BERITA TERKINI
Mengenal Plant Forward Diet, Pola Makan Fleksibel yang Utamakan Pangan Nabati

Mengenal Plant Forward Diet, Pola Makan Fleksibel yang Utamakan Pangan Nabati

Kesadaran masyarakat terhadap dampak makanan bagi kesehatan jangka panjang kian meningkat. Seiring itu, berbagai pola makan kembali mendapat perhatian, salah satunya plant forward diet yang belakangan makin populer.

Plant forward diet kerap disamakan dengan pola makan vegan atau vegetarian. Namun, konsepnya berbeda. Pola makan ini tidak menuntut seseorang sepenuhnya menghentikan konsumsi produk hewani. Sebaliknya, pendekatan ini lebih fleksibel karena masih memperbolehkan daging, ikan, telur, atau susu, tetapi dalam porsi yang lebih kecil.

Plant forward diet menempatkan makanan nabati sebagai bagian terbesar dari menu harian. Pilihan utamanya meliputi sayuran, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, hingga minyak nabati. Sementara itu, makanan hewani berperan sebagai pelengkap.

Asupan nutrisi dari makanan nabati

Ketika porsi makanan nabati ditingkatkan, tubuh berpotensi memperoleh lebih banyak serat, vitamin, mineral, dan antioksidan. Nutrisi tersebut berperan dalam menjaga kesehatan pencernaan dan membantu fungsi tubuh bekerja lebih optimal.

Pola makan ini juga cenderung lebih rendah lemak jenuh serta lebih kaya lemak sehat yang dapat berasal dari ikan, kacang-kacangan, biji-bijian, dan minyak nabati. Sejumlah penelitian juga mengaitkan pola makan kaya pangan nabati dengan risiko lebih rendah terhadap penyakit kronis, seperti diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, hingga obesitas.

Bukan konsep baru

Meski sering disebut sebagai tren, pola makan yang menonjolkan makanan nabati sebenarnya telah lama dikenal. Contohnya dapat ditemukan pada diet Mediterania maupun pola makan DASH yang kerap direkomendasikan untuk menjaga kesehatan jantung.

Dalam pola makan tersebut, sayuran, buah, dan biji-bijian utuh menjadi porsi terbesar. Produk susu rendah lemak, kacang-kacangan, serta polong-polongan dikonsumsi dalam jumlah sedang. Sementara daging merah, makanan olahan, dan minuman tinggi gula umumnya dibatasi.

Ragam pola makan berbasis tumbuhan

Sejumlah pola makan kerap dikaitkan dengan konsep plant based. Di antaranya flexitarian, yakni pola makan yang sebagian besar berbasis tumbuhan namun masih mengonsumsi produk hewani dalam jumlah kecil.

Selain itu ada pescatarian yang masih mengonsumsi ikan dan makanan laut, vegetarian yang tidak mengonsumsi daging maupun ikan, serta vegan yang sepenuhnya menghindari produk hewani.

Dinilai lebih ramah lingkungan

Selain pertimbangan kesehatan, pola makan yang lebih banyak mengandalkan makanan nabati juga dinilai lebih ramah lingkungan. Produksi beberapa jenis daging, terutama daging merah, diketahui menghasilkan emisi gas rumah kaca yang cukup tinggi. Karena itu, mengurangi konsumsi daging dan memperbanyak makanan nabati disebut dapat membantu menekan dampak lingkungan dari pola makan sehari-hari.

Memenuhi kebutuhan protein

Salah satu kekhawatiran saat mengurangi konsumsi daging adalah pemenuhan protein. Namun, kebutuhan protein tetap bisa dipenuhi melalui sumber nabati seperti kacang-kacangan, lentil, biji-bijian, dan polong-polongan. Dengan mengombinasikan beberapa jenis makanan tersebut, tubuh tetap dapat memperoleh asam amino yang dibutuhkan.

Tidak semua makanan nabati otomatis sehat

Meski berasal dari tumbuhan, tidak semua makanan otomatis lebih sehat. Fenomena ini kerap disebut health halo, yakni anggapan bahwa makanan pasti sehat hanya karena berbahan nabati.

Contohnya kentang goreng yang tetap termasuk makanan berbasis tumbuhan, tetapi bisa tinggi lemak dan garam jika dikonsumsi terlalu sering. Karena itu, pemilihan bahan yang minim proses serta cara pengolahan tetap perlu diperhatikan.