Sebuah rumah joglo kayu di kawasan Bejen, Caturharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi ruang temu bagi orang-orang yang ingin menikmati suasana pedesaan sekaligus mencicipi kuliner Jawa Timur. Tempat itu bernama Tepikota, yang rutin menggelar kegiatan “Makan Bareng” setiap hari Minggu.
Pagi itu, Febri Indra Laksmana (29) menyambut para tamu yang datang satu per satu. Ia menjadi tuan rumah bersama istrinya, Rofida Amalia (32). Keduanya menyiapkan makan siang untuk sekitar 10 orang yang hadir, dengan latar kebun kecil dan suasana rumah yang dibuat terbuka untuk berbincang dan saling berkenalan.
Ruang temu di rumah dan kebun kecil
Di teras rumah, sebuah meja panjang disiapkan dengan tikar mengelilinginya. Di salah satu sudut, terdapat rak buku berisi koleksi milik Febri dan Rofida—mulai dari filsafat, novel, seni rupa, hingga arsitektur. Latar pendidikan keduanya selaras dengan isi rak: Febri merupakan lulusan pendidikan seni rupa, sementara Rofida lulusan arsitektur.
Para tamu datang dari beragam latar. Wikan (49) bersama suaminya, Farano (47), hadir dari Kalasan. Empat mahasiswa tingkat akhir Institut Seni Indonesia (ISI)—Lusi (22), Mufida (21), Bilqis (22), dan Syukron (21)—juga bergabung untuk beristirahat sejenak dari rutinitas tugas akhir.
Sumping waluh dan minuman rempah sebagai pembuka
Rofida membuka jamuan dengan sumping waluh, jajanan pasar khas Bali yang dibungkus daun pisang. Bentuknya sekilas menyerupai lemet, namun teksturnya lebih mendekati nagasari. Menurut Rofida, sumping waluh terbuat dari labu kuning dengan rasa manis-gurih dan aroma yang ia sebut mirip keju.
Minuman pendamping yang disajikan berupa campuran sereh dan jintan, serta campuran daun mint dan bunga telang. Sambil menyantap pembuka, para tamu mulai bertukar cerita—termasuk alasan mereka datang. Wikan mengatakan ia menyukai suasana alam dan kebersamaan yang berbeda dari restoran atau mal. Sementara para mahasiswa datang karena penasaran dengan konsep jamuan makan yang menghadirkan orang-orang baru dalam satu meja.
Berangkat dari rindu rasa gurih
Febri menjelaskan, kegiatan “Makan Bareng” di Tepikota sudah berlangsung sejak Oktober 2021. Awalnya, gagasan itu muncul ketika ada teman yang ingin berkunjung. Ia dan Rofida lalu memutuskan mengenalkan makanan dari Madura dan Situbondo—daerah yang dekat dengan latar keluarga Febri. Ia berdarah Sumenep, Madura, namun lahir dan besar di Situbondo.
Di Yogyakarta, Febri mengaku kerap merindukan cita rasa gurih. Menurutnya, kuliner Yogyakarta cenderung manis, sementara lidahnya terbiasa dengan rasa yang lebih kuat. Ia pun memasak sendiri, sekaligus mengembangkan ide untuk memperkenalkan ragam kuliner Jawa Timur dan Madura yang, menurutnya, belum banyak dikenal di luar menu populer seperti sate dan bebek.
Nase’ sodu: mirip lodeh, tetapi berbasis kaldu ikan laut
Menu utama siang itu adalah nase’ sodu, kuliner khas Situbondo. Sekilas tampilannya mengingatkan pada sayur lodeh, namun Febri menjelaskan karakter utamanya berbeda. Dalam penyajian yang ia ceritakan, nase’ sodu biasanya berisi ikan laut, labu kuning, dan labu siam. Pendampingnya berupa irisan timun serta sambal kecambah yang disajikan terpisah. Nasi dan kerupuk melengkapi hidangan.
Febri menyebut, “sodu” berarti sendok dari daun pisang. Hidangan ini lazimnya disajikan menggunakan pincuk daun pisang. Menurutnya, nase’ sodu bukan kuah encer, melainkan lebih kental—dengan bumbu kuning yang mengingatkan pada lodeh, tetapi menggunakan kaldu ikan laut.
Di daerah asalnya, kata Febri, nase’ sodu biasa dihidangkan saat hajatan renovasi atau membangun rumah. Rofida menambahkan pengalamannya ketika menyantap langsung di Asembagus, Situbondo: porsinya besar dan bisa cukup untuk beberapa kali makan. Ia juga menyebut proses memasak menggunakan tungku, dengan keranjang di atasnya untuk mengasapi ikan. Rasa asamnya, menurut Rofida, berasal dari belimbing wuluh atau tomat keriting.
Menu berganti tiap Minggu
Setelah makan siang, perbincangan berlanjut seputar makanan dan pengalaman kuliner. Febri mengatakan, menu “Makan Bareng” selalu berganti. Ia menyebut sudah lebih dari 22 menu disajikan dalam 22 Minggu sejak kegiatan itu pertama kali diadakan.
Febri dan Rofida mengaku terus mengulik masakan Jawa Timur dan Madura lain untuk dihadirkan. Kebiasaan itu, menurut mereka, berakar dari pengalaman bekerja di sebuah studio arsitek yang kerap mendokumentasikan pangan lokal. Dari sana, mereka terbiasa mengutamakan bahan dari sumber terdekat, serba alami, dan menghindari makanan berkemasan.
Terbuka untuk berkunjung dengan janji terlebih dahulu
Tepikota terbuka bagi siapa saja yang ingin bersilaturahmi, menikmati suasana kebun, atau mencicipi menu yang disajikan. Namun, pengunjung biasanya membuat janji terlebih dahulu. Febri menyebut hal itu dilakukan karena situasi pandemi yang belum dapat dipastikan kapan berakhir.
Untuk menikmati menu nase’ sodu pada kesempatan itu, biaya yang disebutkan adalah Rp30 ribu. Setelah bersantap, para tamu diajak berkeliling kebun di sekitar rumah joglo. Waktu pun dihabiskan hingga sore hari dengan berbincang santai di tengah suasana pedesaan—sebuah cara sederhana menikmati akhir pekan di pinggiran Yogyakarta.

