Lima Warung Mie Ayam di Yogyakarta yang Menawarkan Ragam Gaya dan Cita Rasa

Lima Warung Mie Ayam di Yogyakarta yang Menawarkan Ragam Gaya dan Cita Rasa

Yogyakarta dikenal memiliki banyak warung mie ayam dengan gagrak dan ciri khas yang beragam, tersebar dari sudut jalan hingga gang sempit. Sejumlah di antaranya bahkan disebut memiliki karakter yang berbeda dibanding daerah lain, termasuk varian yang konon dipelopori dari kota ini.

Dalam seri liputan yang pernah dibuat Mojok, beberapa warung mie ayam dipilih bukan hanya karena rasa, tetapi juga karena kisah di balik semangkuk sajian yang mereka pertahankan. Daftar tersebut disusun berdasarkan rekomendasi dua pegiat kuliner yang kerap membahas mie ayam di Yogyakarta, yakni Veta Mandra (pengelola akun @InfoMieAyamYK) dan Dadad Wisesa (@javafoodie). Dadad menyebut daftar ini dapat menjadi “beginner package” untuk mengenal kekayaan varian mie ayam di Jogja.

Berikut lima warung mie ayam yang disebut patut dicoba, tanpa urutan peringkat.

1. Mie Ayam Bu Tumini

Warung Mie Ayam Bu Tumini di Jalan Imogiri Timur Nomor 187, utara Terminal Giwangan, dikenal ramai hampir setiap hari dan disebut sebagai salah satu yang berpengaruh dalam khazanah mie ayam di Yogyakarta. Pasangan Suparman dan Tumini memulai usaha ini pada 1990 dengan menyewa bangunan kecil. Keluarga tersebut berasal dari Desa Jatiayu, Karangmojo, Gunungkidul.

Cita rasa Mie Ayam Bu Tumini dikenal lewat kuah yang kental dan rasa manis yang dominan, dengan potongan ayam berukuran cukup besar. Eko Supriyanto, anak perintis warung, menyebut karakter manis itu sudah ada sejak awal karena ingin menyesuaikan dengan selera kuliner Yogyakarta yang identik dengan rasa manis.

Kekentalan kuahnya disebut berasal dari sawi yang dipadukan dengan labu siam (jipang) yang diblender. Serat sayuran itu membuat tampilannya sederhana, namun menghasilkan kompleksitas rasa dari bumbu yang digunakan. Eko juga menyebut penggunaan bumbu cenderung “lebih boros”, tetapi dipertahankan demi menjaga rasa.

Kini, rasa khas Tumini tidak hanya tersedia di sekitar Terminal Giwangan karena ada beberapa cabang yang dikelola keluarga dan kerabat. Warung ini juga disebut melahirkan gagrak mie ayam “Sarirasa Jatiayu”, termasuk memengaruhi sejumlah mantan karyawan yang kemudian membuka usaha sendiri dengan membawa ciri serupa.

2. Mie Ayam Goreng Mekaton

Mie Ayam Goreng Mekaton disebut sebagai pelopor mie ayam goreng di Indonesia. Warung ini memiliki beberapa cabang di wilayah Sleman, antara lain Seyegan, Cebongan, dan Moyudan, yang lokasinya cenderung ke arah barat dari pusat Kota Yogyakarta.

Sajian ini menggunakan mie berukuran besar dan kenyal, dilengkapi potongan daging ayam tanpa tulang serta sawi. Salah satu cirinya adalah penggunaan sawi putih, bukan sawi hijau atau caisim.

Istilah “mie ayam goreng” di sini merujuk pada penyajian tanpa kuah. Mie direbus, ditiriskan, lalu diaduk dengan bumbu sebelum ditambahkan ayam, sawi, dan taburan bawang goreng.

Arjun, anak dari perintis warung, menyebut orang tuanya, Suharno dan Wahimah, merintis usaha mie ayam sejak 1996. Menurutnya, ide mie ayam tanpa kuah muncul setelah banyak pelanggan ingin menyantap mie tanpa kuah, yang kemudian menjadi ciri khas warung tersebut.

3. Mie Ayam Prima Rasa Ngeposari

Mie Ayam Prima Rasa Ngeposari dikenal di kalangan warga Gunungkidul dan disebut telah berdiri lebih dari seperempat abad. Warung dengan warna dominan biru ini kerap ramai, terutama saat hari libur ketika kendaraan berpelat luar daerah banyak terlihat di area parkir.

Dari sisi rasa, mie dikenal kenyal dengan bumbu gurih dan kuah kental. Suwiran ayamnya dilumuri sambal cabai merah, serta dilengkapi pelengkap seperti acar timun dan kecambah.

Sumarno, perintis warung, bercerita usaha ini dirintis bermodalkan tujuh ekor kambing. Awalnya ia mengelola seorang diri, namun seiring meningkatnya pelanggan, kini warung tersebut memiliki delapan karyawan. Saat Lebaran, jumlah karyawan disebut bisa bertambah hingga 15 orang.

4. Mie Ayam Pakde Wonogiri

Warung Mie Ayam Pakde Wonogiri berlokasi di Karangtengah Kidul, Margosari, Pengasih, Kulon Progo. Meski tergolong belum lama berdiri di lokasi tersebut, warung ini cepat menarik perhatian karena porsi yang disebut “brutal”.

Bowo (36), menantu Hadi yang mengelola warung, mengatakan Hadi sebelumnya berjualan mie ayam di Lampung selama sekitar 20 tahun. Pada 2018, keluarga menawarkan ruko untuk membuka usaha di Kulon Progo, dan warung ini berdiri pada 9 Juni 2018.

Ramainya warung ini disebut turut dipengaruhi ulasan di grup Facebook Info Mie Ayam Jogja yang dikelola Veta Mandra, serta promosi oleh Dadad Sesa lewat @javafoodie. Bowo juga menceritakan bahwa menu porsi jumbo awalnya bukan bagian dari menu, tetapi dibuat setelah ada pelanggan yang memesan porsi besar.

Dalam ulasan kontributor Mojok, Oktavolama Akbar, mie ayam ini digambarkan memiliki rasa gurih dan asin dengan tekstur mie kenyal serta potongan ayam yang legit. Warung ini disebut menjaga konsistensi kualitas agar tidak hanya ramai karena efek viral.

5. Mie Ayam Om Karman

Mie Ayam Om Karman menjadi salah satu tujuan pencinta mie ayam di Bantul. Meski pemiliknya berasal dari Wonogiri—yang umumnya identik dengan rasa gurih—warung ini justru menonjolkan rasa manis yang tetap berpadu dengan bumbu yang sedikit pedas.

Karman mengatakan ia melakukan adaptasi rasa agar sesuai dengan selera Yogyakarta. Ia menambahkan lada dan jahe untuk menyeimbangkan rasa manis sekaligus memberi sensasi pedas ringan.

Selain rasa, warung ini juga dikenal menyediakan beragam pendamping di meja, seperti bakso goreng, daun bawang, dan sambal yang melimpah. Warung Mie Ayam Om Karman dirintis sejak 1998, saat Karman merantau ke Bantul dan mencoba peruntungan berjualan mie ayam.

  • Catatan: Daftar ini disajikan tanpa pemeringkatan dan dimaksudkan sebagai rujukan awal untuk mengenal variasi mie ayam di Yogyakarta.