Samsung Electronics mencetak sejarah sebagai perusahaan pertama di Korea Selatan yang kapitalisasi pasarnya menembus 1.000 triliun won. Nilai tersebut setara sekitar Rp 11.489,3 triliun.
Pencapaian ini juga menjadi kali pertama satu emiten tunggal di indeks Korea Composite Stock Price Index (KOSPI) mencatat kapitalisasi pasar setinggi itu.
Rekor tersebut terjadi pada perdagangan Kamis (22/1/2026) ketika saham Samsung naik 6.900 won ke level 156.400 won. Pada harga itu, kapitalisasi saham biasa Samsung mencapai sekitar 927 triliun won atau kira-kira Rp 10.650,6 triliun.
Selain saham biasa, saham preferen Samsung yang diperdagangkan di level 114.400 won menyumbang nilai sekitar 93,4 triliun won atau sekitar Rp 1.071,8 triliun. Jika digabungkan, total kapitalisasi pasar Samsung Electronics menembus sekitar 1.020 triliun won atau setara Rp 11.704,9 triliun.
Kinerja Samsung sepanjang setahun dinilai solid, terutama ditopang bisnis semikonduktor (chip) di tengah ledakan kecerdasan buatan (AI). Kondisi ini diyakini memberi sentimen positif bagi investor dan mendorong kenaikan harga saham.
Pada kuartal IV 2025, Samsung tercatat membukukan laba operasional kuartalan sebesar 20 triliun won atau sekitar Rp 229,4 triliun. Capaian itu menjadi yang tertinggi dalam sejarah perusahaan, sekaligus menjadikan Samsung sebagai perusahaan Korea pertama yang mencatat laba operasional kuartalan di atas 20 triliun won.
Secara kumulatif, laba operasional Samsung Electronics sepanjang 2025 diperkirakan mencapai 43,53 triliun won atau setara Rp 499,3 triliun. Angka ini merupakan laba tahunan terbesar keempat dalam sejarah perusahaan, setelah rekor 58,89 triliun won pada 2018, 53,65 triliun won pada 2017, dan 51,63 triliun won pada 2021.
Dari sisi pendapatan, Samsung membukukan penjualan tahunan sebesar 332,77 triliun won atau lebih dari Rp 3.817,3 triliun. Nilai tersebut melampaui rekor sebelumnya 302,23 triliun won pada 2022 dan menjadi rekor penjualan tertinggi baru setelah tiga tahun.
Pengamat industri menilai momentum positif Samsung masih berpeluang berlanjut seiring meningkatnya kebutuhan chip untuk pusat data AI, komputasi berperforma tinggi, serta berbagai layanan berbasis AI.

