BERITA TERKINI
Menu Khas Aceh Masuk Program MBG di Banda Aceh, Anak Lebih Lahap dan Sisa Makanan Berkurang

Menu Khas Aceh Masuk Program MBG di Banda Aceh, Anak Lebih Lahap dan Sisa Makanan Berkurang

Banda Aceh – Penggunaan menu lokal mulai diterapkan sebagai strategi untuk mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama dalam menjawab kebutuhan variasi menu harian yang tetap sehat, bergizi, dan sesuai selera penerima manfaat.

Di Banda Aceh, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lamlagang Banda Raya mengintegrasikan kuliner khas Aceh ke dalam menu MBG. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan minat makan anak sekaligus menekan pemborosan atau sisa makanan.

Salah satu menu yang disajikan adalah Nasi Goreng Nektu dan Telur Darsun. Menu ini dipilih karena dinilai dekat dengan kebiasaan makan anak-anak di Aceh, sehingga lebih mudah diterima tanpa proses adaptasi yang panjang.

Ahli Gizi SPPG Lamlagang Banda Raya, Achsanu Nadia, mengatakan penggunaan menu lokal tidak hanya memperkaya variasi menu, tetapi juga menjadi upaya mengurangi food waste. Menurutnya, anak cenderung lebih lahap ketika makanan yang dikonsumsi familiar dengan cita rasa daerah.

“Penggunaan menu lokal menjadi salah satu cara untuk menghindari food waste dan meningkatkan nafsu makan penerima manfaat. Mayoritas anak sudah terbiasa dengan rasa makanan khas Aceh,” ujar Achsanu.

Selain Nasi Goreng Nektu, SPPG Lamlagang juga beberapa kali menyajikan menu khas lain seperti Udang Masak Aceh dan Ikan Tumis Aceh. Menu-menu tersebut umumnya menggunakan rempah khas masakan Aceh, antara lain bunga lawang, kapulaga, dan kayu manis.

Achsanu menjelaskan, Nasi Goreng Nektu diolah dengan perpaduan rempah tersebut sehingga menghasilkan cita rasa yang kuat. Sementara Telur Darsun, yang juga dikenal sebagai dadar sunti, merupakan olahan telur yang dicampur kelapa dan sunti, yakni belimbing wuluh yang dikeringkan, sehingga memberi rasa asam gurih yang khas.

Dari sisi gizi, satu porsi Nasi Goreng Nektu dan Telur Darsun disebut mengandung energi 562,6 kilokalori, protein 19,4 gram, lemak 21,4 gram, serta karbohidrat 74,1 gram. Komposisi tersebut dinilai seimbang untuk mendukung kebutuhan gizi anak.

Kepala Biro Hukum dan Humas Badan Gizi Nasional (BGN), Khairul Hidayati, menyambut baik inovasi penggunaan menu lokal dalam MBG. Ia menilai langkah tersebut dapat meningkatkan konsumsi makanan bergizi di kalangan anak-anak sekaligus menekan sisa makanan.

“Memasukkan menu lokal tentunya menjadi langkah yang baik. Menu lokal lebih mudah diterima karena sesuai dengan cita rasa lidah anak-anak, sehingga dapat menekan sisa makanan,” ujarnya.

Khairul juga menilai penggunaan menu lokal berpotensi mendorong pemanfaatan bahan baku daerah. Dengan begitu, program MBG tidak hanya berpengaruh pada aspek kesehatan, tetapi juga dapat berkontribusi pada perputaran ekonomi lokal melalui penyerapan produk setempat.

“Menu lokal umumnya menggunakan bahan baku dari daerah setempat. Ini tentu dapat mendorong penyerapan produk lokal dan mendukung sumber daya yang ada di masing-masing daerah,” tambahnya.

Melalui inovasi tersebut, pelaksanaan MBG diharapkan tidak hanya membantu pemenuhan gizi anak, tetapi juga ikut mendukung pelestarian kuliner daerah serta penguatan ekonomi lokal.