Ramadhan menjadi bulan yang dinanti umat Muslim di berbagai belahan dunia. Pada bulan ini, ibadah semakin ditingkatkan, termasuk menjalankan puasa yang dilakukan dengan menahan makan dan minum sejak terbit fajar hingga matahari terbenam.
Namun, bagi perantau dan mahasiswa yang tinggal jauh dari keluarga, Ramadhan dapat terasa lebih berat. Rasa rindu pada kebersamaan di rumah, kebiasaan sahur dan berbuka bersama, hingga momen refleksi dalam doa bisa memunculkan emosi yang naik turun dan berdampak pada kondisi mental.
Bagi mereka yang masih beradaptasi dan merindukan suasana Ramadhan di kampung halaman, ada sejumlah cara yang dapat dicoba agar ibadah tetap nyaman dan bermakna. Berikut beberapa tips yang dirangkum dari laman Study Australia.
Tetap terhubung dengan keluarga
Menjaga komunikasi dapat membantu mengurangi rasa sepi selama Ramadhan. Perantau dapat menghubungi keluarga melalui telepon atau panggilan video. Meski terkadang ada perbedaan zona waktu, komunikasi tetap bisa dimanfaatkan untuk berbagi cerita, mengabari aktivitas selama Ramadhan, hingga bertukar informasi menu sahur dan berbuka.
Temukan teman untuk merayakan Ramadhan
Kebersamaan menjadi salah satu hal yang kerap dirindukan saat Ramadhan. Untuk mengatasinya, perantau bisa membentuk grup percakapan dengan teman-teman yang juga berpuasa. Salah satu ide yang bisa dilakukan adalah membuat agenda berbuka bergiliran, misalnya konsep “Ramadhan Roulette”, di mana setiap minggu satu orang bergantian menjadi tuan rumah berbuka bersama. Selain menjaga kebersamaan, cara ini juga dapat memperkenalkan ragam makanan dari latar budaya yang berbeda.
Mencari tempat yang menyediakan menu iftar
Perantau dapat mencari restoran halal untuk dikunjungi bersama teman, terutama yang menyediakan menu halal dan pilihan iftar. Bagi mahasiswa, masjid atau musala yang menyediakan hidangan berbuka puasa dan sahur gratis juga bisa menjadi alternatif. Selain membantu kebutuhan makan, suasana kebersamaan di tempat ibadah dapat membuat Ramadhan terasa lebih hangat.
Istirahat yang cukup
Menjaga kondisi tubuh selama puasa juga penting. Tidak memaksakan diri, terutama dengan mengurangi latihan fisik berat yang bisa melemahkan daya tahan tubuh, dapat membantu menjaga kebugaran. Aktivitas seperti jalan kaki atau yoga bisa menjadi pilihan olahraga ringan. Tetap terhubung dengan komunitas juga dapat dilakukan melalui kegiatan sederhana, misalnya mendengarkan podcast yang memberi motivasi selama bulan Ramadhan.
Dengan menjaga komunikasi, membangun kebersamaan, mencari lingkungan yang mendukung, dan memperhatikan kesehatan, perantau tetap dapat menjalani Ramadhan dengan lebih nyaman, khusyuk, dan bermakna meski jauh dari keluarga.

