Museum Pleret di kawasan bersejarah Pleret, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), hadir sebagai ruang edukasi yang mengajak pengunjung menelusuri perjalanan panjang peradaban Yogyakarta. Melalui penataan ruang bergaya modern dan narasi yang disusun runtut, museum ini menyajikan jejak masa prasejarah, periode Hindu-Buddha, kejayaan Mataram Islam, hingga masa kolonial dalam pengalaman belajar yang dibuat lebih mudah dipahami berbagai kalangan.
Museum Pleret dikelola Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY dan merupakan hasil transformasi dari Museum Sejarah Purbakala Pleret. Pada awalnya, museum difungsikan sebagai tempat penampungan temuan Benda Cagar Budaya dari wilayah Bantul. Seiring bertambahnya koleksi dan meningkatnya nilai edukasi, museum kemudian dibuka untuk umum pada 2014.
Edukator Museum Pleret, Ayu Oktafi D. yang akrab disapa Afi, menjelaskan bahwa perubahan tersebut berangkat dari kebutuhan pengelolaan koleksi yang makin berkembang. “Awalnya museum ini hanya difungsikan sebagai tempat penampungan temuan cagar budaya. Seiring bertambahnya koleksi yang bernilai edukatif, museum kemudian dibuka untuk umum dan berkembang menjadi sarana pembelajaran sejarah sekaligus rekreasi yang ramah bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Afi, koleksi Museum Pleret merepresentasikan rentang sejarah yang panjang dan berkesinambungan. Artefak prasejarah, peninggalan Hindu-Buddha, jejak Mataram Islam, hingga koleksi masa kolonial disajikan dalam satu alur narasi, sehingga memudahkan pengunjung memahami perjalanan peradaban DIY dari masa ke masa.
Transformasi museum juga tampak pada konsep pengelolaan dan penataan ruang yang lebih kekinian. Ruang pamer dirancang dengan pendekatan visual modern, pencahayaan yang nyaman, serta alur cerita yang tertata. Penyajian koleksi dibuat komunikatif agar dapat dipahami berbagai kelompok usia. Pengembangan Museum Pleret turut didukung Dana Keistimewaan (Danais) Urusan Kebudayaan.
Penataan bangunan dan kawasan taman dilakukan bertahap sejak 2020 hingga 2024 dengan menekankan efisiensi fungsi ruang serta standar pengelolaan museum yang profesional. Penataan tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan ruang pamer tetap yang aman, ruang penyimpanan koleksi (storage), dan sarana pendukung lain, sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2015 tentang Permuseuman.
Kini, Museum Pleret mengusung konsep inklusif dan interaktif. Selain menampilkan display visual modern dengan media audio, museum menyediakan ruang interaktif bagi anak usia dini. Di ruang ini, anak-anak dapat melakukan aktivitas kreatif seperti mewarnai dan bermain permainan tradisional, antara lain dakon dan yoyo.
Keunikan museum juga diperkuat oleh keberadaan Situs Cagar Budaya Sumur Gumuling, sumber air Kedaton bekas Keraton Pleret peninggalan Mataram Islam yang dibangun sekitar abad ke-17. Situs tersebut menegaskan posisi Museum Pleret sebagai bagian dari Poros Kerajaan Mataram Islam. Di kawasan sekitarnya, masih terdapat sejumlah situs penting lain, termasuk Situs Kerta dan situs-situs pendukung sejarah Pleret.
Secara tematik, Museum Pleret terbagi dalam tiga ruang utama. Ruang Gunung Kelir menyajikan koleksi masa prasejarah dan Hindu-Buddha. Ruang Kerta menampilkan koleksi masa Mataram Islam hingga kolonial. Sementara ruang interaktif menjadi wadah bagi pengunjung untuk berinteraksi langsung dengan materi edukasi.
Adapun koleksi unggulan museum antara lain umpak atau landasan tiang bangunan, keris Sabuk Inten, peralatan batu masa prasejarah, arca, bagian candi, hingga bata berukuran besar yang merupakan komponen bangunan Keraton Mataram Islam. Dari periode kolonial, museum juga menyimpan temuan benda-benda eks pabrik gula yang pernah beroperasi di kawasan Pleret.
“Dengan berkunjung ke Museum Pleret, pengunjung tidak hanya belajar sejarah melalui koleksi, tetapi juga dapat mengunjungi langsung situs-situs di Kawasan Cagar Budaya Kerta–Pleret,” kata Afi.
Pengalaman kunjungan dilengkapi dengan program Gowes Situs (Gesit), yakni kegiatan bersepeda menyusuri kawasan cagar budaya yang diselenggarakan secara gratis setidaknya sebulan sekali. Program ini mengajak pengunjung mengenal situs-situs bersejarah melalui pendekatan yang sehat dan santai.
Di tengah dinamika kehidupan modern, Museum Pleret dihadirkan sebagai ruang refleksi dan pembelajaran yang mengajak masyarakat, termasuk generasi muda, memahami akar sejarah Yogyakarta secara kontekstual. Dari Pleret, sejarah tidak hanya disimpan, tetapi terus dihidupkan dan diwariskan.

