Istilah “demam panggung” kembali ramai dibicarakan setelah momen finalis Puteri Indonesia asal Sumatera Barat, Kalista Iskandar, tidak berhasil melafalkan Pancasila. Peristiwa itu memicu kritik dari sebagian warganet, sementara sebagian lainnya menilai kejadian tersebut bisa terjadi karena rasa gugup atau demam panggung.
Dalam situasi tertentu, orang yang tampil di depan publik memang dapat kehilangan kata-kata meski materi yang disampaikan sebenarnya sudah dihafal. Kondisi inilah yang kerap disebut sebagai demam panggung.
Apa itu demam panggung?
Menurut definisi dalam kamus American Psychological Association, demam panggung adalah rasa cemas dan takut terkait pencapaian atau hasil saat seseorang tampil. Kecemasan ini muncul karena kekhawatiran apakah penampilan yang ditunjukkan sudah sesuai ekspektasi, misalnya saat berbicara di depan umum, bermain alat musik, hingga melakukan aktivitas tertentu di hadapan orang lain.
Jika ketakutan tersebut berpusat pada kekhawatiran akan kritik orang lain, rasa malu, atau takut dihina, perasaan ini dapat masuk dalam kategori fobia sosial.
Rasa cemas menjelang tampil di depan khalayak disebut cukup umum terjadi. Bahkan, kepanikan saat menjadi pusat perhatian dapat dialami siapa saja, dari anak-anak hingga orang dewasa, termasuk mereka yang sudah sering tampil.
Gejala demam panggung
Gejala demam panggung dapat berbeda pada tiap orang. Namun, ketika kepanikan muncul menjelang penampilan atau audisi, sejumlah tanda berikut dapat terjadi:
- Denyut jantung, nadi, dan napas bertambah cepat
- Mulut dan tenggorokan terasa kering
- Tangan, lutut, bibir, dan suara gemetar
- Tangan mengeluarkan keringat dingin
- Merasa mual dan tidak enak di perut
- Penglihatan berubah
Pada sebagian orang, gejala bahkan bisa muncul berminggu-minggu atau berbulan-bulan sebelum pertunjukan. Ketika hari pelaksanaan semakin dekat, keluhan dapat memburuk, misalnya diare, muntah, mudah marah, suasana hati cepat berubah, tremor, hingga jantung berdebar.
Namun, ada juga penampil yang merasakan gejala berkurang ketika pertunjukan dimulai. Kondisi ini kerap dikaitkan dengan euforia atau lonjakan adrenalin saat tampil. Di sisi lain, sebagian orang justru mengaku gejalanya makin berat di atas panggung hingga lupa apa yang hendak disampaikan.
Penyebab demam panggung
Demam panggung pada dasarnya berkaitan dengan stres dan kecemasan tidak mampu memenuhi ekspektasi orang lain. Karena itu, salah satu kunci menghadapi kondisi ini adalah menerima diri sendiri dan tidak memaksakan kebutuhan untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain.
Hal lain yang ditekankan adalah tidak ada penampilan yang sempurna, dan tidak semua orang menuntut kesempurnaan. Kesalahan dapat terjadi, termasuk saat tampil di depan publik.
Cara menghadapi cemas di atas panggung
Demam panggung sering membuat seseorang khawatir penampilannya akan terganggu. Dalam kondisi ini, ada orang yang memilih menggunakan obat-obatan tertentu atau alkohol agar gejala terasa hilang. Namun, langkah tersebut berisiko menimbulkan ketergantungan dan memunculkan masalah baru.
Jika kepanikan meningkat saat berada di panggung hingga memicu “lupa sesaat”, ada sejumlah langkah sederhana yang bisa dicoba untuk membantu mengelola kecemasan.
Apabila demam panggung terus berulang meski berbagai cara sudah dicoba, disarankan untuk berkonsultasi dengan konselor agar mendapatkan penanganan yang tepat dan memahami penyebab yang mendasarinya.

