Ratusan warga memadati Halaman Tugu Pahlawan, Surabaya, Sabtu (30/5/2026) sore, menikmati suasana langit senja berwarna jingga. Sejumlah pengunjung menggelar tikar dan menghabiskan waktu bersama keluarga maupun teman dalam suasana santai.
Keramaian itu merupakan bagian dari gelaran Senja Budaya, acara interaktif dalam rangka perayaan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, 30–31 Mei 2026, dan menghadirkan konsep ruang publik terbuka di kawasan cagar budaya Tugu Pahlawan.
Pemerintah Kota Surabaya mengusung konsep lesehan ala cangkrukan khas Suroboyoan, berbeda dengan gelaran tahun-tahun sebelumnya yang lebih identik dengan acara formal atau konsep “Night at The Museum”. Kepala UPTD Museum dan Gedung Seni Balai Budaya Kota Surabaya, Saidatul Ma’munah, mengatakan konsep tersebut dihadirkan untuk memperkuat kedekatan antargenerasi di ruang terbuka.
“Senja Budaya tahun ini hadir dengan konsep berbeda. Kita membawa suasana budaya lebih dekat melalui ruang publik terbuka di Tugu Pahlawan. Kalau tahun lalu murni jadul dan ada nonton bareng (nobar), kali ini kita padukan dengan sentuhan modern. Kami sediakan tikar-tikar estetik kekinian agar anak-anak muda dan keluarga betah bersantai menikmati senja,” ujar Saidatul Ma’munah saat ditemui di lokasi.
Menjelang matahari terbenam, lampu dekorasi mulai menyala. Sejumlah stan kuliner tradisional turut menarik perhatian pengunjung. Menurut Saidatul, kegiatan ini juga menjadi upaya mengenalkan kembali kuliner lokal yang mulai jarang ditemui, seperti kue rangin, putu, hingga semanggi Suroboyo.
“Kita kolaborasikan antara kuliner tempo dulu dengan makanan modern. Tujuannya jelas, kita ingin menggali dan mengenalkan kembali sejarah serta identitas Surabaya kepada anak-anak muda lewat rasa dan visual yang menarik,” katanya.
Selain kuliner, anak-anak terlihat mencoba permainan tradisional yang difasilitasi Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI). Suasana sore dilengkapi dengan alunan musik pop Jawa modern. Hingga Sabtu petang, tercatat lebih dari ratusan pengunjung menukarkan tiket masuk seharga Rp5.000. Penyelenggara menargetkan total 10.000 pengunjung selama dua hari pelaksanaan, dengan acara berlangsung hingga pukul 22.00 WIB.
Hiburan rakyat juga disiapkan dalam rangkaian acara. Pada Sabtu malam dijadwalkan penampilan Ludruk Luntas, sementara pada hari berikutnya digelar pertunjukan Ludruk RRI.
Salah satu pengunjung, Audina Putri (18), mengaku baru pertama kali menghadiri acara kebudayaan berkonsep ruang terbuka di Tugu Pahlawan. Ia datang bersama teman-temannya setelah mendapat rekomendasi dari kenalan.
“Suasananya saya lihat cukup ramai dan seru banget. Banyak anak kecil, remaja, sampai orang tua berkumpul di sini. Menyenangkan sekali karena ada live music-nya juga, jadi kita bisa kulineran bareng keluarga atau teman dengan santai,” ujarnya.
Audina menyebut deretan kuliner tradisional menjadi alasan utama ia tertarik datang. Ia dan teman-temannya sempat mencoba nasi pecel yang tersedia di lokasi.
“Tertarik ke sini karena kulinernya sih, Kak. Kebetulan tadi kami sudah mencoba nasi pecelnya. Rasanya enak banget, pas dinikmati sore-sore seperti ini,” katanya.
Ia berharap acara dengan suasana hangat dan tradisional dapat lebih sering digelar agar generasi muda semakin mengenal permainan dan makanan khas daerah.
“Harapannya, event seperti ini bisa lebih sering diadakan. Supaya generasi muda dan anak-anak kecil sekarang bisa tahu, kenal, dan tidak lupa dengan permainan serta makanan tradisional asli kita,” ujarnya.

