BERITA TERKINI
Teater Kolosal Sangasanga Jadi Ruang Belajar Sejarah, Angkat Tema “Pembantaian”

Teater Kolosal Sangasanga Jadi Ruang Belajar Sejarah, Angkat Tema “Pembantaian”

SANGASANGA — Teater kolosal operet yang rutin digelar setiap tahun usai upacara Peringatan Peristiwa Merah Putih Sangasanga kembali menyita perhatian publik. Pertunjukan ini tidak hanya hadir sebagai hiburan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran sejarah yang dinilai kian langka, terutama bagi generasi muda yang semakin jauh dari narasi perjuangan.

Di tengah arus budaya populer dan informasi serba cepat, panggung sederhana di Sangasanga menghadirkan pengingat bahwa kemerdekaan tidak lahir dari kisah yang mudah, melainkan dari pengorbanan. Pelatih sekaligus sutradara teater kolosal, Suyono, menekankan seni dapat menjadi medium untuk menjaga ingatan sejarah.

“Jangan biarkan sejarah tenggelam. Kalau generasi muda tidak memahami perjuangan, nasionalisme akan rapuh,” kata Suyono, dikutip dari laman Pemkab Kukar, Sabtu (24/1/2026).

Pada pelaksanaan tahun ini, panitia memilih tema “Pembantaian”. Tema tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan kekejaman dan beratnya perjuangan rakyat dalam mempertahankan Merah Putih di Sangasanga. Pertunjukan dirancang tidak hanya menyentuh emosi penonton, tetapi juga mempertemukan mereka dengan realitas pahit masa lalu.

Suyono menilai teater kolosal dapat menjadi ruang edukasi yang efektif, khususnya bagi pelajar. Menurut dia, pengalaman menyaksikan pertunjukan secara langsung memberi pemahaman yang berbeda dibanding sekadar menghafal peristiwa.

“Anak-anak sekolah perlu melihat langsung bagaimana beratnya perjuangan meraih kemerdekaan. Bukan lewat hafalan, tapi lewat gambaran nyata pengorbanan jiwa dan raga,” ujarnya.

Persiapan pementasan berlangsung sekitar tiga minggu dan melibatkan 140 orang, termasuk 120 pemain. Para pemain berasal dari berbagai kelompok usia, mulai siswa SD hingga SMK, masyarakat umum, hingga para senior yang tetap terlibat dalam menjaga tradisi teater kolosal di Sangasanga.

Keterlibatan lintas generasi disebut menjadi salah satu kekuatan utama pementasan ini. Antusiasme warga juga dinilai tidak surut, dengan pertunjukan yang setiap tahun dinantikan sebagai hiburan bermakna sekaligus pengingat bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu.

Di sisi lain, masih terdapat catatan terkait dukungan pemerintah. Dalam informasi yang sama, disebutkan dukungan pemerintah sejauh ini baru berupa bantuan kaos dan konsumsi, sementara pada periode sebelumnya panitia menggerakkan kegiatan tersebut secara swadaya.