Komisi VII DPR RI mengapresiasi perkembangan industri farmasi tradisional yang dinilai mampu bertahan dengan mengoptimalkan potensi bahan baku dari dalam negeri. Penilaian tersebut disampaikan saat kunjungan kerja ke pabrik PT Sido Muncul di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Jumat.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty mengatakan industri farmasi tradisional tidak mengalami kesulitan dalam memperoleh bahan baku. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi bahan baku jamu yang sangat besar, dengan tantangan yang lebih menonjol pada aspek pemasaran.
“Potensi bahan baku untuk industri jamu di Indonesia ini luar biasa, tinggal bagaimana pemasarannya,” kata Evita.
Ia menambahkan, kendala pemenuhan bahan baku justru lebih banyak dialami industri farmasi kimia. Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Komisi VII DPR juga menginventarisasi berbagai persoalan yang dihadapi industri farmasi.
Evita turut menyoroti operasional pabrik Sido Muncul yang dinilainya sudah canggih dan terjamin higienitasnya. Ia juga menyebut perusahaan tersebut tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) meski sebagian pekerjaan pegawai telah digantikan oleh mesin.
Setelah melakukan peninjauan dan pemetaan persoalan di industri farmasi tradisional, Komisi VII DPR berencana melanjutkan kunjungan ke industri farmasi kimia untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi sektor tersebut.
Sementara itu, Direktur PT Sido Muncul Irwan Hidayat menyatakan industri jamu dibangun dengan standardisasi seperti industri farmasi. Ia juga meminta pemerintah memberikan pembinaan sekaligus perlindungan kepada pelaku industri farmasi jamu dalam menjalankan usahanya.

