Kue putu masih menjadi salah satu jajanan tradisional Indonesia yang digemari hingga kini. Aroma pandan yang khas berpadu dengan isian gula merah cair kerap menjadi daya tarik utama bagi penikmat kuliner.
Jajanan ini umumnya dibuat dari tepung beras dengan isian gula merah, lalu dikukus dalam tabung bambu. Proses pengukusan tersebut menghasilkan bunyi khas yang selama ini identik dengan pedagang keliling yang berjualan di kawasan permukiman.
Dedi Kurniawan, pemerhati kuliner tradisional di Serang, Provinsi Banten, menilai kue putu memiliki nilai budaya yang kuat karena diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menekankan pentingnya menjaga keberadaan kue putu di tengah maraknya tren makanan modern.
Menurut Dedi, kesederhanaan justru menjadi kekuatan utama kue putu. “Kue putu itu sederhana, tapi punya karakter yang tidak tergantikan dari perpaduan tepung beras, gula merah, dan kelapa parut,” ujarnya pada Kamis, 9 April 2026.
Ia menambahkan, pengalaman menikmati kue putu tidak kalah penting dibanding rasanya. Bunyi uap yang keluar dari alat kukus bambu serta sensasi hangat saat disajikan dinilai mampu menghadirkan nostalgia mendalam bagi masyarakat.
Dedi juga menyebut sejumlah inovasi dilakukan agar kue putu tetap bertahan. Beberapa pelaku usaha mulai menghadirkan variasi rasa dan penyajian yang lebih modern tanpa menghilangkan esensi aslinya.
“Sekarang ada kreasi dengan topping kekinian, tapi tetap mempertahankan rasa dasar kue putu supaya identitasnya tidak hilang,” katanya.
Ia berharap generasi muda terus mengenal dan menghargai jajanan tradisional. Bagi Dedi, pelestarian kuliner lokal merupakan bagian penting dari upaya menjaga identitas budaya bangsa.
Dengan cita rasa khas dan akar sejarah yang kuat, kue putu bukan sekadar makanan, melainkan simbol kekayaan warisan kuliner Indonesia yang perlu dijaga untuk masa depan.

