BERITA TERKINI
PERSAGI Soroti Rendahnya Konsumsi Buah dan Sayur, Hanya Sekitar 5 Persen Sejak 2007

PERSAGI Soroti Rendahnya Konsumsi Buah dan Sayur, Hanya Sekitar 5 Persen Sejak 2007

Ketua Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) Doddy Izwardy menekankan perlunya perubahan perilaku masyarakat dalam menerapkan pola makan sehat. Menurut dia, persoalan gizi tidak semata-mata berkaitan dengan ketersediaan pangan, tetapi juga kebiasaan makan sehari-hari.

Doddy menyebut pedoman gizi seimbang sudah jelas, namun edukasi gizi dinilai tidak mudah. Ia menyoroti rendahnya konsumsi buah dan sayur di Indonesia yang, menurutnya, sejak 2007 hanya sekitar 5 persen, meski beragam komoditas seperti pepaya, mangga, dan alpukat tersedia di pasar.

Ia juga mencontohkan bahwa meski sebagian masyarakat dapat menanam sendiri bahan pangan seperti pepaya atau singkong, tidak semuanya terbiasa mengonsumsi buah dan sayur secara rutin. Dalam pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG), Doddy mengatakan masih ditemukan buah dan sayur yang terbuang karena tidak dimakan.

Menurut Doddy, buah dan sayur merupakan sumber vitamin dan mineral. Ia mendorong masyarakat membiasakan diri melihat komposisi “isi piringku” untuk memastikan keseimbangan antara karbohidrat, protein, serta vitamin dan mineral. “Ini soal perubahan perilaku,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (25/1/2026).

Di sisi lain, Doddy menyampaikan Indonesia telah mencatat kemajuan dalam penurunan angka stunting selama satu dekade terakhir. Ia menyebut prevalensi stunting turun dari 30,8 persen pada 2018 menjadi 19,8 persen berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia.

Meski demikian, ia mengingatkan tantangan berikutnya adalah mempertahankan capaian tersebut sekaligus menurunkannya lebih jauh sesuai target nasional. Doddy menyebut target 2029 berada di angka 14,2 persen, dan menuju 2045 diharapkan turun menjadi 5 persen.

Dalam konteks itu, Doddy menilai peran ahli gizi penting, termasuk dalam menyusun perencanaan menu, menghitung kebutuhan protein seperti telur, serta memastikan keseimbangan gizi dalam satu hari, bukan hanya pada satu kali makan. Ia mengatakan PERSAGI akan terus melakukan edukasi secara berkelanjutan.

Sebagai bagian dari upaya edukasi gizi, PERSAGI menggelar lomba yang diikuti mahasiswa Program Studi Diploma III Gizi serta Program Studi Sarjana Terapan dan Dietetika. Kegiatan tersebut turut dihadiri alumni gizi angkatan 1971 dan 1972, Ketua DPP PERSAGI, serta Direktur Poltekkes Kemenkes Jakarta II.

Peringatan Hari Gizi Nasional setiap 25 Januari disebut menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang peran gizi bagi kesehatan, produktivitas, dan kualitas sumber daya manusia. Pada peringatan ke-66, isu gizi masih menjadi perhatian, termasuk stunting, gizi kurang, anemia, obesitas, serta meningkatnya penyakit tidak menular.