Ketua Umum DPP Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Doddy Izwardy menilai perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci dalam membangun pola makan sehat. Menurut dia, persoalan gizi tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan, tetapi juga kebiasaan konsumsi sehari-hari.
Doddy menyoroti rendahnya konsumsi buah dan sayur di Indonesia. Ia menyebut, meski pedoman gizi seimbang sudah jelas dan buah-buahan seperti pepaya, mangga, serta alpukat mudah ditemukan di pasar, tingkat konsumsi buah dan sayur sejak 2007 masih rendah, sekitar 5 persen.
Ia mencontohkan, banyak masyarakat sebenarnya dapat menanam pepaya atau singkong, namun tidak semuanya terbiasa mengonsumsi buah dan sayur secara rutin. Doddy juga menyebut, dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih ditemukan buah dan sayur yang terbuang karena tidak dimakan.
Menurut Doddy, buah dan sayur merupakan sumber vitamin dan mineral. Ia mendorong masyarakat membiasakan diri dengan konsep “Isi Piringku” untuk memahami porsi karbohidrat, protein, serta kebutuhan vitamin dan mineral dalam satu piring. Ia menegaskan, upaya perbaikan gizi memerlukan pembiasaan yang berkelanjutan.
Doddy menambahkan, peran ahli gizi penting dalam menyusun perencanaan menu, menghitung kebutuhan protein seperti telur, serta memastikan keseimbangan gizi dalam satu hari, bukan hanya pada satu kali makan.
Di sisi lain, Doddy menyampaikan Indonesia mencatat kemajuan dalam penurunan angka stunting dalam satu dekade terakhir. Ia menyebut prevalensi stunting turun dari 30,8 persen pada 2018 menjadi 19,8 persen berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia.
Meski demikian, ia mengingatkan tantangan berikutnya adalah mempertahankan capaian sekaligus menurunkan angka stunting lebih jauh sesuai target nasional. Doddy menyebut target 2029 berada di angka 14,2 persen, sementara menuju 2045 ditargetkan mencapai 5 persen. Ia menekankan pentingnya inovasi serta edukasi berkelanjutan, termasuk melalui peran Persagi dan tenaga gizi.

