BERITA TERKINI
Mengapa Tubuh Bisa Tidak Nyaman Saat Naik Pesawat dan Cara Menguranginya

Mengapa Tubuh Bisa Tidak Nyaman Saat Naik Pesawat dan Cara Menguranginya

Tubuh manusia yang terbiasa beraktivitas di darat perlu beradaptasi saat berada di lingkungan berbeda, seperti ketika terbang di pesawat. Konsultan Kedokteran Perjalanan dan Spesialis Kedokteran Penerbangan, MD Daniel Hadinoto, menjelaskan bahwa penerbangan jarak jauh dengan durasi lebih dari enam jam dapat membuat tubuh merasakan kondisi yang berbeda sehingga memicu rasa tidak nyaman.

Menurut Daniel, salah satu pemicu utama ketidaknyamanan adalah perubahan tekanan udara. Meski tekanan kabin pesawat telah diatur agar mendekati kondisi atmosfer di bawah, perbedaan tekanan tetap dapat terjadi. Hal ini bisa menimbulkan trauma pada telinga dan memengaruhi kenyamanan penumpang.

Perbedaan tekanan di kabin dapat membuat rongga-rongga dalam tubuh tertekan. Dampaknya beragam, mulai dari sakit telinga hingga mual. Daniel menambahkan, ketika pesawat sudah mengudara, tekanan di dalam kabin cenderung stabil. Namun, keluhan kerap muncul saat pesawat lepas landas.

Untuk membantu mengurangi rasa tidak nyaman pada telinga, Daniel menyarankan penumpang melakukan gerakan menelan atau mengunyah. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah mengonsumsi permen, termasuk untuk anak-anak, agar tetap nyaman saat lepas landas maupun mendarat. “Buatlah agar terjadi refleks mengunyah dan menelan,” kata Daniel dalam siaran langsung RS Medistra yang dikutip Jumat (8/7).

Ia juga menyinggung penggunaan penutup telinga. Menurutnya, penutup telinga tidak banyak berpengaruh dalam menghilangkan perbedaan tekanan di luar dan di dalam pesawat, tetapi dapat membantu meredam kebisingan selama penerbangan.

Selain itu, kondisi kesehatan penumpang menjadi faktor penting agar perjalanan lebih nyaman. Daniel menyarankan calon penumpang berada dalam kondisi tubuh yang sehat sebelum terbang. Penderita flu dianjurkan menunda perjalanan udara untuk menghindari ketidaknyamanan, sekaligus mengurangi risiko menularkan penyakit kepada penumpang lain mengingat sirkulasi udara di pesawat bersifat tertutup.

Daniel juga mengingatkan adanya kondisi medis tertentu yang memerlukan jeda sebelum bepergian dengan pesawat. Pasien yang baru menjalani operasi membran telinga disarankan menunggu setidaknya sebulan sebelum terbang. Sementara pasien pascastroke disebut baru diizinkan terbang setelah 14–28 hari atau setelah dinyatakan aman oleh dokter.

Bagi perempuan hamil, Daniel menyampaikan bahwa perjalanan udara tidak dianjurkan bila usia kehamilan sudah mendekati minggu ke-34. Ia menyarankan bepergian sebelum pekan tersebut apabila ada kebutuhan yang mengharuskan naik pesawat, misalnya untuk pulang kampung atau melahirkan di tempat tertentu.