Kasus tenggelamnya balita kembar di Desa Babadan, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada Jumat, 10 Januari 2025, menyita perhatian publik. Dua balita berusia sekitar satu tahun itu dikabarkan tercebur ke kolam ikan di depan rumah saat orangtuanya tidur siang di dalam rumah.
Mengalami peristiwa tragis yang melibatkan anak disebut sebagai salah satu pengalaman paling menyakitkan bagi orangtua. Rasa bersalah kerap muncul dan menjadi beban berat, terlebih ketika orangtua merasa kejadian tersebut berkaitan dengan kelalaian atau hal yang seharusnya bisa dicegah.
Psikolog Anak Gloria Siagian M. Psi. menjelaskan, orangtua perlu mengelola rasa bersalah agar tidak berkembang menjadi masalah yang lebih serius. Berikut lima langkah yang disarankan untuk membantu orangtua menghadapi perasaan tersebut.
1. Menerima kejadian dan menjadikannya pelajaran
Gloria menekankan langkah pertama adalah mengikhlaskan apa yang telah terjadi. Menurutnya, peristiwa tidak bisa diputar kembali, sehingga yang dapat dilakukan adalah menerima dan belajar dari kejadian itu. Menerima situasi bukan berarti melupakan, melainkan menjadi awal untuk mengolah emosi dan melanjutkan hidup dengan lebih bijaksana.
2. Menghindari tekanan dari media sosial
Media sosial dapat menambah tekanan bagi orangtua, terutama melalui komentar negatif atau penghakiman dari orang asing. Gloria menyarankan agar orangtua melakukan jeda atau “detoks” dari media sosial supaya tidak terpapar komentar yang dapat memperburuk kondisi emosional. Mengurangi paparan pemicu emosi negatif dinilai penting untuk menjaga kesehatan mental di masa sulit.
3. Berada di lingkungan yang mendukung
Dukungan pasangan dan keluarga besar turut berperan dalam proses pemulihan emosi. Lingkungan yang positif membantu orangtua merasa diterima dan tidak semakin menyalahkan diri. Sebaliknya, jika keluarga ikut bersikap toksik dan menghakimi, rasa bersalah bisa semakin berat. Karena itu, keluarga diharapkan menjadi tempat aman untuk berbagi perasaan tanpa takut dihakimi.
4. Mencari bantuan profesional
Gloria menyebut tidak semua orangtua mampu mengatasi rasa bersalah sendirian, apalagi jika berkembang menjadi kondisi serius seperti depresi. Dalam situasi tersebut, ia menilai bantuan profesional menjadi kebutuhan. Konsultasi dengan psikolog atau konselor dapat membantu orangtua mengolah emosi secara lebih sehat, terutama saat berada dalam fase duka dan cenderung menyalahkan diri karena kehilangan anak.
5. Mendekatkan diri pada agama
Bagi sebagian orang, spiritualitas dapat menjadi penopang saat menghadapi masa sulit. Gloria menyarankan orangtua mendekatkan diri pada agama untuk membantu menghadapi rasa bersalah. Ibadah, doa, atau kegiatan keagamaan lainnya dapat memberi ketenangan batin dan membantu melihat kehidupan dari perspektif yang lebih luas.

