Nasi Pecel Tumpang Mbah Mi, Warung Legendaris Kertosono Berdiri Sejak 1961

Nasi Pecel Tumpang Mbah Mi, Warung Legendaris Kertosono Berdiri Sejak 1961

Nasi pecel tumpang dikenal sebagai salah satu kuliner khas Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Di wilayah ini, penjual pecel tumpang mudah ditemui, namun salah satu yang kerap disebut legendaris adalah Warung Nasi Pecel Tumpang Mbah Mi yang berdiri sejak 1961.

Pada Jumat (3/2), warung ini didatangi di sebuah lokasi yang berada di dalam gang dan cukup jauh dari jalan utama. Alamatnya berada di Dusun Jabon, Desa Pandantoyo, Kecamatan Kertosono. Warung memanfaatkan emperan rumah bernuansa joglo dan tidak memasang banner atau spanduk besar; di bagian depan hanya terlihat tulisan imbauan untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.

Menu, pilihan lauk, dan harga

Warung Mbah Mi menjual nasi pecel tumpang dengan tiga pilihan: campur (pecel dan tumpang), pecel saja, atau tumpang saja. Di meja juga tersedia beberapa lauk, antara lain tahu goreng, sate ayam, dan sate telur puyuh.

  • Nasi per pincuk: Rp5.000
  • Tahu goreng: Rp500
  • Sate ayam: Rp2.000 per tusuk
  • Sate telur puyuh: Rp2.500 per tusuk

Suasana warung pada pagi hari terpantau ramai. Pembeli datang beragam, mulai dari rombongan hingga pengunjung yang datang sendiri atau berdua. Karena tempat duduk yang tersedia hanya beberapa set kursi di ruang tamu dan teras, interaksi antara pembeli dan penjual pun terasa dekat, diselingi obrolan ringan saat makanan disantap.

Diteruskan keluarga setelah Mbah Mi wafat

Penjual di warung pagi itu adalah Ibu Ningsih (57), menantu Mbah Mi. Ia menyampaikan bahwa Mbah Mi telah meninggal sekitar empat tahun lalu. Semasa hidup, Mbah Mi disebut meninggal pada usia 91 tahun dan masih aktif berjualan hingga usia lanjut.

Menurut penuturan Ibu Ningsih, pada awalnya Mbah Mi berjualan nasi pecel dengan berkeliling. Dagangan disunggi dan diletakkan pada tumbu bambu yang kemudian digendong. Rute jualannya antara lain dari pos gardu samping rumah, kemudian ke depan SMP Negeri 3 Kertosono, berlanjut ke depan pegadaian di Jl. Gatot Subroto, Kutorejo, Kertosono. Setelah itu, Mbah Mi menuju Pasar Wage (kini sudah pindah karena kebakaran) untuk berbelanja bahan dagangan keesokan hari. Ibu Ningsih saat itu bertugas mengantar ke titik-titik mangkal.

Sekitar 14 tahun sebelum meninggal, Mbah Mi berhenti berkeliling dan membuka warung sederhana di emperan rumah. Warung ini kemudian dibantu anak dan menantu, serta buka dua kali sehari: pagi dan sore.

Seusai Mbah Mi meninggal, usaha diteruskan keluarga dengan pembagian jadwal. Untuk pagi pukul 07.00–10.00 dijalankan Ibu Ningsih bersama suaminya, Pak Sabar (anak Mbah Mi nomor 2). Sementara jadwal sore pukul 17.00–23.00 menjadi giliran Ibu Sri, anak bungsu Mbah Mi (nomor 6).

Bumbu tumpang dan aktivitas produksi harian

Ibu Ningsih menyebut bumbu yang digunakan merupakan warisan dari Mbah Mi. Ia menambahkan, kualitas tempe menjadi faktor penting agar tumpang terasa enak. Sejak dulu, Mbah Mi berlangganan tempe dari Desa Tembarak, Kertosono.

Dalam sekitar tiga jam berjualan, Ibu Ningsih mengaku dapat menghabiskan 8–10 kilogram beras dan 14 godor besar tempe. Ia juga menyebut tidak ada resep khusus, dan keluarga tidak keberatan berbagi cara membuat sambal pecel maupun tumpang sebagaimana dulu kerap dilakukan Mbah Mi. Namun, beberapa pelanggan yang mencoba memasak mengaku hasil rasanya tidak sama.

Ciri khas pecel tumpang Kertosono

Nasi pecel di Kertosono memiliki komposisi yang berbeda dari pecel di sejumlah daerah lain. Sepincuk nasi biasanya berisi kulupan (sayuran rebus) dan trancam (sayuran mentah), lalu disiram sambal pecel dan sambal tumpang.

Keunikan utama disebut terletak pada sambal tumpang: berbahan tempe medem (tempe hampir busuk) yang dimasak dengan santan, ditambah cita rasa ketumbar serta aroma daun salam. Sambal tumpang disebut sudah dikenal sejak lama, bahkan keberadaannya tertulis dalam Serat Centhini.

Pecel tumpang Kertosono juga kerap hadir dengan peyek kemremes yang melimpah serta penyajian menggunakan pincuk daun pisang. Di warung Mbah Mi, pengunjung masih dapat meminta suru (sendok dari daun pisang) sebagai alat makan, meski pada perkembangan sekarang sendok lebih umum dipakai.

Kekhasan Warung Mbah Mi

Di tengah banyaknya penjual pecel tumpang di Kertosono, Warung Mbah Mi disebut memiliki pembeda, yakni penambahan sambal kelapa manis yang dicampurkan dengan sambal pecel dan tumpang. Pilihan sayurnya juga khas, antara lain pepaya muda, daun pepaya rebus yang disebut tidak pahit, serta trancam berupa sayuran segar seperti daun kenikir, lamtoro muda, dan kecambah kecil.

Dengan ciri rasa yang memadukan pedas, gurih, asin, serta sentuhan manis, warung yang berdiri sejak 1961 ini tetap menjadi tujuan pembeli yang datang silih berganti, baik pada jam buka pagi maupun sore.