BERITA TERKINI
Pasokan ke 25 Dapur MBG Dongkrak Permintaan Buah di Pasar Induk Kramat Jati pada 2026

Pasokan ke 25 Dapur MBG Dongkrak Permintaan Buah di Pasar Induk Kramat Jati pada 2026

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah sejak awal 2025 mulai memberi dampak nyata bagi perdagangan komoditas segar. Di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, pedagang buah merasakan peningkatan permintaan seiring kebutuhan pasokan rutin untuk dapur-dapur MBG di berbagai titik wilayah Jakarta.

Salah satu pedagang yang merasakan perubahan tersebut adalah Gandi Fanani. Menurutnya, keberadaan dapur MBG membentuk rantai pasok baru yang membutuhkan ketersediaan buah berkualitas setiap hari. Dalam skema MBG, buah menjadi komponen yang harus hadir dalam setiap porsi makan, sehingga pedagang dituntut memperkuat kapasitas distribusi sekaligus pengelolaan stok agar pasokan tetap konsisten.

Berbeda dengan penjualan ritel konvensional, pengadaan yang terpusat pada dapur MBG membuat alur distribusi lebih terukur. Pola suplai yang dilakukan secara berkelanjutan memberi pedagang kepastian pasar yang lebih stabil untuk mendukung operasional dapur setiap hari.

Dari sisi skala, kebutuhan harian dapur MBG mendorong efisiensi logistik yang lebih tinggi. Rata-rata satu dapur membutuhkan sekitar 250 kilogram buah segar per hari. Dalam praktiknya, satu pedagang dapat bertanggung jawab menyuplai kebutuhan untuk 25 dapur MBG. Pengiriman dilakukan pada dini hari untuk menjaga kesegaran, sementara buah yang dikirim harus melalui proses sortasi ketat agar memenuhi standar gizi dan keamanan pangan yang ditetapkan pemerintah.

Peningkatan volume permintaan ini juga diiringi tantangan, terutama fluktuasi harga di tingkat petani. Namun, dengan sistem kontrak yang lebih jelas, pedagang memiliki ruang untuk mengatur arus kas dan menjaga stabilitas harga di tingkat dapur.

Dampak ekonomi dari keterlibatan pedagang dalam rantai pasok MBG terlihat dari perubahan skala distribusi harian yang disebut meningkat lebih dari empat kali lipat dibanding sebelum terlibat program. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa MBG tidak hanya berfungsi sebagai inisiatif sosial, tetapi juga menjadi penggerak aktivitas ekonomi bagi pedagang kecil dan menengah.

Untuk menjaga kelancaran suplai ke 25 dapur setiap hari, pedagang perlu menerapkan manajemen operasional yang lebih disiplin. Langkah yang dilakukan antara lain memperkuat jaringan dengan petani agar pasokan tidak terputus, mengoptimalkan armada angkut agar pengiriman tepat waktu, menerapkan pencatatan stok secara digital, memastikan pengemasan dengan standar higienis, serta melakukan evaluasi rutin dengan pengelola dapur agar jenis buah dapat menyesuaikan menu mingguan.

Di tingkat pasar, efek program ini tidak hanya dirasakan pedagang buah. Aktivitas distribusi turut menggerakkan pihak lain seperti buruh panggul, penyedia jasa transportasi, hingga petani di daerah asal buah. Bagi pedagang, peningkatan omzet membuka peluang memperluas usaha atau meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Ke depan, tantangan utama adalah menjaga konsistensi kualitas buah di tengah lonjakan permintaan. Sinergi antara pemerintah, pengelola pasar, dan pedagang dinilai menjadi kunci agar pelaksanaan program tetap efektif. Dengan sistem yang mulai terbentuk, Pasar Induk Kramat Jati disebut dapat menjadi contoh adaptasi pasar tradisional terhadap kebutuhan program nasional, yang diharapkan dapat diterapkan di pasar lain untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong ekonomi lokal.