Kekhawatiran sejumlah orangtua siswa di Batam meningkat menyusul rentetan kasus makanan bermasalah dalam program Makan Bergizi (MBG) beberapa waktu terakhir. Meski program ini bertujuan meningkatkan gizi anak sekolah, munculnya peristiwa seperti lauk basi dan gangguan pencernaan yang dialami siswa membuat sebagian orangtua merasa cemas setiap jam makan siang.
Salah satu orangtua murid SD di Batuaji, Nurliza, mengaku sempat waswas setelah mengikuti pemberitaan terkait kasus tersebut. Ia menyatakan mendukung program MBG, namun meminta agar kualitas makanan lebih dijaga. Menurutnya, anak-anak tidak semestinya menjadi korban akibat kelalaian.
Merespons situasi itu, Pemerintah Kota Batam melalui penyedia Sentra Satuan Penyedia Gizi (SSPG) mengambil langkah untuk memperkuat pengawasan dan transparansi. Salah satu kebijakan yang diberlakukan adalah mewajibkan seluruh SSPG memposting menu makanan harian di media sosial, terutama Instagram, agar masyarakat dapat memantau menu yang disajikan setiap hari.
Koordinator SPPG Batam, Defri Frenaldi, mengatakan kebijakan tersebut ditujukan untuk mendorong keterbukaan sekaligus memulihkan kepercayaan publik. Ia menyebut masyarakat dapat melihat langsung menu yang disediakan dan menyampaikan laporan apabila ditemukan masalah. Sekolah juga diimbau segera berkoordinasi agar makanan yang bermasalah dapat cepat ditarik.
Saat ini, tercatat 74 dapur SSPG telah mengantongi surat keputusan (SK) resmi di Batam, dengan 59 di antaranya aktif beroperasi. Total penerima manfaat MBG mencapai 18.874 siswa dari berbagai jenjang pendidikan, meliputi 73 PAUD, 156 SD, 91 SMP, 55 SMA/SMK, serta satu SLB, termasuk lembaga RA, MI, MA, dan Posyandu.
Di tengah capaian tersebut, kepercayaan publik disebut menjadi tantangan utama. Kasus makanan bermasalah berdampak pada menurunnya minat sebagian siswa untuk menyantap menu MBG. Sejumlah orangtua juga memilih membawakan bekal sendiri untuk memastikan keamanan makanan anak mereka.
Defri menegaskan perlunya evaluasi dan peningkatan mutu layanan agar program berjalan sesuai motto MBG, yakni Sehat, Bergizi, dan Bahagia. Ia menilai satu kasus saja dapat langsung menurunkan kepercayaan masyarakat.
Melalui sistem pelaporan dan kewajiban unggah menu harian, pemerintah berharap pengawasan dapat berjalan dua arah, baik dari penyelenggara maupun masyarakat. Transparansi dinilai menjadi kunci untuk memastikan setiap porsi makanan yang disajikan aman bagi anak-anak di sekolah.

