BERITA TERKINI
Komisi VII DPR RI Dorong Kolaborasi Industri Jamu dan Wisata Wellness Saat Kunjungi Sido Muncul

Komisi VII DPR RI Dorong Kolaborasi Industri Jamu dan Wisata Wellness Saat Kunjungi Sido Muncul

Komisi VII DPR RI mendorong penguatan sinergi antara industri jamu nasional dan sektor pariwisata melalui pengembangan wisata wellness yang saat ini tengah digalakkan pemerintah. Dorongan itu disampaikan saat kunjungan kerja spesifik ke PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk di Semarang, Jumat (23/1/2026).

Ketua Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, menilai jamu tradisional memiliki posisi strategis untuk dikolaborasikan dengan program wellness Kementerian Pariwisata yang mengangkat nilai kesehatan berbasis kearifan lokal.

“Promosi wisata wellness saat ini menonjolkan unsur tradisional. Jamu menjadi bagian penting dan sangat potensial untuk dikolaborasikan,” ujar Evita.

Dalam kunjungan tersebut, Komisi VII juga mengapresiasi penerapan teknologi modern di Sido Muncul yang dinilai tidak berdampak pada pemutusan hubungan kerja (PHK). Menurut Evita, pengembangan teknologi justru mendorong lahirnya lini produk baru sekaligus menjaga keberlangsungan tenaga kerja.

Evita turut menyoroti akses produk Sido Muncul yang kini dapat diperoleh melalui platform digital, sehingga jangkauan konsumen dinilai semakin luas.

Selain penguatan kolaborasi jamu dan pariwisata, anggota Komisi VII DPR RI Erna mendorong inovasi kemasan ramah lingkungan. Ia menyebut hal itu sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang memperkuat penerapan Extended Producer Responsibility (EPR).

“Ke depan, produsen diharapkan ikut bertanggung jawab terhadap kemasan yang sulit didaur ulang. Ini penting untuk keberlanjutan industri,” kata Erna.

Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Dr. (HC) Irwan Hidayat, menyatakan dunia usaha membutuhkan pembinaan dan perlindungan dari pemerintah agar dapat tumbuh berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya membangun kepercayaan agar partisipasi dan investasi dalam negeri meningkat.

“Pengusaha perlu dibina dan dilindungi, bukan hanya diawasi. Kepercayaan harus dibangun agar partisipasi dan investasi dalam negeri meningkat,” ujarnya.

Irwan menjelaskan Sido Muncul selama ini mengandalkan bahan baku lokal dari petani binaan di Jawa Tengah melalui kemitraan jangka panjang. Menurutnya, pola tersebut menjaga kualitas bahan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Ia juga memaparkan perusahaan menerapkan standar farmasi dan kajian ilmiah untuk memastikan keamanan serta khasiat produk jamu. Irwan menegaskan jamu berperan sebagai pendamping kesehatan dan bukan pengganti obat.

Di sisi lain, Irwan menilai tantangan utama industri jamu saat ini bukan pada ketersediaan bahan baku, melainkan pembangunan pasar. Ia menyebut Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah, namun membutuhkan strategi untuk memperkuat permintaan.

“Bahan baku kita ada semua di Indonesia. Tantangannya tinggal strategi pemerintah membangun market,” kata Irwan.

Ia mengatakan Sido Muncul tengah menyiapkan dan mendorong peluncuran kumpulan informasi bahan-bahan alam Indonesia yang menjelaskan fungsi dan manfaat setiap tanaman herbal. Menurutnya, edukasi semacam itu dapat mendorong masyarakat memahami kegunaan bahan herbal sehingga permintaan meningkat.

“Kalau masyarakat tahu bahan ini untuk apa, mereka akan mencari. Kalau permintaan ada, petani bergerak, perajin jamu ikut hidup, dan industrinya jalan bersama-sama,” ujarnya.

Irwan berharap pemerintah berperan lebih aktif membangun pasar herbal nasional melalui edukasi dan penyebaran informasi yang masif. Ia menambahkan penguatan pasar diyakini dapat menciptakan efek berantai bagi petani, UMKM jamu, hingga industri besar tanpa melanggar regulasi.

“Pemerintah punya akses dan kekuatan lebih besar. Kalau bersama-sama menjelaskan produk ini untuk apa, itu akan sangat powerfull,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah Yully Ammylia, yang mewakili Gubernur Jawa Tengah, menyampaikan bahwa hingga November 2025 nilai ekspor jamu Jawa Tengah mencapai USD 24,6 juta atau sekitar 0,22% dari total ekspor nonmigas Jawa Tengah. Negara tujuan ekspor meliputi Jepang, Amerika Serikat, negara-negara Eropa, Timur Tengah, serta sejumlah negara di kawasan Asia.

Menurut Yully, produk yang diekspor antara lain jamu tradisional, ekstrak jahe, bumbu kunir, Tolak Angin, serta berbagai produk herbal lainnya. Meski kinerjanya dinilai positif, ia menyebut industri jamu di Jawa Tengah masih menghadapi tantangan, seperti kualitas dan kontinuitas bahan baku, persaingan dengan produk lokal maupun impor, pemasaran internasional yang efektif, serta standarisasi untuk memenuhi standar global.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Yully menilai diperlukan inovasi berkelanjutan dan penguatan kemitraan antara industri, pemerintah, dan akademisi.