Hidangan Khas Lebaran: Penanda Silaturahmi, Tradisi, dan Makna di Balik Rasa

Hidangan Khas Lebaran: Penanda Silaturahmi, Tradisi, dan Makna di Balik Rasa

Dalam setiap hari besar, makanan dan minuman kerap menjadi bagian penting yang dipersiapkan untuk menyemarakkan perayaan. Kehadiran suguhan di ruang tamu hingga hidangan utama untuk disantap bersama membuat suasana berkumpul terasa lebih lengkap, termasuk pada perayaan Idul Fitri.

Saat Lebaran, aneka camilan seperti permen dan kudapan ringan biasanya disajikan untuk menyambut tamu. Di saat yang sama, keluarga juga menyiapkan makanan utama yang dinikmati bersama sembari bersilaturahmi.

Hidangan Lebaran tetap direncanakan

Persiapan sajian Lebaran umumnya dilakukan jauh hari. Bahkan pada awal pandemi, ketika aktivitas dan mobilitas dibatasi, hidangan Idul Fitri tetap diupayakan hadir meski perayaan dilakukan secara lebih sederhana.

Berdasarkan hasil jajak pendapat Kompas pada 2020, sebanyak 72,6 persen responden menyebutkan tetap merencanakan menyajikan hidangan Lebaran saat Idul Fitri 2020. Meski tidak bisa berkumpul lengkap dengan keluarga di perantauan, sajian kuliner dinilai membantu menghadirkan suasana Idul Fitri yang lebih meriah dan sedikit mengobati rindu kampung halaman.

Dari kue kering hingga menu khas daerah

Beragam makanan khas yang identik dengan Idul Fitri hampir selalu hadir di banyak rumah, baik yang merayakan maupun tidak. Kue-kue kering menjadi suguhan yang kerap dianggap “wajib” di meja tamu.

  • Kue nastar
  • Kue putri salju
  • Kue kastengel
  • Kue lidah kucing
  • Keripik dan camilan daerah seperti kembang goyang, rempeyek, dodol Betawi, kue satru, dan lainnya

Untuk makanan utama, ketupat atau lontong dengan opor ayam kerap disebut sebagai menu yang paling lekat dengan Lebaran di Indonesia. Di berbagai daerah, hidangan khas setempat turut meramaikan perayaan.

Di Palembang, misalnya, pempek lazim disajikan saat Idul Fitri. Makanan yang merupakan perpaduan budaya Tionghoa dan Melayu ini sudah menjadi santapan sehari-hari warga Palembang, sehingga pada hari raya pun ada semacam kewajiban untuk menyediakannya. Bahkan, disebut ada gengsi tersendiri apabila pada hari raya tidak menyajikan pempek.

Di tempat lain, ada pula makanan yang hanya muncul pada Idul Fitri dan hari besar Islam. Contohnya Geseng Bangsong di Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, Jawa Timur. Masakan berbahan daging angsa ini biasa dimasak khusus saat Idul Fitri dan perayaan hari besar Islam lainnya.

Sarat makna di balik hidangan

Hidangan Lebaran tidak hanya menjadi pelengkap perayaan, tetapi juga menyimpan pesan tradisi dan simbol doa serta harapan. Ketupat atau kupat, misalnya, kerap dimaknai melalui akronim dalam bahasa Jawa: ngaku lepat dan laku papat.

  • Ngaku lepat berarti mengakui kesalahan, yang diwujudkan dalam tradisi sungkeman atau bersimpuh di hadapan orang tua untuk meminta maaf.
  • Laku papat berarti empat tindakan: lebaran (berakhirnya puasa), luberan (melimpah sebagai ajaran untuk berbagi), leburan (dosa dan kesalahan melebur), dan laburan (putih bersih sebagai harapan menjaga kesucian lahir dan batin).

Makna juga tercermin dari proses pembuatan sejumlah makanan khas. Lemang, makanan khas masyarakat adat Lampung di Kabupaten Lampung Barat, disebut menjadi simbol ungkapan syukur atas kemenangan setelah berpuasa, sekaligus simbol kebersamaan dan semangat berbagi. Prosesnya melibatkan banyak orang: keluarga-keluarga saling menyumbang bahan baku dan bergotong royong. Kaum lelaki mengumpulkan bambu dan kayu bakar, sementara kaum perempuan menyiapkan ketan putih atau hitam serta kelapa untuk santan. Setelah matang, lemang dibagi rata dan dinikmati bersama saat Lebaran.

Pesan kebersamaan juga hadir dalam tradisi Andil Kerbau pada masyarakat Betawi. Menjelang Idul Fitri, warga menyembelih kerbau yang dibeli dari hasil iuran, lalu dagingnya dimasak menjadi semur. Setiap warga memperoleh jatah daging. Tradisi ini disebut penting; bahkan terdapat kisah bahwa dahulu orang Betawi rela menjual tanah untuk membeli kerbau.

Pemilihan kerbau juga dikaitkan dengan penghormatan kepada warga penganut Hindu. Pada masa ketika kehidupan masyarakat Betawi masih dipengaruhi budaya Hindu, khususnya Hindu-Jawa, sapi dipandang sebagai hewan suci yang tidak boleh dimakan, sehingga kerbau dipilih sebagai pengganti.

Menjaga tradisi di tengah perubahan

Nilai budaya yang tersirat dalam hidangan Lebaran menambah makna Idul Fitri, karena rasa masakan, nuansa kebersamaan, dan tradisi memasak berpadu dalam satu perayaan. Namun, sejumlah tradisi pembuatan dan pemaknaan hidangan Lebaran disebut kian tergantikan budaya baru. Kemudahan memesan makanan membuat tradisi memasak bersama berangsur pudar, sementara sebagian perantau dinilai mulai kurang mengenal nilai-nilai budaya daerah asalnya.

Meski demikian, masakan tradisional yang tersaji saat Idul Fitri tetap menghadirkan kenangan tersendiri. Kerinduan pada momen menyantap hidangan khas Lebaran—terutama di daerah asal—kerap menjadi bagian dari perayaan itu sendiri.

Dengan pelonggaran pengetatan aktivitas seiring membaiknya situasi pandemi, perayaan Idul Fitri kembali lebih semarak. Masyarakat pun lebih leluasa bersilaturahmi bersama keluarga sembari menikmati sajian khas Lebaran, yang sejak lama menjadi simbol kebersamaan dan persaudaraan.