Pedagang bakso di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, terancam tidak bisa berjualan akibat kelangkaan pasokan daging sapi. Kondisi ini dipicu aksi mogok pedagang daging sapi yang berlangsung sejak Kamis (22/1) hingga Sabtu (24/1).
Ketua Umum Paguyuban Pedagang Mi dan Bakso (Papmiso) Bambang Haryanto mengatakan dampak mogok sudah terasa sejak hari pertama. Sejumlah pedagang bakso yang biasanya datang ke pasar untuk menggiling daging terpaksa pulang tanpa membawa bahan baku.
Menurut Bambang, kesulitan mendapatkan daging segar membuat pedagang tidak bisa memproduksi bakso. Ia menilai, ketika stok bakso habis, pedagang otomatis berhenti berjualan.
Bambang menyebut jumlah anggota Papmiso di Kabupaten Bekasi mencapai lebih dari 2.000 pedagang. Jika seluruhnya berhenti beroperasi, potensi kerugian dari perputaran usaha diperkirakan mencapai Rp2 miliar per hari. Sementara secara nasional, dari sekitar 20 ribu pedagang mi dan bakso, potensi kerugian disebut dapat mencapai Rp20 miliar per hari.
Ia juga mengkhawatirkan dampak sosial dan ekonomi bila mogok berlangsung penuh selama tiga hari. Menurutnya, pedagang berada dalam posisi sulit antara kehilangan pemasukan atau tetap menanggung biaya operasional, termasuk kewajiban terhadap karyawan.
Bambang turut menyinggung janji Presiden Prabowo Subianto pada Pilpres 2024 untuk membenahi tata kelola niaga daging sapi demi menjaga stabilitas harga. Ia berharap pemerintah lebih responsif menangani persoalan harga daging sapi yang dinilai terus meningkat.
Di sisi lain, Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) Kabupaten Bekasi, Sadimin, menyatakan mogok berjualan selama tiga hari merupakan keputusan pengurus pusat. Aksi tersebut, kata dia, dilakukan dengan harapan pemerintah menurunkan dan menstabilkan harga daging sapi.
Sadimin menjelaskan harga sapi hidup saat ini mencapai Rp55 ribu per kilogram. Kondisi itu berdampak pada harga jual daging di tingkat eceran yang disebut sudah menembus lebih dari Rp150 ribu per kilogram, padahal harga normal berada di kisaran Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram.
Ia menambahkan, ketika harga tinggi, daya beli masyarakat ikut menurun. Di sisi pedagang, harga jual daging harus berada di atas Rp140 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram agar tidak merugi.

