BERITA TERKINI
Konjen Jepang Nilai Candi Muara Takus Berpotensi Jadi Magnet Wisata Sejarah di Riau

Konjen Jepang Nilai Candi Muara Takus Berpotensi Jadi Magnet Wisata Sejarah di Riau

Konsul Jenderal Jepang di Medan, Furugori Turu, menaruh perhatian khusus pada Candi Muara Takus di Kabupaten Kampar saat berkunjung ke Provinsi Riau. Dalam pertemuan dengan jajaran Pemerintah Provinsi Riau pada Senin (19/1/2026), ia menilai kekayaan sumber daya alam dan keragaman budaya Riau menyimpan potensi besar sebagai penggerak ekonomi baru di masa depan.

Furugori menyampaikan, sebelum datang ke Riau ia melakukan riset mandiri melalui internet. Dari penelusuran tersebut, ia menemukan sejumlah peninggalan sejarah yang dinilainya unik dan otentik, di antaranya Candi Muara Takus dan Istana Siak.

“Saya sempat mengeksplor beberapa keunikan daerah ini melalui internet sebelum ke sini. Saya melihat adanya Candi Muara Takus dan Istana Siak, bukti peninggalan sejarah yang mungkin tidak bisa kita temukan di daerah lain,” ujar Furugori.

Menurutnya, Candi Muara Takus memiliki nilai lebih sebagai destinasi wisata edukasi, khususnya bagi wisatawan asal Jepang. Situs itu disebut merepresentasikan jejak peradaban Buddha di Tanah Melayu yang jarang diketahui masyarakat internasional.

Ia juga berharap aksesibilitas dari ibu kota provinsi menuju lokasi sejarah tersebut terus ditingkatkan untuk menarik minat wisatawan asing. “Saya berharap aksesibilitas dari ibu kota provinsi ke lokasi sejarah ini terus ditingkatkan guna menarik minat turis asing. Candi Muara Takus merupakan destinasi wisata edukasi yang sangat potensial bagi wisatawan Jepang,” katanya.

Furugori menegaskan Candi Muara Takus tidak hanya dipandang sebagai objek wisata, melainkan bukti sejarah yang merekam perjalanan peradaban masa lampau. Ia berharap promosi dan pengelolaan yang lebih serius dapat mendorong wisatawan mancanegara berkunjung langsung ke Riau.

Secara historis, kompleks Candi Muara Takus diperkirakan berdiri pada rentang abad ke-4 hingga abad ke-11 Masehi, bertepatan dengan masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya. Situs ini memiliki pagar tembok utama berukuran sekitar 74 x 74 meter dari batu putih setinggi 80 sentimeter. Di luar area inti, terdapat pula tembok tanah seluas kurang lebih 1,5 x 1,5 kilometer yang membentang hingga tepian Sungai Kampar Kanan.

Sejak 2009, Candi Muara Takus telah dicalonkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Kompleks yang berada di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar, terdiri atas beberapa bangunan utama, yakni Candi Tua atau Candi Sulung, Candi Bungsu, Mahligai Stupa, dan Candi Palangka, dengan ciri arsitektur berbeda.

Ragam detail bangunan menjadi daya tarik tersendiri. Candi Mahligai memiliki 28 sisi dengan struktur yang terbagi atas bagian kaki, badan, dan atap. Candi Bungsu yang tersusun dari bata merah tampil kontras dengan Candi Tua yang berbentuk melingkar. Sementara itu, Candi Palangka yang menghadap ke utara diyakini berfungsi sebagai altar atau tempat ritual spiritual.

Bagi masyarakat Riau, Candi Muara Takus tidak hanya menjadi destinasi unggulan di Kabupaten Kampar, tetapi juga simbol kebinekaan budaya yang pernah tumbuh di Nusantara. Dengan pengelolaan serta dukungan infrastruktur yang memadai, situs bersejarah ini diharapkan mampu menarik wisatawan mancanegara sekaligus berkontribusi pada peningkatan ekonomi daerah.