Anggota Komisi VII DPR RI Erna Sari Dewi menyoroti penggunaan kemasan berbahan plastik multilayer pada produk industri jamu yang dinilai berpotensi mencemari lingkungan. Sorotan tersebut disampaikan usai kunjungan kerja spesifik Komisi VII DPR RI ke PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul di Semarang, Jumat, 23 Januari 2026.
Erna mengatakan, salah satu masukan utama dari kunjungan tersebut berkaitan dengan penggunaan kemasan produk. Ia menekankan pentingnya penguatan tanggung jawab produsen dalam pengelolaan kemasan untuk mendukung terwujudnya industri hijau dan ramah lingkungan.
Menurut Erna, pemerintah tengah mendorong penerapan green energy dan green industry, dengan target puncak pada 2029. Dalam konteks itu, ia menilai produsen memiliki tanggung jawab besar, termasuk melalui penerapan Extended Producer Responsibility (EPR) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 dan Peraturan Menteri LHK Nomor 75 Tahun 2019.
Ia menambahkan, penguatan EPR perlu didukung riset dan pengembangan agar kemasan tidak hanya aman bagi kualitas produk, tetapi juga tidak meninggalkan limbah yang sulit dikelola. Erna menyebut masih ditemukan kemasan yang sulit atau tidak bisa didaur ulang, serta dikhawatirkan dapat terfragmentasi ketika terkena panas, yang berpotensi berdampak pada lingkungan dan kualitas produk saat sampai ke konsumen.
Dalam kunjungan tersebut, Erna mengapresiasi langkah PT Sido Muncul yang mulai memikirkan transisi kemasan ramah lingkungan. Salah satunya adalah rencana penggunaan botol kaca untuk beberapa produk unggulan, seperti Tolak Angin. Ia menyebut rencana peralihan dari plastik multilayer ke botol kaca sebagai bentuk dukungan industri terhadap upaya mewujudkan green industry.
Erna menegaskan, masukan terkait kemasan berkelanjutan tidak hanya ditujukan kepada satu perusahaan, melainkan kepada seluruh pelaku industri. Ia meminta produsen mulai memikirkan solusi kemasan yang lebih berkelanjutan untuk mengurangi sampah buangan yang mencemari lingkungan.
Terkait potensi industri jamu di Jawa Tengah, Erna menyatakan optimistis daerah tersebut dapat melahirkan lebih banyak produsen jamu berorientasi ekspor. Ia menilai ketersediaan bahan baku jamu di Jawa Tengah didukung kekayaan sumber daya alam, serta dikelola petani lokal yang bahkan dibina langsung oleh produsen.

