Ketertelusuran dan standardisasi rantai produksi disebut menjadi persyaratan utama bagi industri buah dan sayur untuk mencapai target nilai ekspor sebesar 10 miliar dolar AS. Sejalan dengan itu, Kementerian Pertanian dan Lingkungan Hidup menyiapkan rencana pembangunan dan pengoperasian sistem penelusuran produk pertanian yang terpadu, dengan pendekatan terpusat dan komprehensif yang menghubungkan produksi hingga konsumsi.
Melalui sistem tersebut, pemerintah menargetkan transparansi dan keterbukaan informasi terkait kualitas produk. Berdasarkan peta jalan yang disusun, mulai 1 Juli sistem ketertelusuran produk pertanian akan diterapkan untuk sebagian besar produk pangan penting.
Sistem ini akan mencatat informasi minimum, antara lain identitas petani yang berpartisipasi, informasi wilayah dan fasilitas produksi, waktu produksi dan panen, tahapan dalam rencana, serta informasi stempel otentikasi elektronik dan stempel ketertelusuran. Mekanisme pencarian data juga disiapkan melalui kode QR atau media data lain yang sesuai pada label produk.
Durian menjadi produk pertama yang diujicobakan dalam penerapan ketertelusuran. Dalam periode menuju Juli, nilai ekspor durian diperkirakan melampaui 4 miliar dolar AS.
Direktur Proyek Ketelusuran di Neta Group, Bui Thi Bich Tham, menyatakan seluruh produk pertanian Vietnam akan diberi label stempel yang menggabungkan teknologi anti-pemalsuan dari Kementerian Keamanan Publik. Ia juga menyebut akan diterbitkan standar integrasi untuk penyedia solusi dan pelaku usaha ekspor, sehingga data produk yang dikumpulkan dapat terhubung dan terpusat dalam sistem ketelusuran milik Kementerian Pertanian dan Lingkungan Hidup. Menurutnya, data terpusat tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk regulasi ekonomi makro negara dan pemerintah.
Di tingkat produksi, pengalaman pasar menunjukkan ketertelusuran kian dipandang sebagai “paspor” bagi produk pertanian Vietnam untuk menembus pasar utama. Wilayah penghasil buah di Delta Mekong dilaporkan berfokus pada peningkatan kualitas serta infrastruktur ketertelusuran untuk kebutuhan ekspor, termasuk melalui penguatan hubungan dengan pelaku usaha agar rantai nilai lebih transparan.
Salah satu contoh datang dari Koperasi Pertanian Xom Dong 2 di Kota Can Tho, yang memasuki musim panen sapodilla mentega merah muda untuk ekspor. Tahun ini, koperasi mencatat harga yang baik sekaligus panen yang lebih melimpah, dengan hasil meningkat sekitar 30% dibandingkan tahun lalu.
Direktur Koperasi Pertanian Xom Dong 2, Tran Van Phuong, mengatakan pada awal musim perusahaan datang untuk menegosiasikan kesepakatan dengan koperasi. Kedua pihak kemudian menandatangani kontrak dengan harga yang disebut lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Sapodilla mentega merah muda memiliki kulit tipis sehingga rentan tergores selama pengangkutan. Namun, penerapan solusi teknis oleh petani membuat buah ini kini dapat diekspor dan diterima konsumen dengan warna yang tetap menarik serta kualitas yang baik. Petani anggota koperasi, Pham Van Dao, menyebut buah mereka padat karena menggunakan banyak metode pertanian organik.
Komoditas lain yang juga disebut bernilai tinggi adalah lengkeng. Kebun-kebun di Can Tho dilaporkan memasuki panen melimpah, dengan harga jual berkisar 70.000 hingga 90.000 VND per kilogram. Pada 2025, Kota Can Tho mengelola total 605 kode area tanam yang mencakup hampir 10.000 hektar, dengan 541 kode memenuhi persyaratan ekspor ke pasar seperti Tiongkok, AS, Australia, Uni Eropa, dan Jepang.
Penguatan pemantauan, penelusuran, dan penerbitan kode fasilitas pengemasan terus dilakukan untuk mendorong standardisasi produksi secara bertahap, meningkatkan kualitas produk pertanian, serta memperluas pasar ekspor. Kepala Dinas Produksi Tanaman dan Perlindungan Tanaman Kota Can Tho, Pham Thi Minh Hieu, menyatakan pihaknya akan bekerja sama dengan petani agar produksi mengikuti prosedur dan standar. Ia juga menekankan penetapan kode area tanam untuk menciptakan transparansi produk dan membantu petani serta pelaku usaha terhubung melalui produk yang asalnya dapat dilacak.
Ke depan, berdasarkan program percontohan, pada periode 2027–2030 sistem ketelusuran produk pertanian akan terus ditingkatkan dan disempurnakan secara komprehensif. Pengembangan ini ditujukan agar pencatatan dan pengelolaan informasi dapat mencakup seluruh tahapan, mulai dari produksi, pengadaan, pengolahan awal, pengemasan, hingga transportasi dan distribusi.
Data ketelusuran juga direncanakan terhubung dan tersinkron dengan Portal Ketelusuran Nasional serta basis data terkait, sehingga dapat mendukung manajemen negara sekaligus aktivitas produksi dan bisnis.

