Kopi Ciwidey kian menunjukkan posisinya sebagai salah satu kopi unggulan, baik untuk konsumen dalam negeri maupun luar negeri. Sejumlah penikmat kopi pun menjadikannya sebagai koleksi yang dicari untuk melengkapi persediaan kopi di rumah.
Salah satu kekuatan kopi Ciwidey, terutama jenis arabika, terletak pada karakternya. Pemilik D'Gamboeng Coffee Bandung, Denny Risnandi, menyebut kopi Ciwidey memiliki cita rasa khas. “Kopi Ciwidey memiliki cita rasa yang khas: ada manis, floral, dan asam,” kata Denny, Kamis (30/1).
Uji seduh manual V60 dari Gunung Tilu
Kopi Ciwidey yang dicoba berasal dari kawasan Gambung, lereng Gunung Tilu, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Produk ini dipasarkan dengan merek D'Gamboeng Coffee dan diproses dengan metode wash dan semi-wash.
Biji kopi yang digunakan di-roasting medium, lalu digiling medium pada level 4 menggunakan grinder Latina. Untuk penyeduhan, digunakan 18 gram kopi dengan rasio kopi dan air 1:15, rasio yang umum dipakai. Meski demikian, rasio seduh bisa dicoba pada angka 1:12, 1:16, 1:17, hingga 1:18, karena setiap jenis kopi dan setiap penikmat kopi dapat memiliki “golden ratio” yang berbeda sesuai selera.
Parameter seduh dan hasil rasa
Penyeduhan dilakukan menggunakan teknik V60 dengan suhu air 90 derajat Celcius. Prosesnya memberi ruang blooming selama 30 detik, disertai jeda dua kali seduh masing-masing 10 detik. Total waktu seduh berlangsung sekitar 2 menit 10 detik hingga kopi siap diminum.
Hasil seduhan menunjukkan keseimbangan rasa manis, pahit, dan asam. Selain itu, muncul sensasi floral yang digambarkan menyerupai karakter teh earl gray. Kombinasi floral, manis, asam, dan pahit disebut menjadi signatur sekaligus kelebihan kopi arabika Ciwidey, dengan aftertaste yang ringan dan segar.
Karakter segar dan permintaan pasar
Secara umum, kopi Ciwidey memberikan kesan segar dengan kombinasi rasa buah dan kacang-kacangan. Menurut Denny, permintaan terhadap kopi ini tinggi. “Bahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal saja belum cukup,” ujarnya.

