9 Penyebab Rasa Logam di Mulut dan Langkah Pencegahannya

9 Penyebab Rasa Logam di Mulut dan Langkah Pencegahannya

Rasa seperti logam di mulut dikenal sebagai dysgeusia, yaitu perubahan pada indera perasa. Kondisi ini bisa menjadi pertanda adanya masalah medis. Menurut Donald Ford, MD, MBA, Ketua Departemen Kedokteran Keluarga di Cleveland Clinic, rasa logam di mulut pada sebagian besar kasus tidak berbahaya bila tubuh dalam kondisi sehat dan tidak disertai keluhan lain.

Namun, rasa logam juga dapat mengindikasikan penyakit serius seperti gangguan ginjal atau hati, diabetes yang belum terdiagnosis, atau kanker tertentu. Meski demikian, Ford menekankan hal tersebut jarang terjadi dan biasanya disertai gejala lain.

Jika rasa logam menjadi satu-satunya keluhan, berikut sejumlah penyebab yang umum terjadi.

1. Kebersihan mulut yang buruk
Jarang menyikat gigi dan tidak menggunakan benang gigi dapat memicu masalah gigi dan gusi, seperti gingivitis, periodontitis, hingga infeksi gigi. Infeksi dapat ditangani dengan resep dari dokter gigi, dan rasa logam umumnya menghilang setelah infeksi teratasi.

2. Penggunaan obat tertentu
Sejumlah obat dapat memicu rasa logam karena tubuh menyerap obat lalu mengeluarkannya melalui air liur. Obat yang disebutkan antara lain antibiotik seperti klaritromisin, metronidazol, dan tetrasiklin; allopurinol; obat tekanan darah termasuk kaptopril; lithium untuk kondisi kejiwaan tertentu; methazolamide untuk glaukoma; serta metformin untuk diabetes. Obat yang menyebabkan mulut kering, seperti antidepresan, juga dapat menjadi pemicu.

3. Vitamin dan suplemen
Multivitamin yang mengandung logam berat seperti kromium, tembaga, dan seng, atau obat flu tertentu seperti pelega tenggorokan berbahan seng, dapat menimbulkan rasa logam. Hal serupa dapat terjadi pada vitamin prenatal serta suplemen zat besi atau kalsium. Biasanya rasa ini hilang setelah tubuh memprosesnya. Jika tidak, perlu memeriksa kembali dosis agar tidak berlebihan.

4. Infeksi sementara
Beberapa penyakit dapat mengubah indera perasa untuk sementara, misalnya pilek, radang selaput lendir, dan infeksi saluran pernapasan atas. Rasa logam umumnya mereda seiring infeksi membaik.

5. Pengobatan kanker
Pasien yang menjalani kemoterapi atau radiasi, terutama untuk kanker kepala dan leher, dapat mengalami perubahan rasa dan bau, termasuk rasa logam yang kadang disebut “mulut kemoterapi”. Disebutkan bahwa studi menunjukkan seng dan vitamin D dapat membantu, meski penelitian masih berlangsung.

6. Kehamilan
Dysgeusia disebut umum terjadi selama kehamilan. Pada sebagian orang, kondisi ini memunculkan rasa logam atau asam yang sulit dijelaskan. Ford menyebut keluhan biasanya paling buruk pada trimester pertama dan cenderung memudar seiring berjalannya kehamilan.

7. Demensia
Indera perasa memang dapat menurun seiring usia, tetapi pada penderita demensia perubahan itu bisa terjadi lebih cepat akibat perubahan di otak. Kelainan pengecapan dapat muncul ketika bagian otak yang berhubungan dengan perasa tidak bekerja dengan baik.

8. Alergi
Rasa logam dapat menjadi efek samping alergi makanan, terutama kerang atau kacang pohon. Ini bisa menjadi tanda awal anafilaksis yang berpotensi mematikan. Jika memiliki alergi seperti itu, disarankan berkonsultasi dengan dokter mengenai langkah yang harus dilakukan bila reaksi alergi terjadi.

9. Paparan bahan kimia
Menghirup zat tertentu dalam kadar tinggi dapat memunculkan rasa logam. Contohnya insektisida (dapat menjadi tanda keracunan pestisida jenis tertentu), timbal (sering ditemukan pada cat berbahan dasar timbal, debu cat, dan tanah terkontaminasi), serta merkuri (dikaitkan dengan ikan dan makanan laut, juga dapat ditemukan di lokasi konstruksi dan termometer lama). Ford menekankan paparan bahan kimia dapat menimbulkan masalah kesehatan signifikan, sehingga seseorang perlu segera menemui dokter bila pernah terpapar.

Kaitan dengan COVID-19
Dokter telah lama mengetahui hilangnya rasa dan penciuman sebagai kemungkinan efek samping COVID-19. Sejumlah orang juga melaporkan rasa logam di mulut. Menurut Ford, keluhan biasanya membaik setelah penyebab mendasar ditangani, tetapi rasa logam terkait COVID-19 dapat bertahan berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan setelah sembuh.

Langkah pencegahan untuk meminimalkan rasa logam
Ford menyarankan beberapa cara untuk membantu mengurangi keluhan, antara lain menjaga kebersihan mulut (menyikat gigi, flossing, dan mengikis lidah), menjaga hidrasi untuk mencegah mulut kering, mengganti peralatan makan atau botol minum berbahan logam dengan kaca/plastik/keramik, berkumur sebelum makan dengan larutan soda kue dan air hangat untuk membantu menyeimbangkan pH mulut, serta berhenti merokok karena rokok dapat memperburuk rasa logam.