Menu konsumsi bercita rasa Nusantara disiapkan untuk menyambut kedatangan jemaah haji Indonesia 2026 di Madinah. Salah satu yang menjadi perhatian adalah tempe, yang disebut sebagai menu favorit jemaah dan akan hadir berdampingan dengan ragam hidangan khas Indonesia lainnya.
Persiapan tersebut antara lain dilakukan dapur Katering Meez Marry di Madinah yang memproduksi tempe secara mandiri untuk kebutuhan sajian jemaah. Koki utama Katering Meez Marry, Abdurrahman, mengatakan tempe masuk dalam daftar menu hingga lima kali dalam sepekan. Menurutnya, tempe menjadi salah satu pilihan yang banyak diminta berdasarkan pengalaman pada musim haji sebelumnya.
Selain tempe, variasi menu tetap mengedepankan keberagaman daerah di Indonesia meski telah ditetapkan secara resmi oleh Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj). Abdurrahman menyebut sejumlah hidangan mewakili berbagai daerah, di antaranya gepuk dari Sunda, rendang, hingga ayam woku. Untuk menjaga karakter rasa, pihaknya menyiapkan aneka rempah seperti sereh, lengkuas, daun jeruk, daun salam, kunyit, dan jahe yang didatangkan langsung dari Indonesia.
Dalam proses memasak, katering menggunakan bumbu pasta yang dikirim dari Indonesia. Abdurrahman mengatakan penggunaan bumbu tersebut ditujukan untuk menjaga keaslian rasa, meski tetap dilakukan penyesuaian untuk memperkuat cita rasa.
Menu bagi jemaah lansia juga menjadi perhatian. Abdurrahman menjelaskan, jika sebelumnya paket menu lansia biasanya dipatok sekitar 10%–20%, kali ini disiapkan sesuai permintaan. Ia menambahkan, menu seperti nasi tim atau bubur dapat diminta karena pada beberapa kesempatan menu lansia kerap tersisa.
Sementara itu, Kepala Seksi Konsumsi Daker Madinah, Beny Darmawan, menyatakan sebanyak 23 dapur katering siap melayani jemaah haji Indonesia dan telah diseleksi oleh Kemenhaj. Selama sembilan hari berada di Madinah, jemaah disebut akan menerima makan 27 kali atau tiga kali sehari.
Beny menegaskan menu yang disajikan diupayakan bercita rasa khas Indonesia. Ia juga menyebut penggunaan bumbu pasta asli Indonesia membantu proses pemasakan dan disukai jemaah. Selain itu, setiap dapur diwajibkan memiliki setidaknya dua koki utama dan empat asisten yang berasal dari Indonesia, dan ketentuan tersebut disebut telah dipenuhi oleh seluruh dapur yang lolos seleksi.

