipanggul saat prosesi temu manten yang digelar setelah akad nikah.
Salah satu warga Desa Tambar menuturkan bahwa bubak kawah merupakan tradisi yang lazim dilakukan ketika seseorang menggelar mantu untuk pertama kalinya. “Kalau mantu pertama bikin ini, kita masih ikuti tradisi yang ada dengan membuat bubak kawah,” ujarnya, Sabtu (21/2/2021).
Sumaning, mantan perias pengantin adat Jawa, menjelaskan bahwa bubak kawah dipahami sebagai bentuk syukur kepada Tuhan karena keluarga mendapat kesempatan “membuka jalan” untuk pertama kali menikahkan anak. Menurutnya, tradisi tersebut telah ada sejak lama dalam pernikahan adat Jawa dan kerap dilakukan oleh keluarga yang memiliki hajat mantu pertama.
Ia menambahkan, saat temu manten, bubak kawah biasanya dipikul oleh seorang laki-laki. Setelah itu, terdapat momen ketika para tamu dipersilakan berebut mengambil peralatan dapur yang digantung, seperti panci, gayung, dan wajan.
“Peralatan dapur kayak panci, gayung, wajan dan lain-lain itu kan digandolin ke bambunya tadi dipikul dan nanti dibuat rebutan siapa saja yang mau ambil,” kata Sumaning.
Menurutnya, dalam tata cara pengantin adat Jawa, momen berebut bubak kawah seharusnya dilakukan saat prosesi temu manten. Namun, ia menyebut tidak jarang orang-orang sudah tidak sabar dan menarik-narik peralatan ketika bubak kawah masih dibawa, sehingga memunculkan suasana yang mengundang tawa. Meski demikian, ia menekankan bahwa inti tradisi ini adalah niat untuk bersyukur.
Soal alasan mengapa tradisi tersebut harus dilakukan dengan cara berebut dan menggunakan peralatan dapur, Sumaning mengaku tidak mengetahui secara pasti. Ia menyebut hal itu merupakan pakem yang diwariskan dari generasi terdahulu dan dijalankan sebagai bagian dari adat yang diyakini bermakna baik.

