Hue mendapat sorotan dari media Amerika Serikat yang menyebut kota ini sebagai “ibu kota kuliner vegetarian” Vietnam. Dalam ulasannya, National Geographic menggambarkan Hue sebagai kota yang menghidupkan kembali warisan kuliner khas yang pernah hadir di meja makan para kaisar, di tengah benteng-benteng kuno di tepi Sungai Perfume.
Dari hidangan vegetarian kerajaan yang rumit hingga restoran berbasis tumbuhan modern, Hue dinilai kian menarik bagi wisatawan yang mencari pengalaman kuliner tanpa daging. Sejarah mencatat kemewahan dinasti terakhir Vietnam, termasuk jamuan kerajaan yang dapat menyajikan puluhan hidangan sekaligus, mendorong para koki istana untuk terus berinovasi.
Warisan tersebut, menurut laporan itu, masih terasa dalam kehidupan sehari-hari warga Hue hingga kini. Media Amerika itu juga menilai, meski masih ada perdebatan apakah Hue layak disebut ibu kota kuliner Vietnam secara umum, kota ini dianggap menonjol sebagai pusat kuliner vegetarian di negara tersebut.
Gambaran suasana kota pun disorot lewat momen senja ketika atap genteng emas Benteng Kekaisaran berkilauan diterpa matahari sore. Di seberang Sungai Perfume, jalan pejalan kaki dan pasar malam mulai ramai. Aroma serai, rempah-rempah, dan bumbu disebut memenuhi udara, berpadu dengan percakapan pengunjung serta dentingan piring yang menciptakan suasana meriah.
Kunjungan itu bertepatan dengan hari pertama bulan lunar, salah satu hari ketika umat Buddha menjalankan diet vegetarian. Pada momen tersebut, restoran di berbagai penjuru kota serentak menyajikan menu tanpa daging dengan ragam hidangan tradisional.
Pengunjung dapat menemukan banh xeo vegetarian yang renyah, panekuk gurih Vietnam dengan isian jamur, sayuran, dan daun perilla. Ada pula nangka muda rebus, hidangan sederhana yang disebut khas dalam masakan Hue. Seorang turis bahkan menyebut banh xeo sebagai “pancake bahagia”, bukan hanya karena bentuknya menyerupai senyuman, tetapi juga karena membuat orang yang memakannya merasa senang.
Di Pasar Dong Ba, pasar paling terkenal di Hue, kios-kios berisi sayuran, buah-buahan, dan rempah lokal menjadi bagian dari denyut kuliner kota. Pare, lengkuas, biji teratai, paprika hijau, serta rempah khas Vietnam Tengah lainnya disebut mudah ditemui. Media itu menilai kebiasaan warga Hue berbelanja ke pasar setiap hari untuk bahan segar turut menjaga kekayaan rasa dan kesegaran kuliner setempat.
Dari pasar, pengunjung dapat membawa bahan seperti wortel, jamur tiram, bunga pisang kering, daun jeruk nipis, hingga buah ara hijau—yang disebut sebagai salah satu makanan khas Hue—untuk diolah di An Nhien Garden, restoran vegetarian yang populer. Di tempat ini, koki memperkenalkan filosofi kuliner berbasis bahan nabati dan produk organik lokal.
Melalui hidangan yang disiapkan dengan cermat, pengunjung disebut dapat merasakan pertemuan antara tradisi kerajaan dan tren gaya hidup sehat modern. Kuliner vegetarian Hue digambarkan bukan sekadar mengganti daging dan ikan dengan sayuran, melainkan sebuah seni yang menggabungkan cita rasa, warna, serta kecanggihan penyajian.
Seiring meningkatnya perhatian pada pariwisata berbasis pengalaman dan gaya hidup berkelanjutan, Hue dinilai menemukan ruang baru untuk menegaskan identitasnya. Lebih dari kota warisan dan sejarah, Hue juga melestarikan tradisi kuliner vegetarian yang unik, di mana setiap hidangan menyimpan kisah budaya, kepercayaan, dan kreativitas yang diwariskan lintas generasi.

