BERITA TERKINI
Kementan Perkirakan Produksi Daging Sapi 2025–2028 Masih Defisit, Impor Tetap Dibutuhkan

Kementan Perkirakan Produksi Daging Sapi 2025–2028 Masih Defisit, Impor Tetap Dibutuhkan

Kementerian Pertanian (Kementan) memperkirakan produksi daging sapi dalam bentuk meat yield pada 2025 mencapai 473,9 ribu ton dan pada 2026 sebesar 472,8 ribu ton. Angka itu dihitung berdasarkan estimasi produksi daging dalam bentuk karkas dan jeroan yang kemudian dikonversi ke meat yield.

Namun, produksi tersebut dinilai belum mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Pada 2024, produksi daging sapi dan kerbau diperkirakan mengalami defisit 263,4 ribu ton.

Dalam laporan Kementan disebutkan, pada 2025 estimasi produksi daging sapi potong (meat yield) sebesar 473,9 ribu ton ditambah daging kerbau sekitar 17,8 ribu ton, sehingga total penyediaan menjadi 491,7 ribu ton. Sementara itu, konsumsi nasional diestimasi mencapai 724,2 ribu ton, sehingga masih terjadi defisit daging sebesar 236,5 ribu ton.

Kementan juga memperkirakan defisit masih berlanjut pada tahun-tahun berikutnya. Pada 2026, defisit diestimasi mencapai 296,4 ribu ton, kemudian 247,5 ribu ton pada 2027, dan 239,7 ribu ton pada 2028.

Untuk mengamankan pasokan, laporan tersebut menyebut defisit perlu ditutup melalui impor sapi potong bakalan serta impor daging dan jeroan beku, disertai program peningkatan populasi sapi potong dan kerbau. “Secara umum untuk memenuhi kebutuhan daging sapi nasional, masih membutuhkan sekitar 30-40% disuplai oleh daging impor sapi bakalan,” tulis Kementan.

Sepanjang 2020–2024, volume impor daging sapi Indonesia disebut berkisar antara 138 ribu ton hingga 307 ribu ton. Pada 2023, impor daging mencapai 307 ribu ton dengan nilai impor sebesar US$ 1 miliar.

Kementan mencatat, jika produksi daging dari pemotongan sapi hidup dibandingkan dengan volume impor, maka rata-rata volume impor daging dalam 10 tahun terakhir sebesar 38%. Impor dalam jumlah besar dinilai berpotensi menyedot devisa negara. Selama 2022–2023, devisa yang dibutuhkan untuk impor daging disebut berada pada kisaran US$ 1–1,06 miliar.

Menurut laporan tersebut, Indonesia paling banyak mengimpor daging dan jeroan dari Australia. Pada 2023, volume impor daging dan jeroan lembu dari Australia mencapai 157,3 ribu ton atau berkontribusi 51,1%.

Negara pemasok berikutnya adalah India sebesar 112,61 ribu ton (36,6%), Amerika Serikat 19,42 ribu ton (6,3%), Selandia Baru 12,95 ribu ton (4,2%), dan Brasil 2,38 ribu ton (0,8%).

Kementan menyimpulkan keseimbangan produksi dan konsumsi daging sapi di Indonesia masih mengalami defisit pada periode 2025 hingga 2029. Untuk menutup kekurangan tersebut, pemerintah disebut melakukan impor daging dan jeroan beku.