BERITA TERKINI
Mogok Pedagang Daging Sapi di Jabodetabek, Pemerintah dan Pelaku Usaha Sepakati Stabilitas Harga Rp55 Ribu

Mogok Pedagang Daging Sapi di Jabodetabek, Pemerintah dan Pelaku Usaha Sepakati Stabilitas Harga Rp55 Ribu

Aksi mogok pedagang daging sapi di wilayah Jabodetabek menjadi sorotan setelah membuat pembeli kesulitan memperoleh daging. Sejumlah warga mengaku harus berkeliling ke banyak pasar karena lapak daging tutup dan aktivitas jual beli terhenti.

Di tengah situasi tersebut, pemerintah bersama asosiasi pedagang dan pelaku usaha menyepakati langkah untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan daging sapi menjelang Ramadhan dan Idulfitri 2026. Kesepakatan itu dicapai dalam rapat koordinasi di Kementerian Pertanian yang dihadiri Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional (Bapanas), Satgas Pangan, asosiasi pedagang, asosiasi pemotong, feedlotter, serta pelaku usaha impor sapi bakalan.

Mogok jualan dilakukan pedagang daging sapi se-Jabodetabek sebagai bentuk protes terhadap tingginya harga sapi hidup. Pantauan di Pasar Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, pada Kamis (22/1/2026), menunjukkan seluruh los daging tutup dan tidak tampak aktivitas transaksi.

Salah satu pedagang, Darsa, menyebut kenaikan harga sapi hidup dinilai tidak sebanding dengan daya beli konsumen. Kondisi ini, menurutnya, membuat pedagang tertekan karena sulit menaikkan harga jual daging kepada pelanggan.

“Sekarang istilahnya semuanya mogok, harganya mahal, naik, sedangkan di pasar susah mau dinaikkan ke pelanggan. Itu masalahnya naik dari atasnya, kita nggak bisa jual seperti biasa,” ujar Darsa.

Ia menjelaskan, harga daging sapi lokal yang sebelumnya berada di kisaran Rp130 ribu per kilogram kini harus dijual di atas Rp140 ribu per kilogram. Kenaikan tersebut, kata dia, sudah terjadi sejak sebelum pergantian tahun.

Di sisi lain, pembeli mengaku kesulitan mendapatkan daging sapi. Anton, salah satu warga, mengatakan telah mendatangi sejumlah pasar—mulai dari Pasar Rawamangun, Pasar Ampera, Pasar Rawasari, hingga Sumber Batu—namun mendapati lapak daging tutup. Ia menyebut sudah mencoba hingga enam lokasi berbeda.

“Saya nyari daging dari Pasar Rawamangun, Pasar Ampera, Pasar Rawasari, tadi ke Sumber Batu, tutup semua. Saya sudah ke enam lokasi, tutup semua. Sulit banget cari daging,” kata Anton.

Dalam perkembangan terkait penyebab kenaikan, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan dugaan adanya permainan harga di tingkat penggemukan sapi (feedlotter) maupun distributor. Ia menyebut laporan yang diterima menunjukkan harga sapi dari feedlotter dijual melebihi ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah, sehingga memicu keresahan pedagang.

“Tadi malam langsung kami tindaklanjuti. Menurut laporan itu, harga dari feedlotter, penggemukan, itu di atas harga yang telah ditetapkan,” ujar Amran. Ia menegaskan pemerintah akan mengambil tindakan tegas apabila terbukti ada pelaku usaha yang sengaja memainkan harga.