BERITA TERKINI
Jalur Teh Kuda Kuno di Yunnan Bertransformasi Jadi Destinasi Slow Travel

Jalur Teh Kuda Kuno di Yunnan Bertransformasi Jadi Destinasi Slow Travel

Kunming — Jalur Teh Kuda kuno di Provinsi Yunnan, China barat daya, kembali menarik perhatian wisatawan seiring berkembangnya tren slow travel atau perjalanan yang lebih lambat dan mendalam. Rute perdagangan berusia seribu tahun yang dahulu menghubungkan pegunungan teh di China barat daya dengan Dataran Tinggi Tibet dan wilayah lain itu kini berubah menjadi ruang untuk menyelami budaya, kuliner, hingga kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.

Antonio, warga Spanyol yang telah bertahun-tahun tinggal di China, mengaku ketertarikannya pada dunia teh tumbuh saat menjelajahi Yunnan. Pada hari libur, ia kerap mengajak wisatawan Eropa menyusuri jalur tersebut untuk melihat persimpangan budaya teh dan kopi yang berkembang di sepanjang rute bersejarah itu.

Selama berabad-abad, Jalur Teh Kuda dikenal sebagai koridor karavan yang memperdagangkan teh dengan kuda. Kini, meski bunyi lonceng karavan telah lama menghilang, jejak tradisi itu masih terasa—termasuk dalam kuliner. Di sejumlah daerah penghasil teh di Yunnan, restoran menyajikan “Hidangan Karavan Baru” seperti iga berlapis kopi dan daging sapi beraroma teh, yang memadukan sejarah jalur dagang dengan kreativitas kuliner masa kini.

Di Wilayah Otonom Etnis Hani dan Yi Ning’er, yang menjadi titik awal banyak jalur kuno, wisata berbasis pengalaman turut berkembang. Qu Shishuai, wisatawan asal Hangzhou di China timur, menghabiskan liburannya di sanggar pembuatan teh tradisional untuk mempelajari proses pembuatan teh dari pelayuan, penggulungan, pemadatan, hingga pengeringan. “Saya tidak hanya mempelajari sebuah keterampilan, tetapi juga membawa pulang kue teh buatan saya sendiri,” ujarnya.

Lebih ke utara, di Kota Kuno Shaxi, Dali, jejak tapal kuda masih tampak di jembatan batu. Namun, suasana kawasan itu kini berpadu dengan sentuhan modern, termasuk toko buku di bekas lumbung padi yang dialihfungsikan, tempat aroma kopi segar hadir di tengah alunan lagu rakyat tradisional.

Pengakuan internasional terhadap lanskap teh Yunnan juga meningkat setelah Lanskap Budaya Hutan Teh Kuno Gunung Jingmai di Pu’er ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pertama yang bertema teh pada 2023. Di Gunung Jingmai, teh menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari—digunakan dalam berbagai kegiatan, dari pesta pernikahan hingga penyelesaian konflik.

Akar budaya yang kuat itu menarik wisatawan yang tidak sekadar singgah, melainkan tinggal lebih lama. Sejumlah pengunjung menetap selama berbulan-bulan, memetik teh pada pagi hari dan menikmati pemandangan lautan awan dari kafe-kafe di lereng bukit pada sore hari.

Data menunjukkan, dari Januari hingga November 2025, Yunnan menerima lebih dari 4,98 juta wisatawan jangka panjang, meningkat hampir 55 persen secara tahunan. Pariwisata berbasis hunian di provinsi tersebut disebut telah menghidupkan kembali lebih dari 800 desa, menciptakan sekitar 63.500 lapangan kerja lokal, serta menaikkan rata-rata pendapatan bulanan rumah tangga petani yang terlibat lebih dari 2.700 yuan (1 yuan = Rp2.435).

Jalur Teh Kuda kuno juga kian menarik wisatawan mancanegara, seiring perluasan kebijakan bebas visa China yang mendorong lonjakan pengunjung internasional ke desa-desa terpencil. Menyesuaikan selera pengunjung, Antonio mengamati warga setempat mulai menambahkan menu sarapan ala Barat dalam sajian yang sebelumnya lekat dengan tradisi minum teh.

Di tengah perubahan itu, Jalur Teh Kuda tetap memelihara kisah tentang keterhubungan—mengaitkan masa lalu dengan masa kini, serta mempertemukan China dengan dunia melalui perjalanan yang lebih pelan dan berlapis makna.